Waktu berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Anak kecil yang dulu berlari tanpa alas kaki di pematang sawah kini telah tumbuh menjadi seorang remaja. Tubuh Arpan mulai meninggi. Kulitnya tetap hitam manis, rambutnya lurus seperti ayahnya, dan sorot matanya masih menyimpan rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia.
Ia telah menyelesaikan sekolah dasar.
Kini, Arpan melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampung.
Berbeda dengan masa SD, perjalanan menuju SMP terasa lebih ramai. Murid-murid datang dari beberapa kampung yang berbeda. Arpan bertemu dengan lebih banyak teman, lebih banyak cerita, dan tentu saja lebih banyak pengaruh.
Bapak Taol mengantar Arpan di hari pertama sekolah.
Sebelum berpisah, beliau menepuk pelan bahu putranya.
"Jadilah anak yang baik."
Arpan mengangguk singkat.
"Iya, Yah."
Ia benar-benar berniat menjadi anak yang baik.
Setidaknya pagi itu.
Hari-hari pertama di SMP berjalan biasa saja.
Arpan masih menjadi anak yang pendiam di dalam kelas. Ia tidak banyak bicara, tetapi juga tidak pernah kesulitan mendapatkan teman.
Kepribadiannya yang mudah bergaul membuat banyak orang senang berada di dekatnya.
Terlebih lagi, Arpan cukup berbakat dalam olahraga.
Setiap jam istirahat, lapangan sekolah hampir selalu menjadi tempat yang paling sering ia datangi.
Sepak bola.
Voli.
Lari.
Apa pun yang melibatkan gerak, Arpan selalu ikut.
Guru olahraga bahkan mulai mengenali namanya.
"Kalau urusan olahraga, panggil saja Arpan."
Namun seperti masa SD, semangat itu tidak pernah berpindah ke ruang kelas.
Nilai Matematikanya masih menjadi yang paling baik dibanding mata pelajaran lain.
Sayangnya, nilai itu tidak cukup menutupi pelajaran-pelajaran lain yang mulai menurun karena Arpan semakin jarang belajar di rumah.
Malam hari yang seharusnya digunakan untuk mengulang pelajaran lebih sering dihabiskan berkumpul dengan teman-temannya.
Suatu sore sepulang sekolah, Arpan duduk bersama beberapa anak yang usianya lebih tua di sebuah pondok kecil di pinggir sawah.
Mereka berbicara tentang banyak hal.
Tentang bola.
Tentang panen.
Tentang gadis-gadis yang mulai mereka sukai.
Sesekali tawa mereka pecah memenuhi sore.
Di tengah obrolan itu, salah seorang anak mengeluarkan sebungkus rokok dari saku bajunya.
"Asap?"
Arpan menggeleng.
"Belum pernah."
"Masa laki-laki belum pernah merokok?"
Kalimat itu disambut tawa yang lain.
Arpan hanya tersenyum canggung.
Bukan karena ia ingin merokok.
Ia hanya tidak ingin menjadi satu-satunya yang dianggap pengecut.
Rokok itu berpindah ke tangannya.
Ia memperhatikannya beberapa saat.
Lalu menirukan cara temannya mengisap.
Baru satu hisapan.
Arpan langsung batuk keras.
Teman-temannya tertawa.
"Tuh kan... masih bocah."
Arpan ikut tertawa sambil mengusap matanya yang berair.
Meski batuknya tak berhenti, ada satu hal yang ia rasakan.
Ia diterima.
Tak ada yang menyadari bahwa sebatang rokok pertama itu akan menjadi awal dari kebiasaan yang menemaninya bertahun-tahun.
Beberapa bulan kemudian, Arpan mulai sering diajak berkumpul setelah senja.
Bukan lagi sekadar bermain.
Mereka duduk melingkar di sebuah pondok kebun milik salah satu warga.
Di tengah lingkaran itu terdapat sebuah kendi kecil berisi tuak.
Minuman tradisional yang bagi sebagian orang dewasa di kampung sudah menjadi hal biasa.
"Minum sikit aja."
Arpan memandang gelas kecil itu.
Ia ragu.
"Tak apa. Biar hangat badan."
Teman-temannya meyakinkan.
Karena rasa penasaran lebih besar daripada keraguannya, Arpan akhirnya mencoba.
Rasanya asing.
Asam.
Sedikit pahit.
Ia meringis.
Teman-temannya kembali tertawa.
"Lama-lama biasa."