"Rahim yang Hampir Melepaskanku"

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #6

"Ayah akan terus membuka pintu, selama kamu masih mau pulang."

BAB 6

"Ayah akan terus membuka pintu, selama kamu masih mau pulang."

"Kadang orang tua memindahkan anaknya ke tempat yang baru, bukan karena tempat lama buruk, melainkan karena mereka masih percaya bahwa masa depan anaknya bisa berubah."

Tahun demi tahun berlalu.

Arpan kini telah memasuki bangku sekolah menengah atas. Tubuhnya semakin tegap, wajahnya mulai menunjukkan garis-garis seorang pemuda, tetapi satu hal yang belum berubah adalah sifatnya yang sulit diatur.

Jika saat SMP ia masih sesekali masuk kelas, kini membolos sudah menjadi kebiasaan.

Awalnya hanya satu hari.

Lalu dua hari.

Kemudian semakin sering hingga guru-guru mulai hafal dengan bangku kosong yang selalu ditinggalkannya.

Teman-teman sekelas bahkan sering bercanda,

"Kalau Arpan datang sekolah hari ini, berarti besok dia pasti hilang lagi."

Arpan hanya tertawa mendengarnya.

Baginya, sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan.

Dunia di luar pagar sekolah terasa jauh lebih menarik.

Terlebih jika di kampung sedang ada mangalap boru- prosesi adat Batak ketika rombongan keluarga laki-laki datang menjemput mempelai perempuan menuju pesta pernikahan.

Bagi sebagian orang, acara itu adalah bagian dari adat.

Namun bagi Arpan dan sahabat-sahabatnya, itu adalah hiburan.

Setiap kali terdengar kabar ada pesta di kampung sekitar, mereka sudah saling memberi isyarat sejak pagi.

"Pan..."

Seorang sahabatnya berbisik dari bangku belakang.

"Hari ini ada mangalap boru di kampung sebelah."

Arpan menoleh.

"Jam berapa?"

"Pagi ini."

Tanpa berpikir panjang, senyum Arpan mengembang.

Bel berbunyi.

Guru mulai masuk ke kelas.

Namun beberapa menit kemudian, Arpan dan dua sahabatnya sudah menghilang dari lingkungan sekolah.

Mereka berjalan kaki menyusuri jalan kampung, tertawa sepanjang perjalanan, lalu berbaur dengan keramaian pesta seolah-olah memang diundang.

Bagi Arpan, melihat iring-iringan keluarga, mendengar bunyi gondang Batak, menyaksikan orang-orang menari tortor, dan menikmati hidangan pesta jauh lebih menyenangkan daripada duduk berjam-jam mendengarkan pelajaran di kelas.

Hari itu berlalu begitu cepat.

Begitu pula hari-hari berikutnya.

Bolos sekolah tidak lagi dilakukan hanya ketika ada pesta.

Kadang mereka pergi bermain bola.

Kadang duduk berjam-jam di warung kopi.

Kadang hanya berkeliling kampung tanpa tujuan.

Semakin lama, ruang kelas terasa semakin asing bagi Arpan.

Sementara nama Arpan semakin akrab di ruang guru.

Guru-guru berkali-kali menegur.

Beberapa kali surat panggilan kembali dikirim kepada orang tuanya.

Sarni yang dahulu hanya sesekali menangis kini mulai sering terbangun pada malam hari.

Ia duduk di beranda rumah sambil memandangi jalan yang gelap.

Dalam hati ia terus bertanya,

"Di mana lagi anakku sekarang?"

Bapak Taol masih setenang biasanya.

Namun ketenangan itu bukan berarti beliau tidak kecewa.

Beliau hanya memilih menyimpan semuanya di dalam hati.

Suatu pagi, kepala sekolah meminta Bapak Taol datang ke sekolah.

Ruang kepala sekolah terasa sunyi.

Di atas meja tergeletak buku absensi yang hampir dipenuhi tanda kosong pada nama Arpan.

Kepala sekolah menarik napas panjang.

"Pak Taol..."

"Sebenarnya kami sudah berusaha."

"Guru-guru juga sudah berkali-kali membimbing Arpan."

"Tapi kehadirannya semakin sedikit."

"Nilainya tidak memenuhi syarat."

"Dan pelanggaran disiplin terus berulang."

Kalimat berikutnya terasa begitu berat.

"Kami tidak bisa lagi mempertahankan Arpan di sekolah ini."

Ruangan mendadak hening.

Bapak Taol hanya menganggukkan kepala perlahan.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada perdebatan.

Beliau mengucapkan terima kasih, lalu berdiri meninggalkan ruangan.

Di luar sekolah, Arpan sudah menunggu.

Ia berdiri sambil menundukkan kepala.

Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut ayahnya.

Sepanjang perjalanan pulang, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar.

Diam itu jauh lebih menyakitkan daripada bentakan.

Sesampainya di rumah, Sarni langsung memahami semuanya hanya dari tatapan suaminya.

Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan.

Bukan karena Arpan dikeluarkan dari sekolah.

Melainkan karena ia mulai takut kehilangan arah hidup putranya.

Malam itu, rumah yang biasanya dipenuhi suara anak-anak terasa begitu sunyi.

Setelah salat Isya, Bapak Taol memanggil Arpan.

Beliau mempersilakannya duduk di samping.

"Pan."

Arpan menjawab lirih.

"Iya, Yah."

"Ayah tidak marah."

Kalimat itu justru membuat dada Arpan terasa sesak.

"Ayah hanya ingin tahu..."

"Sebenarnya apa yang kamu cari sampai sekolah tidak lagi penting bagimu?"

Arpan terdiam.

Ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Yang ia tahu hanya satu.

Ia selalu merasa lebih bahagia ketika bersama teman-temannya.

Bapak Taol memandang putranya cukup lama.

Kemudian berkata dengan suara yang tenang,

Beberapa minggu kemudian, keputusan besar pun diambil.

Arpan tidak lagi bersekolah di kampung.

Ia akan melanjutkan sekolah di kota dan tinggal bersama keluarga.

Bapak Taol dan Sarni percaya bahwa lingkungan baru akan mengubah putra mereka.

Mereka berharap, jarak dari teman-teman lamanya dapat membawa Arpan kembali menemukan arah hidupnya.

Namun harapan manusia tidak selalu berjalan seiring dengan kenyataan.

Kota yang mereka anggap sebagai awal yang baru justru mempertemukan Arpan dengan dunia yang jauh lebih bebas.

Dan tanpa mereka sadari...

kenakalan Arpan baru saja memasuki babak yang lebih rumit.

Lihat selengkapnya