"Rahim yang Hampir Melepaskanku"

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #7

Ryiani, cinta pertama.


Hari-hari Arpan di kota masih dipenuhi dengan kebiasaan lamanya.

Sekolah tetap menjadi tempat yang ia datangi sekadarnya.

Nilai-nilainya tidak banyak berubah.

Guru-guru masih sering menggelengkan kepala melihat tingkahnya.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah sejak ia kecil.

Kecintaannya pada olahraga.

Kalau pelajaran lain mampu membuat Arpan mengantuk, lapangan olahraga justru membuat matanya berbinar.

Sepulang sekolah, ia hampir tidak pernah langsung kembali ke kamar kos.

Langkahnya selalu menuju lapangan voli yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Di sana, para pemuda dan pemudi berkumpul setiap sore.

Ada yang sekadar menonton.

Ada yang berlatih.

Ada pula yang datang hanya untuk bersenda gurau.

Bagi Arpan, lapangan itu menjadi tempat paling menyenangkan setelah rumah.

Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, Arpan datang seperti biasa.

Namun hari itu ada sesuatu yang berbeda.

Di salah satu sisi lapangan berdiri seorang gadis yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Kulitnya cerah.

Rambutnya diikat sederhana.

Tubuhnya tegap.

Tatapannya penuh percaya diri.

Ketika permainan dimulai, gadis itu melompat tinggi.

Tangannya memukul bola dengan keras hingga lawan tak mampu mengembalikannya.

Semua orang bertepuk tangan.

Arpan terpaku.

Bukan karena kecantikannya semata.

Tetapi karena cara gadis itu bermain.

Ia begitu berani.

Begitu tangguh.

Dan begitu hidup.

"Itu siapa?" tanya Arpan kepada temannya.

"Ryiani."

"Anak mana?"

"Bukan orang sini."

Arpan mengangguk pelan.

Namun sejak hari itu, matanya selalu mencari sosok Ryiani setiap kali datang ke lapangan.

Hari demi hari berlalu.

Mereka mulai saling mengenal.

Awalnya hanya saling menyapa.

Kemudian saling bercanda.

Lalu mulai sering berada dalam satu tim ketika latihan.

Ryiani bukan perempuan yang banyak bicara.

Namun ia selalu ramah kepada siapa pun.

Yang membuat Arpan semakin kagum adalah sikapnya.

Ryiani tidak pernah merendahkan orang lain.

Ia juga tidak pernah memandang Arpan sebelah mata meski mengetahui reputasinya sebagai anak yang sering bermasalah di sekolah.

Suatu sore setelah latihan selesai, Ryiani duduk di tepi lapangan sambil meminum air.

Arpan memberanikan diri duduk di sampingnya.

"Kamu capek?"

Ryiani tersenyum.

"Sedikit."

"Kamu main bagus."

Ryiani tertawa kecil.

"Katanya kamu juga."

Arpan menggaruk kepalanya.

"Itu karena aku sering main."

"Kalau sering main, kenapa sekolahmu sering bolos?"

Pertanyaan itu membuat Arpan terdiam.

Ia tidak menyangka Ryiani mengetahui kebiasaannya.

Ryiani memandangnya sejenak.

"Lumayan sayang."

"Apa?"

"Kamu sebenarnya pintar."

Arpan menoleh.

"Kok tahu?"

"Aku pernah dengar guru olahraga bilang."

"Kamu itu berbakat."

"Tapi terlalu sering menyia-nyiakan kesempatan."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berbicara jujur kepada Arpan tanpa menghakimi.

Dan entah mengapa...

Ucapan Ryiani jauh lebih membekas daripada semua nasihat yang pernah ia dengar.

Sejak hari itu, Arpan mulai memiliki alasan baru untuk datang ke sekolah.

Bukan karena pelajarannya.

Melainkan karena berharap bisa bertemu Ryiani di lapangan sore nanti.

Ia mulai mandi lebih rapi.

Bajunya tidak lagi sembarangan.

Rambutnya yang biasanya berantakan mulai disisir sebelum berangkat.

Teman-temannya segera menyadari perubahan itu.

Lihat selengkapnya