Matahari sore masih setia menemani setiap langkah Arpan menuju lapangan voli.
Namun kini ada satu hal yang berbeda.
Kalau dulu ia datang hanya untuk bermain, sekarang ada seseorang yang selalu ia cari lebih dulu.
Ryiani.
Entah sejak kapan, perempuan itu telah menjadi alasan mengapa sore terasa begitu dinanti.
Begitu pula bagi Ryiani.
Ia mulai hafal suara langkah Arpan yang datang tergesa-gesa sambil membawa bola voli di bawah lengannya.
Kadang mereka saling melempar senyum.
Kadang hanya saling mengangguk.
Namun keduanya sama-sama tahu bahwa perasaan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.
Hubungan mereka berkembang dengan sangat sederhana.
Tidak ada hadiah-hadiah mewah.
Tidak ada janji-janji berlebihan.
Tidak ada kata-kata manis yang diucapkan setiap hari.
Mereka hanya menikmati kebersamaan.
Selesai latihan, Arpan sering menunggu Ryiani di luar lapangan.
"Sudah lapar?"
Ryiani mengangguk kecil.
"Sedikit."
"Ayo."
Mereka berjalan menuju warung kecil di ujung jalan.
Arpan membeli dua gelas es dan beberapa gorengan.
Bukan karena ia memiliki banyak uang.
Justru sering kali uang sakunya tinggal sedikit.
Namun baginya, melihat Ryiani tersenyum jauh lebih berharga daripada menyimpan beberapa lembar rupiah di saku.
Ryiani mengetahui keadaan Arpan.
Karena itu ia sering berkata,
"Besok jangan belikan apa-apa lagi."
Arpan hanya tersenyum.
"Nggak apa-apa."
Padahal setelah mengantar Ryiani pulang, ia sering menghitung sisa uangnya dan menyadari bahwa ia harus lebih berhemat hingga kiriman minggu berikutnya tiba.
Hari-hari itu menjadi masa paling tenang dalam hidup Arpan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang menerima dirinya apa adanya.
Ryiani tidak pernah memintanya menjadi orang lain.
Ia hanya berharap Arpan mau lebih menghargai dirinya sendiri.
Suatu sore setelah latihan, mereka duduk di bawah pohon besar di tepi lapangan.
"Pan."
"Iya?"
"Kamu sebenarnya pintar."
Arpan tertawa pelan.
"Semua orang bilang begitu."
"Lalu kenapa tidak dibuktikan?"
Arpan menundukkan kepala.
"Aku... terlalu banyak malasnya."
Ryiani tidak membalas.
Ia hanya tersenyum.
"Kalau begitu, mulai besok kurangi sedikit."
"Hanya sedikit?"
"Iya."
"Kalau banyak nanti kamu kaget."
Mereka berdua tertawa.
Percakapan sederhana itu terus membekas di hati Arpan.
Ryiani tidak pernah memaksanya berubah.
Ia hanya selalu percaya bahwa Arpan mampu menjadi pribadi yang lebih baik.
Dan kepercayaan itu perlahan membuat Arpan mulai percaya pada dirinya sendiri.
Di kamar kos, adik sepupunya mulai memperhatikan perubahan Arpan.
"Bang."
"Hm?"
"Abang sekarang sering senyum sendiri."
"Mana ada."
"Ada."
"Nggak."
"Kalau nyisir rambut sekarang sampai tiga kali."
Arpan melempar bantal ke arah adik sepupunya.
"Sudahlah."
Anak itu tertawa sambil menghindar.
"Aku tahu."
"Tahu apa?"
"Abang lagi jatuh cinta."
Arpan tidak menjawab.
Namun wajahnya yang memerah sudah menjadi jawaban.
Beberapa bulan kemudian, hubungan mereka semakin dekat.
Mereka mulai saling mengenalkan cerita tentang keluarga masing-masing.
Arpan bercerita tentang Bapak Taol, seorang imam masjid yang lembut dan disegani di kampung.
Tentang Sarni yang selalu memanjakan anak-anaknya.
Tentang rumah sederhana yang selalu ramai.
Ryiani juga mulai bercerita.
Tentang ayahnya yang melayani jemaat dengan penuh kasih.