"Rahim yang Hampir Melepaskanku"

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #9

Antara Hati Dan Bakti

Aisyah kembali melangkah menuju rumahnya sore itu.

Di belakangnya, Arpan dan Ryiani masih berjalan berdampingan menuju lapangan voli. Keduanya tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang diam-diam mendoakan kebahagiaan mereka, meski doa itu lahir dari hati yang harus belajar mengikhlaskan.

Mereka juga tidak mengetahui bahwa di tempat lain, percakapan tentang hubungan mereka semakin sering terdengar.

Kedekatan Arpan dan Ryiani tidak lagi hanya menjadi bahan candaan teman-teman sekolah. Cerita tentang mereka mulai menyebar ke luar lingkungan sekolah, sampai ke telinga orang-orang yang mengenal keluarga keduanya.

Ada yang melihat mereka berlatih bersama.

Ada yang pernah memergoki mereka duduk di warung selepas bermain voli.

Ada pula yang hanya mendengar cerita dari orang lain, lalu menyampaikannya kembali dengan tambahan-tambahan yang tidak pernah terjadi.

Begitulah kabar berjalan di sebuah kota kecil.

Ia berpindah dari satu mulut ke mulut lain, tumbuh semakin besar setiap kali diceritakan.

“Katanya anak ustaz dekat sama anak pendeta.”

“Serius?”

“Sudah lama katanya.”

“Nanti yang satu ikut agama yang lain.”

“Belum tentu. Paling sebentar lagi juga berpisah.”

Orang-orang memperdebatkan masa depan Arpan dan Ryiani seolah-olah mereka lebih memahami isi hati keduanya.

Ada yang yakin Ryiani akan mengikuti keyakinan Arpan.

Ada pula yang mengatakan Arpan akan meninggalkan ajaran keluarganya demi perempuan yang dicintainya.

Sebagian menganggap hubungan itu hanya cinta remaja yang akan selesai dengan sendirinya.

Sebagian lagi memandangnya sebagai persoalan besar yang tidak boleh dibiarkan terlalu lama.

Arpan mencoba tidak memedulikan semua pembicaraan itu.

Baginya, selama ia dan Ryiani tidak menyakiti siapa pun, tidak ada yang perlu ditakuti.

Namun Ryiani lebih sering memikirkan hal-hal yang belum mau dipikirkan Arpan.

Suatu sore, setelah latihan selesai, keduanya duduk di bangku kayu di tepi lapangan. Bola voli tergeletak di antara kaki mereka, sementara langit perlahan berubah menjadi jingga.

“Pan,” panggil Ryiani pelan.

“Hm?”

“Kamu dengar pembicaraan orang-orang?”

Arpan mengangkat bahu.

“Sedikit.”

“Mereka bilang macam-macam.”

“Biarkan saja.”

Ryiani menundukkan kepala.

“Mereka bilang salah satu dari kita harus berubah.”

Arpan tidak langsung menjawab.

Untuk beberapa saat, hanya suara anak-anak yang bermain di ujung lapangan yang terdengar.

“Aku tidak pernah meminta kamu berubah,” kata Arpan akhirnya.

“Aku juga tidak pernah meminta kamu berubah,” jawab Ryiani.

Arpan menoleh kepadanya.

“Lalu apa masalahnya?”

Ryiani tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak mampu menyembunyikan kekhawatiran di matanya.

“Masalahnya bukan cuma kita.”

Kalimat itu membuat Arpan terdiam.

Selama ini ia selalu berpikir bahwa cinta cukup dijalani oleh dua orang. Ia lupa bahwa di belakang mereka ada keluarga, nama baik, ajaran, dan harapan yang telah ditanamkan sejak kecil.

Arpan adalah putra seorang ustaz sekaligus imam masjid.

Ryiani adalah putri seorang pendeta.

Keduanya tumbuh dalam rumah yang menjadikan keyakinan sebagai dasar kehidupan.

Dan sekuat apa pun perasaan mereka, kenyataan itu tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kabar tentang hubungan mereka akhirnya sampai ke kampung Arpan.

Seseorang yang mengenal keluarga Bapak Taol datang berkunjung. Percakapan yang awalnya membahas hasil panen dan keadaan sekolah anak-anak perlahan berubah arah.

“Pak Taol,” ucap orang itu hati-hati, “saya dengar Arpan dekat dengan seorang perempuan di kota.”

Bapak Taol tetap duduk tenang.

“Anak siapa?”

Orang itu ragu sejenak sebelum menjawab.

“Anak seorang pendeta.”

Tangan Bapak Taol yang sedang memegang cangkir berhenti bergerak.

Sarni yang duduk tak jauh dari sana ikut menoleh.

Tak ada kemarahan yang langsung meledak.

Tak ada suara keras.

Namun keheningan yang muncul setelah kalimat itu terasa jauh lebih berat.

Bapak Taol menundukkan kepala beberapa saat.

Ia mengenal putranya.

Ia tahu Arpan bukan anak yang mudah dekat dengan perempuan.

Jika kabar itu benar, berarti hubungan tersebut bukan sekadar pertemanan biasa.

Sarni menjadi orang pertama yang berbicara.

“Mungkin hanya teman sekolah.”

Orang itu mengangkat bahu.

“Mungkin juga. Tapi orang-orang sudah banyak membicarakannya.”

Malam itu, setelah tamu pulang, Bapak Taol dan Sarni duduk cukup lama di beranda.

Lampu minyak menyala redup di antara mereka.

“Apa kita harus memanggil Arpan pulang?” tanya Sarni.

Bapak Taol tidak segera menjawab.

Ia tidak ingin menghakimi putranya berdasarkan cerita orang lain.

Namun ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa persoalan itu kecil.

“Kita dengar dulu dari mulutnya sendiri,” katanya akhirnya.

Sarni mengangguk.

Di dalam hatinya, ia takut.

Bukan karena ia membenci Ryiani yang bahkan belum pernah ditemuinya.

Ia hanya tahu bahwa jalan yang sedang ditempuh putranya akan dipenuhi pertentangan.

Dan sebagai seorang ibu, ia tidak ingin melihat Arpan terluka.

Beberapa hari kemudian, Arpan menerima pesan agar pulang ke kampung.

Pesan itu dititipkan melalui sopir bus yang biasa membawa uang belanja dari Bapak Taol.

“Ayahmu bilang, akhir pekan ini kau pulang,” kata petugas loket.

Arpan mengernyit.

“Ada apa?”

Petugas itu hanya menggeleng.

“Tidak tahu. Katanya penting.”

Sepanjang perjalanan menuju kampung, Arpan mulai merasa tidak tenang.

Ia mencoba menebak-nebak alasan orang tuanya memanggil.

Mungkin ada keluarga yang sakit.

Mungkin Bapak Taol membutuhkan bantuannya.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu ada kemungkinan lain.

Hubungannya dengan Ryiani.

Saat tiba di rumah, suasana terlihat seperti biasa.

Sarni menyambutnya dengan makanan hangat.

Adik-adiknya mengerumuninya.

Kakak-kakaknya menanyakan kehidupan di kota.

Tidak ada yang langsung membicarakan alasan kepulangannya.

Baru setelah makan malam selesai dan anak-anak lain mulai masuk ke kamar, Bapak Taol memanggilnya duduk di beranda.

“Pan.”

“Iya, Yah.”

“Ayah mau tanya sesuatu.”

Arpan menelan ludah.

“Jawab dengan jujur.”

Arpan mengangguk.

“Kamu dekat dengan seorang perempuan?”

Pertanyaan itu langsung mengenai hal yang sejak tadi dikhawatirkannya.

“Iya.”

“Namanya?”

“Ryiani.”

Lihat selengkapnya