Beberapa bulan setelah menyelesaikan sekolah menengah atas, Arpan kembali berdiri di hadapan sebuah pilihan besar.
Bapak Taol ingin putranya melanjutkan pendidikan.
Saat itu, kuliah masih menjadi sesuatu yang jarang bagi anak-anak kampung. Sebagian besar pemuda seusia Arpan memilih bekerja di sawah, berdagang, atau merantau tanpa pernah benar-benar mengenal bangku perguruan tinggi.
Namun Bapak Taol memiliki harapan lain.
Ia ingin salah satu anaknya memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Ia ingin Arpan memiliki kehidupan yang tidak hanya bergantung pada sawah, kebun, atau usaha keluarga.
Ia juga percaya bahwa pendidikan dapat memperbaiki arah hidup putranya.
Suatu malam, setelah makan bersama, Bapak Taol memanggil Arpan ke ruang tengah.
“Pan.”
“Iya, Yah.”
“Ayah ingin kamu kuliah.”
Arpan menatap ayahnya cukup lama.
Ia tidak langsung menjawab.
Kuliah bukan sesuatu yang pernah benar-benar ia rencanakan. Selama sekolah, ia bahkan lebih sering menghindari buku daripada membuka halaman-halamannya.
Namun kali ini nada suara Bapak Taol terdengar berbeda.
Bukan sekadar anjuran.
Ada harapan besar yang disimpan di dalamnya.
“Di Aceh,” lanjut Bapak Taol. “Kamu ambil Manajemen.”
“Kenapa Manajemen?”
“Supaya kamu mengerti cara mengelola usaha. Ilmu itu bisa kamu pakai di mana saja.”
Arpan mengangguk pelan.
Ia tahu ayahnya telah memikirkan keputusan itu dengan matang.
Bapak Taol tidak pernah menuntut Arpan menjadi orang paling pintar.
Ia hanya berharap putranya memiliki bekal untuk menjalani hidup.
“Ayah sudah bicara dengan keluarga di sana,” kata Bapak Taol. “Kamu bisa tinggal bersama mereka.”
Arpan kembali mengangguk.
Kali ini ia tidak menolak.
Sebagian dirinya ingin membuktikan bahwa ia masih mampu membuat orang tuanya bangga.
Sebagian lain hanya ingin mencoba hidup di tempat yang baru.
Dan mungkin, jauh di dasar hatinya, ia juga ingin melarikan diri dari kota yang masih menyimpan terlalu banyak kenangan tentang Ryiani.
Hari keberangkatan tiba lebih cepat daripada yang dibayangkan.
Sarni telah menyiapkan pakaian Arpan sejak beberapa hari sebelumnya. Baju-baju dilipat rapi, lalu dimasukkan ke dalam tas besar. Ia juga menyelipkan beberapa bungkus makanan, sambal, ikan kering, dan kebutuhan lain yang mungkin sulit ditemukan Arpan di perjalanan.
“Jangan malas makan,” pesan Sarni.
“Iya, Mak.”
“Jangan terlalu sering keluar malam.”
“Iya.”
“Belajarlah yang sungguh-sungguh.”
Arpan tidak langsung menjawab.
Sarni menatapnya.
“Pan.”
“Iya, Mak. Aku akan belajar.”
Jawaban itu membuat Sarni tersenyum, meski di dalam hatinya masih tersimpan kekhawatiran.
Ia telah terlalu sering mendengar janji yang sama.
Namun seorang ibu selalu memiliki ruang untuk percaya sekali lagi.
Bapak Taol berdiri di dekat pintu. Seperti biasa, ia tidak banyak bicara.
Ia hanya memberikan beberapa lembar uang kepada Arpan, lalu menepuk bahunya.
“Jaga nama baik keluarga.”
Arpan menerima uang itu dengan kedua tangan.
“Iya, Yah.”
“Dan jangan lupa salat.”
Arpan mengangguk.
Ketika kendaraan yang membawanya mulai meninggalkan kampung, Arpan menoleh dari balik jendela.
Ia melihat Sarni masih berdiri di depan rumah.
Bapak Taol berada di sampingnya.
Rumah panggung itu perlahan mengecil.
Hamparan sawah berganti menjadi jalan panjang yang membawanya menjauh dari segala sesuatu yang selama ini disebutnya pulang.
Untuk pertama kalinya, Arpan benar-benar pergi dengan sebuah tujuan.
Menjadi mahasiswa.
Menjadi sarjana.
Menjadi anak yang kelak dapat membanggakan ayah dan ibunya.
Setidaknya, itulah harapan yang dibawa keluarganya saat melepasnya.
Aceh menyambut Arpan dengan suasana yang berbeda.
Kota itu lebih ramai daripada kampungnya, tetapi tidak terasa seasing kota tempat ia bersekolah dahulu. Ia tinggal bersama keluarga yang telah lebih dulu menetap di sana.
Rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Ada orang yang menunggunya pulang.
Ada makanan yang disiapkan.
Ada pula yang mengingatkannya agar tidak terlambat kuliah.
Hal itu membuat hidup Arpan lebih teratur dibanding ketika tinggal sendirian di kamar kos.
Pada hari pertama memasuki kampus, Arpan mengenakan pakaian terbaik yang dibawanya dari kampung.
Ia berdiri di antara mahasiswa lain yang datang dari berbagai daerah.
Sebagian terlihat percaya diri.
Sebagian tampak sama gugupnya dengan dirinya.
Di hadapannya berdiri gedung-gedung yang kelak akan menjadi saksi perjalanan baru dalam hidupnya.
Arpan resmi menjadi mahasiswa jurusan Manajemen.
Ketika kabar itu sampai ke kampung, Bapak Taol tidak banyak menunjukkan perasaan.
Namun siapa pun dapat melihat kebanggaan di wajahnya.
Di masjid, beberapa warga mengucapkan selamat.
“Anakmu sudah kuliah, Pak Taol.”
Bapak Taol hanya tersenyum.
“Doakan dia sungguh-sungguh belajar.”
Sarni bahkan lebih terbuka menunjukkan kegembiraannya.
Setiap kali bertemu kerabat, ia selalu bercerita bahwa Arpan sedang kuliah di Aceh.
Bukan untuk menyombongkan diri.
Ia hanya begitu bangga melihat anak yang selama ini paling sering membuatnya gelisah akhirnya memiliki kesempatan untuk menata masa depan.
Pada awal perkuliahan, Arpan benar-benar berusaha.
Ia hadir di kelas.
Mencatat penjelasan dosen.
Membaca buku meski tidak terlalu lama.
Materi-materi tentang pengelolaan usaha, organisasi, keuangan, dan kepemimpinan cukup menarik perhatiannya.
Ia cepat menangkap penjelasan yang berkaitan dengan angka.
Kemampuannya dalam berhitung kembali terlihat.
Beberapa teman bahkan sering meminta bantuannya ketika mengerjakan tugas yang melibatkan perhitungan.
“Pan, ini dapatnya dari mana?”
Arpan menjelaskan dengan cepat.
Temannya mengangguk-angguk.
“Kau ini sebenarnya pintar.”
Arpan hanya tersenyum.
Ucapan itu bukan pertama kali didengarnya.
Guru-gurunya sejak sekolah dasar pernah mengatakan hal yang sama.
Ryiani pun pernah mengingatkannya.
Namun kepintaran tidak pernah menjadi masalah terbesar Arpan.
Masalahnya selalu terletak pada kemauan.
Selama beberapa bulan pertama, semangatnya masih bertahan.
Ia bahkan pernah menulis surat kepada orang tuanya dan mengatakan bahwa kuliahnya berjalan baik.
Sarni membaca surat itu berkali-kali.
Bapak Taol menyimpannya di antara kitab-kitab miliknya.
Mereka percaya Arpan mulai berubah.
Namun kebiasaan lama tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya bersembunyi, menunggu Arpan kembali lengah.
Setelah mulai mengenal banyak teman, Arpan kembali sering berkumpul hingga larut malam.
Awalnya hanya berbincang selepas kuliah.
Kemudian bermain kartu.
Lalu keluar bersama tanpa tujuan yang jelas.
Kadang mereka menghabiskan waktu di warung kopi hingga malam.
Kadang datang ke acara teman.
Kadang sekadar duduk berjam-jam sambil merokok dan membicarakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan perkuliahan.
Pagi hari, Arpan mulai kesulitan bangun.
Ia sering terlambat masuk kelas.
Sesekali tidak hadir.