Arpan tidak langsung menetap di kampung setelah meninggalkan Aceh.
Rumah panggung yang dahulu selalu terasa hangat kini menyimpan terlalu banyak kenangan tentang Bapak Taol. Beranda tempat ayahnya biasa duduk masih ada. Kitab-kitabnya masih tersusun. Beberapa pakaian dan barang miliknya masih disimpan Sarni dengan rapi.
Namun suara lelaki itu tidak lagi terdengar.
Tidak ada lagi nasihat selepas Magrib.
Tidak ada lagi pertanyaan tentang kuliah.
Tidak ada lagi tepukan di bahu sebelum Arpan berangkat.
Setiap sudut rumah seolah mengingatkannya pada janji yang gagal ia penuhi.
Sarni tidak pernah menyalahkan Arpan karena tidak menyelesaikan kuliah.
Ia tidak menanyakan mengapa putranya pulang tanpa gelar.
Tidak pula mengungkit biaya yang telah dikeluarkan Bapak Taol selama bertahun-tahun.
Seperti biasa, ia menyambut Arpan dengan makanan hangat dan tatapan seorang ibu yang hanya ingin memastikan anaknya baik-baik saja.
Namun justru karena tidak ada kemarahan, rasa bersalah Arpan semakin besar.
Suatu malam, Sarni melihat putranya duduk sendirian di beranda.
“Belum tidur?” tanyanya.
Arpan menggeleng.
“Belum mengantuk.”
Sarni duduk di sampingnya.
Beberapa saat mereka hanya menatap sawah yang gelap.
“Jangan terlalu menyalahkan dirimu,” kata Sarni pelan.
Arpan tidak menjawab.
“Kuliah bisa gagal. Hidup jangan.”
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat Arpan menoleh.
“Aku sudah mengecewakan Ayah, Mak.”
Sarni menarik napas panjang.
“Ayahmu memang ingin kau menjadi sarjana.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi yang lebih dia inginkan adalah kau tetap menjadi orang yang tidak menyerah.”
Arpan menunduk.
Ia tahu ibunya berusaha menghiburnya.
Namun saat itu, penyesalannya belum mampu diubah menjadi keberanian.
Ia hanya ingin pergi.
Pergi dari kampung.
Pergi dari tatapan orang-orang yang pernah mengetahui dirinya dikuliahkan.
Pergi dari pertanyaan tentang kapan ia wisuda.
Pergi dari segala sesuatu yang mengingatkannya bahwa ia pernah hampir menjadi seseorang, tetapi berhenti sebelum sampai.
Beberapa waktu kemudian, Arpan memutuskan berangkat ke Medan.
Ia tidak membawa banyak barang.
Hanya beberapa pakaian, sedikit uang, dan pengalaman hidup yang terasa belum cukup untuk dijadikan bekal.
Sarni kembali menyiapkan barang-barangnya seperti ketika dahulu melepasnya ke Aceh.
Bedanya, kali ini tidak ada Bapak Taol yang berdiri di depan rumah.
Tidak ada pesan agar ia menjaga nama baik keluarga.
Tidak ada tangan ayah yang menyelipkan uang ke telapak tangannya.
Hanya Sarni yang berusaha tersenyum meski matanya terlihat sembap.
“Mau kerja apa di sana?” tanya Sarni.
“Belum tahu.”
“Sudah ada tempat tinggal?”
“Ada kawan.”
Sarni mengangguk pelan.
Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi mengenal betul watak putranya. Semakin banyak ditanya, semakin sedikit Arpan menjawab.
“Jaga diri baik-baik.”
“Iya, Mak.”
“Kalau susah, pulang.”
Arpan tersenyum tipis.
“Iya.”
Namun ia tidak berkata bahwa pulang justru menjadi hal yang paling berat baginya.
Medan menyambut Arpan dengan suara kendaraan, keramaian jalan, dan wajah-wajah yang berjalan cepat tanpa saling mengenal.
Kota itu jauh berbeda dari kampungnya.
Tak ada pematang sawah.
Tak ada sungai tempat mandi bersama teman.
Tak ada orang yang akan langsung mengetahui dari keluarga mana seseorang berasal.
Di Medan, Arpan merasa dirinya hanya satu dari sekian banyak orang yang sedang berusaha bertahan.
Pada minggu-minggu pertama, ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain mencari pekerjaan.
Ia pernah mendatangi toko.
Mendengar kabar tentang pekerjaan di gudang.
Bertanya kepada kenalan yang bekerja di pasar.
Namun tidak semua tempat membutuhkan pekerja.
Tidak semua orang mau menerima pemuda yang datang tanpa ijazah sarjana dan tanpa pengalaman tetap.
Gelar Manajemen yang nyaris ia raih tidak berarti apa-apa tanpa bukti kelulusan.
Setiap kali diminta menunjukkan ijazah pendidikan terakhir, Arpan hanya mampu menyerahkan ijazah sekolah menengah.
Semua tahun yang pernah dihabiskannya di kampus seolah tidak pernah dihitung.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa kegagalan menyelesaikan sesuatu dapat membuat seluruh perjuangan sebelumnya terlihat seperti tidak pernah ada.
Kesempatan datang melalui seorang kenalan.
Sebuah hotel berbintang lima di Medan sedang membutuhkan petugas keamanan.
Arpan segera mencoba melamar.
Posturnya yang tinggi dan cukup berisi membuatnya terlihat sesuai dengan pekerjaan itu. Ia juga memiliki fisik yang kuat karena sejak kecil terbiasa bermain bola, voli, dan bekerja di luar rumah.
Setelah melewati beberapa pemeriksaan dan wawancara sederhana, ia diterima.
Hari pertama bekerja, Arpan mengenakan seragam satpam dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Di satu sisi, ia bersyukur memiliki pekerjaan.
Di sisi lain, ia teringat bahwa beberapa tahun sebelumnya dirinya adalah mahasiswa yang diharapkan pulang membawa gelar.
Kini ia berdiri di pintu masuk hotel, membuka gerbang, memeriksa kendaraan, dan menyambut tamu yang datang silih berganti.
Hotel itu jauh lebih mewah daripada tempat mana pun yang pernah ia tinggali.
Lantainya mengilap.
Lampu gantung besar memenuhi ruang utama.
Tamu-tamu datang dengan pakaian rapi.
Mobil-mobil mahal berhenti di depan pintu.
Pegawai hotel berjalan cepat dengan seragam yang selalu terlihat bersih.
Arpan berdiri di antara semua kemewahan itu sebagai orang yang memastikan ketertiban tetap terjaga.
Ia tidak merasa rendah karena pekerjaannya.
Bapak Taol telah mengajarkannya bahwa pekerjaan yang halal tidak pernah memalukan.
Namun pada hari-hari tertentu, terutama ketika melihat tamu muda membawa buku atau berbicara tentang pekerjaan kantor, ia kembali teringat kampus.
Ada bagian dalam dirinya yang bertanya-tanya bagaimana hidupnya akan berjalan seandainya dahulu ia sedikit lebih rajin.
Seandainya ia tidak terlalu sering menunda.
Seandainya Bapak Taol masih hidup hingga melihatnya lulus.
Namun hidup tidak pernah menjawab pertanyaan yang dimulai dengan kata seandainya.
Pekerjaan sebagai satpam menuntut kedisiplinan yang selama ini sulit dimiliki Arpan.
Ia harus datang tepat waktu.
Seragam harus rapi.
Sepatu harus bersih.