"Rahim yang Hampir Melepaskanku"

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #12

Perempuan yang Dipilihkan Keluarga

Kepulangan Arpan membuat rumah kembali ramai.

Saudara-saudaranya datang bergantian. Ada yang membawa makanan, ada yang sekadar duduk di beranda sambil menanyakan kehidupannya di Medan. Sebagian tertawa mendengar cerita tentang pekerjaannya di hotel, sementara yang lain mulai menyelipkan pertanyaan yang selama ini paling sering dihindarinya.

“Kapan menikah?”

Arpan hanya tersenyum tipis.

“Belum tahu.”

“Usiamu sudah bukan anak muda lagi.”

“Masih muda.”

“Kalau terus bilang masih muda, nanti rambutmu duluan yang menikah.”

Canda seperti itu hampir selalu muncul setiap kali keluarga berkumpul.

Arpan menanggapinya dengan diam.

Ia tidak merasa terganggu, tetapi juga tidak tertarik membicarakannya lebih jauh.

Pernikahan baginya bukan perkara sederhana.

Ia pernah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh.

Pernah membayangkan kebersamaan meski hanya dalam bentuk yang belum matang.

Lalu belajar bahwa dua orang yang saling mencintai belum tentu dapat berjalan menuju tempat yang sama.

Sejak berpisah dari Ryiani, Arpan tidak pernah lagi benar-benar membuka hatinya.

Ia tidak mencari kabar perempuan itu.

Tidak bertanya kepada teman lama.

Tidak pula mencoba mempertemukan kembali jalan mereka.

Janji untuk tidak bertemu tetap ia pegang.

Namun menjaga janji bukan berarti semua perasaan di dalam dirinya telah selesai.

Ada kenangan yang tidak lagi dicari, tetapi tidak pernah benar-benar pergi.

Sarni mulai memikirkan masa depan putranya dengan lebih serius.

Ia melihat Arpan setiap hari di rumah.

Kadang membantu pekerjaan keluarga.

Kadang pergi bersama teman-temannya.

Kadang duduk lama di beranda tanpa mengatakan apa yang sedang dipikirkannya.

Sarni memahami bahwa putranya membutuhkan arah baru.

Bukan hanya pekerjaan.

Bukan hanya penghasilan.

Ia membutuhkan seseorang yang mampu menemaninya menjalani hidup.

Suatu malam, Sarni berbicara dengan beberapa anggota keluarga.

“Arpan sudah waktunya menikah.”

Salah seorang kakaknya mengangguk.

“Sudah lama waktunya.”

“Dia mau?”

“Kalau ditanya, pasti jawabnya belum tahu.”

Mereka tertawa kecil.

Namun Sarni tetap serius.

Ia tidak ingin memaksa putranya.

Akan tetapi, ia juga khawatir Arpan akan terus menjalani hari tanpa tujuan.

Keluarga mulai menyebut beberapa nama perempuan.

Ada yang dikenal baik.

Ada yang berasal dari keluarga terhormat.

Ada pula yang dianggap cocok karena sabar dan pekerja keras.

Dari beberapa nama itu, satu nama paling sering dibicarakan.

Rida.

Rida adalah perempuan kampung yang sederhana.

Ia tidak tumbuh dalam kemewahan.

Sejak muda, ia telah terbiasa bekerja di sawah dan kebun. Tangannya kuat, langkahnya cepat, dan tubuhnya terlatih menghadapi panas matahari.

Ia dikenal sebagai perempuan yang ceria.

Suaranya mudah dikenali ketika berbincang dengan tetangga.

Ia juga tidak sulit tertawa.

Namun di balik sifat cerianya, Rida adalah perempuan yang tangguh.

Ia tidak takut bekerja.

Tidak mudah menyerah.

Dan tidak terbiasa menggantungkan hidup sepenuhnya kepada orang lain.

Beberapa orang menggambarkannya sebagai perempuan yang tegas.

Ada pula yang menyebutnya sedikit keras.

Namun keluarganya tahu bahwa ketegasan itu lahir dari kehidupan yang menuntutnya untuk selalu kuat.

Sarni menyukai sifat itu.

Ia merasa Arpan membutuhkan perempuan yang tidak mudah goyah.

Bukan perempuan yang hanya akan mengiyakan semua keinginannya.

Melainkan seseorang yang mampu berdiri di sampingnya, bahkan ketika hidup mereka sedang tidak baik-baik saja.

Ketika nama Rida pertama kali disebut di hadapan Arpan, reaksinya tidak banyak berubah.

Ia sedang duduk di beranda sambil merokok ketika salah seorang kakaknya membuka pembicaraan.

“Pan.”

“Hm?”

“Bagaimana kalau kau menikah?”

Arpan mengembuskan asap perlahan.

“Dengan siapa?”

“Rida.”

Arpan menoleh.

Ia mengenal nama itu.

Pernah beberapa kali melihat Rida di kampung.

Mengetahui keluarganya.

Mengetahui bahwa perempuan itu pekerja keras.

Namun mengenal tidak berarti dekat.

“Kenapa dia?”

“Karena dia baik.”

Arpan kembali memandang halaman.

“Banyak perempuan baik.”

“Tapi belum tentu semuanya mau sama kau.”

Candaan itu membuat beberapa anggota keluarga tertawa.

Arpan hanya menggeleng.

“Aku belum kepikiran menikah.”

“Lalu mau sampai kapan?”

Arpan diam.

Ia sendiri tidak tahu.

Usianya terus bertambah.

Pekerjaan tetap belum jelas.

Tabungan hampir tidak ada.

Dan masa depannya seolah bergerak tanpa rencana.

Sarni yang sejak tadi duduk di dekat pintu akhirnya berbicara.

“Ibu tidak memaksamu.”

Arpan menoleh kepada ibunya.

“Tapi Ibu ingin melihat kau punya keluarga.”

Kalimat itu diucapkan pelan.

Tidak ada tekanan.

Namun Arpan melihat sesuatu di wajah Sarni yang membuatnya sulit menolak.

Ibunya telah semakin tua.

Setelah kehilangan Bapak Taol, sebagian kekuatan dalam dirinya ikut berkurang.

Arpan tahu salah satu keinginan terbesar ibunya adalah melihat semua anaknya memiliki kehidupan yang lebih teratur.

“Kenali dulu orangnya,” kata Sarni. “Tidak ada yang menyuruhmu langsung memutuskan.”

Arpan mematikan rokoknya.

Ia tidak mengatakan iya.

Tidak pula mengatakan tidak.

Namun bagi keluarganya, diam Arpan selalu berarti masih ada ruang untuk melanjutkan pembicaraan.

Pertemuan pertama antara Arpan dan Rida berlangsung sederhana.

Tidak ada suasana romantis.

Tidak ada meja khusus.

Lihat selengkapnya