Kabar kehamilan Rida mengubah suasana rumah mereka.
Tidak ada perayaan besar.
Tidak ada teriakan kegembiraan.
Rida hanya berdiri di dekat pintu dapur pada suatu pagi, menatap Arpan yang sedang membetulkan tali sandal.
“Pan.”
Arpan menoleh.
“Aku sepertinya hamil.”
Tangannya berhenti bergerak.
Beberapa detik Arpan hanya diam.
Ia tidak langsung tersenyum.
Tidak pula bertanya banyak.
Wajahnya tetap datar seperti biasa, seolah kabar itu membutuhkan waktu untuk benar-benar sampai ke dalam pikirannya.
“Sudah yakin?” tanyanya akhirnya.
Rida mengangguk.
“Sudah terlambat beberapa waktu. Badanku juga sering tidak enak.”
Arpan menatap wajah istrinya lebih lama.
Di dalam dirinya, perasaan yang sulit dijelaskan mulai tumbuh.
Takut.
Bingung.
Senang.
Dan sedikit tidak percaya.
Ia akan menjadi ayah.
Kata itu terasa begitu besar.
Selama ini, ia hanya mengenal dirinya sebagai seorang anak.
Anak Sarni.
Anak Bapak Taol.
Anak yang berkali-kali mengecewakan keluarga.
Kini, sebentar lagi akan ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan yang dahulu hanya ia berikan kepada lelaki paling lembut dalam hidupnya.
Ayah.
“Sudah bilang ke Mamak?” tanya Arpan.
“Belum.”
“Ayo kita bilang.”
Rida tersenyum kecil.
Itulah cara Arpan menunjukkan kegembiraan pertamanya.
Bukan dengan memeluk.
Bukan dengan kata-kata manis.
Melainkan dengan segera mengajak Rida menemui ibunya.
Sarni menerima kabar itu dengan mata berbinar.
Ia memeluk Rida cukup lama, lalu mengusap perut menantunya meski belum tampak membesar.
“Alhamdulillah,” katanya berulang kali.
Setelah itu, ia menoleh kepada Arpan.
“Kau sebentar lagi jadi ayah.”
Arpan hanya tersenyum tipis.
Sarni mengenal putranya.
Ia tahu di balik wajah yang tampak tenang, Arpan sedang menyimpan kegembiraan yang besar.
“Jaga istrimu baik-baik,” pesan Sarni.
“Iya, Mak.”
“Jangan biarkan dia terlalu capek.”
Arpan mengangguk.
“Kau juga jangan terlalu sering keluar malam.”
Arpan tidak langsung menjawab.
Rida meliriknya.
Sarni menatap putranya lebih tajam.
“Pan.”
“Iya, Mak.”
Jawaban itu terdengar singkat, tetapi kali ini Arpan benar-benar mencoba mematuhinya.
Setidaknya pada awal kehamilan Rida.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan perubahan-perubahan kecil.
Rida masih tetap ingin bekerja di sawah.
Ia tidak terbiasa duduk diam.
Namun Arpan mulai lebih sering melarangnya mengangkat beban yang terlalu berat.
“Jangan itu.”
Rida menoleh.
“Kenapa?”
“Berat.”
“Aku biasa.”
“Sekarang tidak sendiri.”
Rida tersenyum mendengar kalimat itu.
Arpan jarang berbicara panjang, tetapi sesekali ucapannya mampu menjelaskan banyak hal.
Ketika Rida merasa mual, Arpan membawakan buah.
Ketika istrinya kehilangan selera makan, ia pergi mencari makanan yang mungkin ingin disantapnya.
Kadang harus berjalan cukup jauh.
Kadang pulang dengan bungkusan yang ternyata tidak disentuh Rida.
“Katanya mau ini,” kata Arpan.
“Tadi mau. Sekarang tidak.”
Arpan menghela napas.
“Lalu maunya apa?”
“Tidak tahu.”
Arpan menatapnya dengan wajah bingung.
Rida tertawa.
“Begitulah orang hamil.”
Arpan tidak memahami perubahan suasana hati istrinya.
Namun ia tetap keluar lagi mencari makanan lain.
Ia tidak pernah berkata bahwa ia sedang khawatir.
Ia hanya lebih sering berada di rumah.
Lebih sering memperhatikan Rida tanpa terlihat sedang memperhatikan.
Dan lebih sering menanyakan hal-hal sederhana.
“Sudah makan?”
“Perutmu sakit?”
“Capek?”
Itulah bentuk perhatian yang mampu diberikannya.
Meski begitu, Arpan belum sepenuhnya berubah.
Sesekali ia masih pergi bersama teman-temannya.
Duduk di warung hingga malam.
Minum tuak.
Kadang pulang ketika Rida sudah terlelap.
Pada malam-malam seperti itu, Rida akan tidur membelakangi pintu.
Bukan karena tidak mengetahui suaminya pulang.
Ia hanya lelah bertengkar.
Arpan masuk dengan langkah pelan.
Melepas sandal.
Mencuci wajah.
Lalu berbaring tanpa banyak suara.
Pagi harinya, Rida tidak selalu memarahinya.
Namun diam Rida terasa lebih berat daripada bentakan.
“Kau marah?” tanya Arpan suatu kali.
Rida tetap menyapu halaman.
“Tidak.”
“Kalau tidak marah, kenapa diam?”
Rida berhenti.
Ia menatap suaminya.
“Sebentar lagi kau punya anak.”
Arpan tidak menjawab.
“Kalau kau masih hidup seperti bujangan, nanti siapa yang anak kita lihat sebagai contoh?”
Kalimat itu menempel di benak Arpan sepanjang hari.
Ia tidak langsung berhenti dari semua kebiasaan buruknya.