"Rahim yang Hampir Melepaskanku"

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #14

Kasih Sayang yang Salah Cara

BAB 14

Kasih Sayang yang Salah Cara

“Tidak semua cinta hadir dalam bentuk yang benar. Kadang seseorang mencintai dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak tahu bagaimana cara menjaganya.”

Tahun-tahun pertama kehidupan Ryiani membuat rumah Arpan dan Rida tidak pernah benar-benar sepi.

Tangisan bayi perlahan berubah menjadi suara tawa.

Langkah kecil mulai terdengar di lantai rumah.

Dinding yang dahulu hanya dipenuhi suara percakapan kini menjadi saksi seorang anak belajar berdiri, berjalan, lalu berlari ke sana kemari.

Ryiani tumbuh menjadi anak yang ceria.

Ia mudah tertawa.

Mudah penasaran.

Dan mulai mengenali siapa yang paling sering membawakannya sesuatu ketika pulang.

Ayahnya.

Setiap kali Arpan muncul di depan pintu, Ryiani akan berlari dengan langkah kecil yang belum seimbang.

“Ayah!”

Arpan hampir selalu berpura-pura tidak terlalu gembira.

Wajahnya tetap datar.

Namun kedua tangannya segera terulur.

Ia akan mengangkat putrinya tinggi-tinggi, lalu membawanya masuk sambil menanyakan hal-hal sederhana.

“Sudah makan?”

“Sudah mandi?”

“Nangis tadi?”

Ryiani belum selalu mampu menjawab dengan jelas.

Namun tawa anak itu sudah cukup membuat wajah Arpan berubah.

Di hadapan orang lain, ia tetap pendiam.

Di hadapan putrinya, diamnya sedikit demi sedikit mulai mencair.

Arpan bukan ayah yang pandai mengatur jadwal.

Ia tidak selalu tahu kapan anak harus tidur.

Tidak mengerti banyak tentang makanan yang baik untuk pertumbuhan.

Tidak pula pandai menghadapi tangisan.

Namun ia selalu merasa bahwa apa pun yang diminta Ryiani harus berusaha dipenuhi.

Ketika anak itu mulai bisa memilih makanan, satu lauk menjadi kesukaannya.

Telur.

Setiap kali Rida menyuapi nasi tanpa telur, Ryiani akan menggeleng.

“Tidak mau.”

“Ini ada ikan.”

Ryiani kembali menggeleng.

“Telur.”

Rida berusaha membujuk.

“Telur lagi?”

Ryiani mengangguk.

Ketika Arpan mengetahui itu, ia langsung berkata,

“Buatkan saja telur.”

“Setiap hari?” tanya Rida.

“Daripada dia tidak makan.”

Sejak saat itu, telur hampir selalu tersedia untuk Ryiani.

Telur rebus.

Telur dadar.

Telur mata sapi.

Apa pun bentuknya, selama anak itu mau makan.

Arpan bahkan sering membelikannya sendiri.

Kalau persediaan di dapur tinggal sedikit, ia akan mencari ke warung.

Kalau Ryiani meminta pada malam hari, ia tetap berusaha mendapatkannya.

Bagi Arpan, tidak ada yang salah.

Ia hanya senang melihat putrinya makan dengan lahap.

“Lihat,” katanya kepada Rida, “kalau ada telur, makannya banyak.”

Rida mengangguk, meski sesekali mulai khawatir.

“Jangan terlalu sering.”

“Kenapa?”

“Semua yang berlebihan tidak baik.”

Arpan tidak terlalu memikirkannya.

Baginya, telur adalah makanan.

Dan makanan berarti kasih sayang.

Ia belum memahami bahwa sesuatu yang diberikan dengan niat baik tetap dapat membawa akibat ketika dilakukan tanpa pertimbangan.

Memasuki usia sekitar dua tahun, tubuh Ryiani mulai menunjukkan reaksi yang tidak biasa.

Kulitnya sesekali memerah.

Muncul rasa gatal.

Kadang ia menangis sambil menggaruk bagian tubuh tertentu.

Rida mulai mengurangi beberapa makanan.

Namun Arpan masih sulit percaya bahwa telur yang selama ini menjadi makanan kesukaan putrinya dapat menjadi penyebabnya.

“Dari dulu dia makan telur,” katanya.

“Justru karena terlalu sering,” jawab Rida.

Arpan menatap Ryiani yang sedang menggaruk tangannya.

Rasa bersalah mulai muncul.

Ia tidak pernah berniat membuat anaknya sakit.

Ia hanya ingin memastikan putrinya tidak kelaparan.

Namun sejak saat itu, telur tidak lagi menjadi sekadar lauk di rumah mereka.

Ia berubah menjadi pengingat bahwa kasih sayang tidak cukup hanya dengan niat baik.

Kasih sayang juga membutuhkan pengetahuan.

Membutuhkan batas.

Membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan orang lain.

Alergi itu bertahan hingga Ryiani tumbuh dewasa.

Setiap kali keluarga membicarakannya, Arpan hanya tersenyum kecil.

Ia jarang mengaku bersalah secara langsung.

Namun sorot matanya selalu berubah.

Di dalam hati, ia mengetahui bahwa perhatian yang dahulu dibanggakannya justru meninggalkan akibat panjang bagi putrinya.

Meski sangat menyayangi Ryiani, kehidupan Arpan belum sepenuhnya berubah.

Ia tetap sering keluar rumah.

Pertemanan yang telah dibangunnya sejak muda masih kuat.

Hampir setiap malam selalu ada ajakan.

Duduk di warung.

Berkumpul di rumah teman.

Minum tuak.

Atau sekadar berbincang hingga waktu berjalan terlalu jauh.

Awalnya Arpan selalu mengatakan bahwa ia hanya keluar sebentar.

“Aku ke warung dulu.”

“Jangan lama,” kata Rida.

“Iya.”

Namun kata sebentar milik Arpan masih sama seperti ketika ia kecil.

Tidak pernah benar-benar sebentar.

Ryiani kadang sudah tertidur ketika ayahnya pulang.

Rida duduk sendirian menunggu di ruang depan.

Ada malam ketika Arpan pulang dalam keadaan sadar.

Ada pula malam ketika tubuhnya berbau tuak.

Ia tidak membuat keributan.

Tidak membanting barang.

Tidak pula memukul istri.

Arpan bukan lelaki yang menjadi kasar ketika mabuk.

Ia justru lebih banyak diam.

Masuk rumah.

Mencuci wajah.

Lalu tidur.

Namun ketenangan itu tidak menghapus luka Rida.

Baginya, seorang suami tidak harus memukul untuk membuat rumah terasa menyakitkan.

Ketidakhadiran juga dapat menjadi bentuk luka.

Menunggu tanpa kepastian juga melelahkan.

Mengurus anak seorang diri ketika suami memilih berkumpul dengan teman-temannya juga dapat mengikis kesabaran.

Suatu malam, Arpan pulang ketika hari hampir berganti.

Pintu rumah masih terbuka.

Rida duduk di ruang depan dengan wajah yang sulit dibaca.

“Kau belum tidur?” tanya Arpan.

Rida tidak menjawab pertanyaan itu.

“Kau tahu sekarang jam berapa?”

Arpan melihat ke arah dinding, meski mereka tidak memiliki jam yang cukup jelas terbaca dari tempatnya berdiri.

“Sudah malam.”

“Bukan sekadar malam.”

Arpan melepas sandalnya.

“Aku hanya duduk sama kawan.”

“Kau selalu bilang begitu.”

Arpan diam.

Lihat selengkapnya