Ryiani tumbuh lebih cepat daripada yang disadari Arpan.
Anak kecil yang dahulu berlari menyambutnya di depan pintu kini mulai mengenakan seragam sekolah. Rambutnya diikat rapi setiap pagi, buku-buku memenuhi tasnya, dan pertanyaan-pertanyaannya tidak lagi sesederhana menanyakan kapan ayah pulang.
Ia mulai memperhatikan banyak hal.
Mulai menyadari mengapa ibunya sering duduk diam setelah bertengkar.
Mulai mengetahui mengapa Arpan kadang pulang larut malam.
Mulai mengenali bau tuak yang menempel pada pakaian ayahnya.
Dan mulai memahami bahwa tidak semua keluarga hidup dengan cara yang sama.
Ketika masih kecil, Ryiani menganggap semua ayah sering pergi malam.
Ia mengira semua ibu menunggu sambil menahan marah.
Ia juga mengira semua anak harus belajar memahami suasana rumah sebelum berani meminta sesuatu.
Namun setelah mulai memiliki banyak teman, ia menyadari bahwa hidup orang lain tidak selalu seperti itu.
Ada teman yang setiap hari diantar ayahnya.
Ada yang ditemani belajar.
Ada yang bisa bercerita tentang keluarganya tanpa merasa perlu menyembunyikan apa pun.
Ryiani mulai membandingkan.
Dan dari perbandingan itulah rasa malu tumbuh untuk pertama kalinya.
Suatu hari, beberapa teman sekolah berbicara tentang orang tua mereka.
“Ayahku kerja di kantor.”
“Ayahku punya kebun.”
“Ayahku sering antar aku latihan.”
Lalu salah seorang dari mereka bertanya kepada Ryiani,
“Ayahmu kerja apa?”
Ryiani terdiam.
Ia sebenarnya bisa menjawab banyak hal.
Ayahnya pernah kuliah.
Pernah bekerja sebagai satpam di hotel berbintang lima.
Pernah merantau.
Pernah menjadi pemuda yang dikenal pandai bermain voli.
Namun semua itu terasa terlalu panjang.
“Kerja di kampung,” jawabnya singkat.
Temannya mengangguk.
Pertanyaan itu seharusnya berhenti di sana.
Namun anak-anak sering berbicara tanpa memahami akibatnya.
“Ayahmu yang suka pulang malam itu, ya?”
Ryiani langsung menoleh.
“Siapa bilang?”
“Orang-orang tahu.”
Beberapa anak lain mulai diam.
Ryiani merasakan wajahnya panas.
Ia tidak tahu harus marah atau pergi.
Akhirnya ia memilih diam.
Sepanjang perjalanan pulang, kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa malu memiliki ayah seperti Arpan.
Perasaan itu membuat langkahnya berat.
Namun ketika sampai di rumah, ia melihat Arpan sedang memperbaiki tali tas sekolahnya yang hampir putus.
Lelaki itu duduk di beranda dengan wajah serius.
“Ini rusak,” katanya ketika melihat Ryiani datang.
Ryiani menatap tasnya.
“Kapan Ayah ambil?”
“Tadi.”
“Kenapa diperbaiki?”
“Kalau tidak, nanti bukumu jatuh.”
Arpan menyerahkan tas itu.
Tali yang sebelumnya robek kini telah dijahit seadanya.
Tidak rapi.
Namun cukup kuat untuk digunakan kembali.
Ryiani menerima tas itu tanpa berkata apa-apa.
Rasa malu yang tadi memenuhi dadanya tidak langsung hilang.
Namun sesuatu di dalam dirinya mulai terasa rumit.
Ayahnya memang sering membuat kecewa.
Tetapi lelaki yang sama juga selalu memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan tidak ia minta.
Arpan tidak pernah menjadi ayah yang pandai menanyakan pelajaran.
Ia jarang duduk menemani Ryiani mengerjakan tugas.
Ia juga tidak selalu memahami isi buku sekolah anaknya.
Namun satu hal yang tidak pernah ia lakukan adalah meremehkan keinginan putrinya.
Ketika Ryiani mengatakan ingin mengikuti karate pada masa sekolah menengah pertama, Rida sempat ragu.
“Latihannya jauh.”
“Biayanya juga ada.”
Ryiani menunduk.
Ia tahu kondisi keluarga mereka tidak selalu mudah.
Arpan yang mendengar percakapan itu dari ruang depan langsung bertanya,
“Kau benar-benar mau?”
Ryiani mengangguk.
“Iya, Yah.”
“Takut dipukul?”
Ryiani menggeleng.
“Tidak.”
Arpan tersenyum tipis.
“Kalau begitu ikutlah.”
Rida menoleh kepadanya.
“Biayanya?”
“Nanti aku usahakan.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Ryiani, kalimat tersebut berarti izin untuk mencoba sesuatu yang selama ini hanya dilihatnya dari kejauhan.
Arpan tidak banyak bicara setelah itu.
Ia mencari informasi.
Menanyakan jadwal latihan.
Menghitung ongkos.
Menyisihkan uang sebisanya.
Meski sesekali masih mengeluh ketika kebutuhan lain datang bersamaan, ia tidak pernah meminta Ryiani berhenti hanya karena merasa lelah mencari biaya.
Pada hari pertama latihan karate, Arpan mengantar Ryiani.
Ia tidak banyak berbicara di perjalanan.
Hanya sesekali mengingatkan,
“Jangan takut.”
“Iya.”
“Kalau jatuh, bangun.”
“Iya.”
“Kalau sakit?”
Ryiani menatap ayahnya.
“Katanya jangan takut.”
Arpan tertawa kecil.
“Beda.”
Ryiani tersenyum.
Saat latihan dimulai, Arpan tidak langsung pulang.
Ia berdiri cukup jauh, memperhatikan putrinya belajar gerakan dasar.