Keputusan Ryiani untuk kuliah mengubah banyak hal di rumah mereka.
Sebelumnya, kebutuhan keluarga masih dapat dihitung dari hari ke hari.
Beras.
Lauk.
Pakaian.
Biaya sekolah.
Keperluan rumah.
Namun pendidikan tinggi membawa jenis kebutuhan yang berbeda.
Uang pendaftaran.
Biaya semester.
Tempat tinggal.
Transportasi.
Buku.
Kebutuhan harian.
Dan berbagai pengeluaran lain yang sering datang tanpa dapat diperkirakan.
Arpan mulai lebih sering duduk diam pada malam hari.
Di hadapannya terdapat beberapa lembar uang yang disusun, dihitung, lalu disusun kembali.
Jumlahnya tidak pernah berubah.
Tetap kurang.
Rida memperhatikannya dari dapur.
“Cukup?” tanyanya.
Arpan menggeleng.
“Belum.”
“Kurang berapa?”
Arpan menyebutkan jumlahnya.
Rida terdiam.
Angka itu tidak kecil bagi keluarga mereka.
Sawah dan kebun masih menghasilkan, tetapi tidak selalu dapat memberikan uang tepat pada saat dibutuhkan. Ada musim ketika hasil panen baik. Ada pula masa ketika biaya pupuk, cuaca, dan kebutuhan lain menghabiskan sebagian besar pendapatan.
Arpan menghela napas.
“Mungkin dia kuliah tahun depan saja.”
Rida langsung menoleh.
“Dia sudah diterima.”
“Aku tahu.”
“Kalau ditunda, belum tentu tahun depan bisa.”
“Aku juga tahu.”
Nada suara Arpan mulai terdengar berat.
Ia bukan tidak ingin menyekolahkan putrinya.
Justru keinginan itu begitu besar hingga membuatnya takut.
Takut memulai sesuatu yang tidak mampu diselesaikan.
Takut Ryiani harus berhenti di tengah jalan.
Takut kehidupan anaknya akan mengulang kegagalannya sendiri.
Ryiani mendengar sebagian percakapan itu dari kamar.
Ia tidak keluar.
Hanya duduk di tepi tempat tidur sambil memegang surat penerimaan yang sejak beberapa hari sebelumnya selalu dibacanya.
Ia telah membayangkan kehidupan kampus.
Membayangkan ruang kelas baru.
Teman-teman baru.
Buku-buku baru.
Dan jalan yang dapat membawanya pada kehidupan lebih luas daripada kampung tempatnya dibesarkan.
Namun malam itu, semua bayangan tersebut terasa begitu jauh.
Ryiani tahu orang tuanya tidak kaya.
Ia juga tahu ayahnya tidak memiliki penghasilan tetap yang selalu dapat diandalkan.
Selama ini, banyak keinginannya dipenuhi melalui usaha yang tidak pernah ia lihat sepenuhnya.
Karate.
Voli.
Pramuka.
Kegiatan sekolah.
Semua telah menghabiskan biaya.
Kini kuliah meminta jauh lebih banyak.
Pagi berikutnya, Ryiani menemui Arpan.
Ayahnya sedang duduk di beranda sambil merokok.
“Ayah.”
Arpan menoleh.
“Hm?”
“Kalau memang tidak bisa, aku tidak usah kuliah dulu.”
Arpan langsung memandangnya lebih serius.
“Siapa bilang tidak bisa?”
“Aku dengar pembicaraan Ayah sama Mamak.”
Arpan mematikan rokoknya.
“Kau jangan pikirkan itu.”
“Tapi uangnya banyak.”
“Itu urusan Ayah.”
Ryiani menunduk.
“Aku bisa kerja dulu.”
Arpan terdiam.
Kalimat itu seperti membawa dirinya kembali ke masa lalu.
Seandainya dahulu ia memiliki kesungguhan sebesar putrinya, mungkin hidupnya akan berbeda.
Ia tidak ingin anaknya melepaskan kesempatan hanya karena merasa menjadi beban.
“Tidak,” kata Arpan.
Ryiani mengangkat wajah.
“Kau tetap kuliah.”
“Tapi—”
“Ayah bilang tetap kuliah.”
Nada suara Arpan terdengar tegas.
Tidak keras.
Namun tidak memberi ruang untuk dibantah.
“Kita usahakan.”
Kalimat itu kembali diucapkan.
Kali ini dengan beban yang jauh lebih besar.
Hari-hari berikutnya dipenuhi usaha mencari biaya.
Arpan mendatangi beberapa orang.
Menanyakan kemungkinan meminjam uang.
Menghitung hasil kebun.
Menjual sebagian yang dapat dijual.
Mengurangi kebutuhan yang dianggap tidak mendesak.
Rida ikut membantu dari hasil bertani.
Ia menyimpan sebagian uang sedikit demi sedikit.
Tidak ada satu sumber besar yang langsung menyelesaikan semua masalah.
Biaya itu terkumpul dari banyak bagian kecil.
Hasil panen.
Pinjaman keluarga.
Tabungan Rida.
Uang yang disisihkan Arpan.
Dan bantuan saudara yang memahami keadaan mereka.
Ketika akhirnya jumlahnya cukup untuk membayar keperluan awal, Arpan menyerahkan uang itu kepada Ryiani.
“Pegang baik-baik.”
Ryiani menerimanya dengan kedua tangan.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ayah dapat dari mana?”
“Tidak usah banyak tanya.”
“Ayah pinjam?”
Arpan tidak menjawab.
Diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Ryiani menggenggam uang itu lebih erat.
Ia tahu setiap lembar di tangannya tidak datang dengan mudah.
Ada tenaga.
Ada rasa malu ketika meminta bantuan.
Ada kebutuhan yang mungkin harus ditunda.
Dan ada seorang ayah yang tidak ingin putrinya mengetahui betapa sulit perjuangan tersebut.
Hari keberangkatan Ryiani menuju tempat kuliah terasa seperti pengulangan dari perjalanan Arpan dahulu.
Rida sibuk menyiapkan pakaian.
Makanan dimasukkan ke dalam tas.
Berbagai nasihat diulang berkali-kali.
“Jangan lupa makan.”
“Jaga diri.”
“Jangan terlalu percaya pada orang.”
“Kalau sakit, langsung bilang.”
Ryiani mengangguk satu per satu.
Arpan berdiri tidak jauh dari mereka.
Ia tidak banyak bicara.
Namun sejak pagi, wajahnya terlihat lebih serius.
Sebelum Ryiani berangkat, Arpan memanggilnya.
“Nak.”
Ryiani mendekat.
Arpan mengeluarkan sedikit uang dari sakunya.
“Ini simpan.”
Ryiani melihat jumlahnya.
“Ayah, ini untuk apa?”
“Pegangan.”
“Tapi tadi sudah ada.”
“Simpan saja.”
Ryiani tahu mungkin itu adalah sisa uang yang dimiliki ayahnya.
“Kalau Ayah butuh?”
Arpan menggeleng.
“Ayah bisa cari lagi.”
Kalimat itu membuat Ryiani hampir menangis.
Namun ia menahannya.
Ia tidak ingin keberangkatannya dipenuhi kesedihan.
“Aku akan belajar sungguh-sungguh.”
Arpan mengangguk.
“Jangan seperti Ayah.”
Kalimat itu diucapkan tanpa senyum.
Ryiani tidak langsung menjawab.
Ia memahami betapa berat bagi Arpan mengakui kegagalannya sendiri.
“Aku akan selesai,” katanya.
Arpan menatap putrinya.
“Harus.”
Setelah Ryiani pergi, rumah terasa berbeda.
Kamar anak itu menjadi lebih sepi.
Tidak ada lagi buku yang berserakan.
Tidak ada suara Ryiani yang bercerita tentang sekolah.
Tidak ada pertanyaan mengenai kebutuhan kegiatan.
Rida mulai lebih sering menerima kabar melalui telepon.
Arpan hampir tidak pernah menelepon sendiri.
Namun setiap kali Ryiani menelepon ibunya, ia selalu duduk tidak jauh dari Rida.
Berpura-pura melakukan sesuatu.
Memperbaiki benda.
Merokok di dekat pintu.
Atau hanya duduk sambil menatap halaman.
Padahal telinganya mendengarkan setiap percakapan.
“Bagaimana kuliahmu?”
“Sudah makan?”
“Tempat tinggal aman?”