Beasiswa itu mengubah banyak hal dalam kehidupan Ryiani.
Beban biaya yang selama ini menghantui keluarga perlahan berkurang. Arpan tidak lagi harus mencari uang dengan kepanikan yang sama setiap kali masa pembayaran kuliah mendekat. Rida pun dapat bernapas sedikit lebih lega.
Namun bagi Ryiani, beasiswa bukan alasan untuk bersantai.
Justru sejak menerima bantuan pendidikan itu, ia merasa memikul tanggung jawab yang lebih besar.
Ia belajar lebih sungguh-sungguh.
Mengikuti perkuliahan dengan disiplin.
Mengerjakan tugas hingga larut malam.
Mengurangi waktu bermain.
Dan berusaha memastikan bahwa setiap pengorbanan kedua orang tuanya tidak berakhir sia-sia.
Setiap kali merasa lelah, ia selalu teringat wajah Arpan ketika hampir memintanya berhenti kuliah.
Ia teringat malam ketika dirinya menangis dan meminta ayahnya berhenti minum.
Ia juga mengingat uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit agar dirinya tetap dapat membayar biaya semester.
Semua kenangan itu menjadi alasan untuk terus bertahan.
Ryiani tidak ingin pulang membawa kegagalan.
Ia ingin pulang dengan sesuatu yang dapat diletakkan di hadapan ayahnya.
Sesuatu yang dahulu tidak pernah berhasil dibawa pulang Arpan dari Aceh.
Ijazah.
Arpan tetap mengikuti perjalanan kuliah putrinya dengan caranya sendiri.
Ia jarang bertanya tentang nilai secara terperinci.
Tidak memahami setiap mata kuliah.
Tidak pula mengetahui betapa rumit tugas-tugas yang sedang dikerjakan Ryiani.
Namun setiap kali Rida menerima telepon, Arpan selalu berada tidak jauh darinya.
Kadang duduk di beranda.
Kadang memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tidak rusak.
Kadang hanya merokok sambil memandang halaman.
“Sudah makan?” tanya Rida melalui telepon.
“Sudah, Mak.”
“Jangan terlalu sering tidur malam.”
“Iya.”
“Uangnya masih ada?”
“Masih.”
Arpan tetap diam.
Namun setelah percakapan berlangsung beberapa menit, ia mulai memberi isyarat kepada Rida.
Tanyakan kuliahnya.
Tanyakan kesehatannya.
Tanyakan kapan pulang.
Rida kadang sengaja mengabaikan isyarat itu.
Akhirnya Arpan berbisik,
“Tanya kapan ujiannya.”
Rida menoleh sambil menahan senyum.
“Bicara sendiri.”
Arpan langsung menggeleng.
“Tidak usah.”
Namun ketika telepon diberikan kepadanya, ia tetap menerimanya.
“Halo.”
Suara Ryiani terdengar ceria dari seberang.
“Ayah.”
“Hm.”
“Ayah sehat?”
“Sehat.”
“Mamak bilang Ayah mau tanya sesuatu.”
Arpan melirik Rida.
Rida berpura-pura tidak melihat.
“Kuliahmu bagaimana?”
“Baik.”
“Jangan malas.”
“Iya.”
“Jangan terlalu banyak main.”
“Aku tidak seperti Ayah.”
Ryiani tertawa kecil.
Arpan terdiam sejenak, lalu ikut tersenyum.
“Bagus.”
Percakapan mereka hampir selalu singkat.
Namun setelah telepon ditutup, Arpan akan menanyakan kembali semua hal kepada Rida, seolah-olah beberapa menit berbicara langsung dengan putrinya belum cukup.
Tahun-tahun perkuliahan terus berjalan.
Ryiani memasuki tahap akhir pendidikannya.
Tugas akhir mulai memenuhi hari-harinya.
Ada masa ketika penelitiannya tidak berjalan sesuai harapan.
Ada revisi yang harus dikerjakan berulang kali.
Ada malam-malam ketika ia merasa lelah dan ingin menyerah.
Pada salah satu malam itu, Ryiani menelepon ibunya.
Suaranya terdengar berbeda.
“Aku capek, Mak.”
Rida langsung khawatir.
“Capek bagaimana?”
“Revisinya banyak.”
“Tidak apa-apa. Dikerjakan pelan-pelan.”
“Aku merasa tidak bisa.”
Arpan yang duduk di dekat pintu mendengar semuanya.
Ia mengulurkan tangan meminta telepon.
Rida menyerahkannya.
“Ryiani.”
“Iya, Yah.”
“Kau mau berhenti?”
Pertanyaan itu membuat Ryiani terdiam.
“Tidak.”
“Kalau tidak mau berhenti, kerjakan.”
“Tapi sulit.”
Arpan menarik napas.
“Ayah dulu berhenti karena terlalu sering bilang nanti.”
Ryiani mendengarkan.
“Kalau kau menunda karena takut sulit, nanti penyesalannya lebih sulit lagi.”
Kalimat itu keluar dari pengalaman yang telah dibayar Arpan dengan bertahun-tahun rasa bersalah.
Ryiani mengusap air matanya.
“Ayah yakin aku bisa?”
Arpan tidak ragu.
“Bisa.”
Hanya satu kata.
Namun Ryiani tahu ayahnya tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak dipercayainya.
Malam itu, ia kembali membuka pekerjaannya.
Tidak lama kemudian, kabar kelulusan akhirnya datang.
Ryiani telah menyelesaikan seluruh kewajibannya.
Ia dinyatakan lulus.
Ketika Rida menyampaikan kabar itu, Arpan sedang duduk di halaman.
“Anakmu sudah lulus.”
Arpan menoleh cepat.
“Sudah selesai semuanya?”
“Sudah.”
“Benar-benar selesai?”
Rida tertawa kecil.
“Iya. Tidak seperti kau yang berhenti di tengah jalan.”
Kalimat itu terdengar seperti candaan, tetapi menyentuh bagian lama dalam diri Arpan.
Anehnya, kali ini ia tidak merasa tersinggung.
Ia justru tersenyum.
Putrinya telah melakukan apa yang tidak berhasil dilakukannya.
Menyelesaikan.
Tidak berhenti.
Tidak pulang di tengah jalan.
Arpan berdiri, lalu masuk ke rumah tanpa banyak bicara.
Rida memperhatikan suaminya pergi.
Ia tahu Arpan sedang berusaha menyembunyikan rasa bangga.
Seperti ketika mendengar kabar beasiswa dahulu, lelaki itu membutuhkan ruang untuk menangis tanpa dilihat siapa pun.
Hari wisuda tiba.
Ryiani mengenakan pakaian wisuda dengan wajah yang dipenuhi kegembiraan sekaligus haru.
Rida memandang anaknya berkali-kali.
Ia merapikan bagian pakaian yang sebenarnya sudah rapi.
Memastikan rambutnya tidak berantakan.
Menyentuh pipinya dengan bangga.
Arpan berdiri sedikit jauh.
Ia mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya.
Wajahnya tetap tenang.
Namun sejak pagi, pandangannya hampir tidak pernah lepas dari putrinya.
“Ayah,” panggil Ryiani.
Arpan mendekat.
“Bagaimana?”
“Bagaimana apa?”
“Aku sudah jadi sarjana.”
Arpan mengangguk.
“Iya.”
“Hanya itu?”
“Mau bilang apa lagi?”
Ryiani tertawa kecil.
“Bilanglah aku cantik.”
Arpan memandang putrinya dari atas sampai bawah.
“Lumayan.”
Ryiani langsung menggeleng.
Rida tertawa melihat mereka.
Arpan memang tidak pernah berubah dalam urusan mengucapkan perasaan.
Namun ketika Ryiani membalikkan badan, ia masih memandang anak itu cukup lama.
Di dalam dirinya, ia seperti melihat dua kehidupan sekaligus.
Hidupnya sendiri yang berhenti di semester enam.
Dan kehidupan putrinya yang berhasil sampai pada hari wisuda.
Ketika nama Ryiani dipanggil, Arpan duduk tegak.
Ia memperhatikan putrinya berjalan menuju panggung.
Setiap langkah Ryiani terasa seperti jawaban atas doa yang selama ini tidak pernah mampu diucapkannya.
Putrinya menerima pengakuan kelulusan.
Tersenyum.
Lalu kembali ke tempatnya.
Orang-orang bertepuk tangan.
Arpan ikut bertepuk tangan pelan.
Matanya mulai basah.