"Rahim yang Hampir Melepaskanku"

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #18

Rumah yang Kembali Sunyi

Keberangkatan Ryiani meninggalkan kesunyian yang berbeda di rumah Arpan dan Rida.

Dahulu, rumah mereka tidak pernah benar-benar tenang. Selalu ada suara Ryiani yang bercerita, langkahnya yang tergesa ketika hendak pergi, buku-buku yang diletakkan sembarangan, atau pertanyaan kecil yang membuat Rida mengomel dan Arpan berpura-pura tidak mendengar.

Kini, semua itu perlahan hilang.

Kamar Ryiani tetap berada di tempat yang sama.

Pakaiannya masih tersusun di dalam lemari.

Beberapa buku lama masih memenuhi meja.

Namun ruangan itu tidak lagi memiliki suara.

Setiap kali melewati pintunya, Arpan sering melirik ke dalam.

Kadang hanya beberapa detik.

Kadang berdiri cukup lama tanpa alasan yang jelas.

Rida beberapa kali memergokinya.

“Sedang cari apa?” tanyanya.

Arpan langsung mengalihkan pandangan.

“Tidak ada.”

“Kalau rindu, bilang saja.”

“Siapa yang rindu?”

Rida hanya tersenyum kecil.

Ia tidak lagi memaksa suaminya mengakui perasaan yang sudah terlalu mudah dibaca.

Ryiani menjalani hari-harinya di perantauan dengan kesibukan yang jauh lebih padat dibanding masa kuliah sebelumnya.

Tugas datang hampir tanpa jeda.

Bacaan semakin banyak.

Diskusi, presentasi, dan berbagai tanggung jawab akademik mengisi sebagian besar waktunya.

Ada hari ketika ia merasa sangat bersemangat.

Ada pula malam ketika ia duduk sendirian, memandangi layar dan bertanya apakah dirinya benar-benar sanggup menyelesaikan semuanya.

Pada saat-saat seperti itu, rumah menjadi tempat pertama yang dirindukannya.

Ia menelepon Rida hampir setiap hari.

Kadang hanya sebentar.

Kadang berlangsung lama.

Ia menceritakan banyak hal.

Tentang dosen.

Tentang teman-teman.

Tentang tugas yang sulit.

Tentang makanan yang tidak selalu sesuai selera.

Tentang tubuh yang mulai lelah karena terlalu sering tidur larut malam.

Rida mendengarkan semua cerita itu dengan sabar.

Sementara Arpan, seperti biasa, duduk tidak jauh dari istrinya.

Ia jarang meminta telepon.

Namun selalu memastikan suaranya cukup keras untuk didengar.

“Sudah makan?” tanya Rida.

“Sudah, Mak.”

“Makan apa?”

Ryiani menyebutkan makanan sederhana yang baru saja disantapnya.

Arpan langsung menoleh.

“Itu saja?” bisiknya.

Rida mengangguk sambil tetap memegang telepon.

“Besok makan yang lebih baik,” kata Rida.

“Uangmu masih ada?”

“Masih.”

Arpan memberi isyarat lagi.

Tanya dia sehat atau tidak.

Tanya tempat tinggalnya aman.

Tanya kapan pulang.

Rida pura-pura tidak memahami.

Akhirnya Arpan berbisik sedikit lebih keras,

“Tanya kesehatannya.”

Ryiani mendengar suara itu dari seberang.

“Ayah ada di dekat Mamak?”

Rida tertawa.

“Ada.”

“Kasih teleponnya.”

Rida menyerahkan telepon kepada Arpan.

Arpan menerimanya dengan enggan, meski sebenarnya sejak awal berharap dapat berbicara.

“Halo.”

“Ayah.”

“Hm.”

“Ayah sehat?”

“Sehat.”

“Kenapa tidak pernah menelepon duluan?”

Arpan terdiam.

“Mamak yang pegang telepon.”

“Ayah juga bisa pegang.”

“Kan sudah bicara sekarang.”

Ryiani tertawa kecil.

“Ayah rindu?”

“Tidak.”

“Aku rindu Ayah.”

Arpan tidak langsung menjawab.

Ia memandang halaman yang mulai gelap.

Beberapa detik kemudian, ia berkata,

“Jaga kesehatan.”

Bukan jawaban yang ditunggu Ryiani.

Namun anak itu memahami ayahnya.

Kalimat tersebut adalah cara lain Arpan mengatakan bahwa ia juga rindu.

Sejak Ryiani pergi, Arpan semakin sering membantu Rida di rumah.

Ia masih bertani dan mengurus berbagai pekerjaan lain yang dapat dilakukan.

Namun ia tidak lagi banyak menghabiskan malam di luar.

Kebiasaan minum tuak yang dahulu begitu sulit dilepaskan perlahan benar-benar ditinggalkannya.

Sesekali teman lama datang mengajak.

“Sekali-sekali duduklah bersama kami.”

Arpan biasanya hanya tersenyum.

“Lain kali.”

Namun lain kali itu tidak pernah benar-benar datang.

Ia telah terlalu banyak kehilangan waktu bersama keluarga.

Kini, saat putrinya berada jauh, Arpan mulai memahami bahwa tidak semua kebersamaan dapat diulang.

Ada masa ketika seorang anak membutuhkan ayahnya.

Ada masa ketika rumah dipenuhi suara.

Namun ketika waktu bergerak, semua itu perlahan menjauh.

Arpan tidak ingin menyia-nyiakan sisa yang masih dimilikinya.

Di tengah kesibukan Ryiani menjalani pendidikan, kesehatan Sarni mulai menurun.

Usia telah membuat tubuh perempuan itu jauh lebih lemah daripada dahulu.

Langkahnya tidak lagi secepat ketika berjalan kaki menuju kampung orang tuanya untuk membawa pulang uang dan sembako.

Tangannya tidak lagi sekuat ketika mengurus delapan anak.

Rambutnya hampir seluruhnya memutih.

Namun satu hal tidak pernah berubah.

Kasih sayangnya kepada anak-anak.

Termasuk kepada Arpan.

Setiap kali Arpan datang menjenguk, Sarni selalu menanyakan hal yang sama.

“Sudah makan?”

Arpan tersenyum.

“Sudah, Mak.”

“Rida sehat?”

“Sehat.”

“Ryiani bagaimana?”

“Baik. Masih kuliah.”

Sarni mengangguk pelan.

“Anak itu hebat.”

Arpan tidak pernah membantah.

“Iya.”

“Lebih rajin daripada ayahnya.”

Arpan tertawa kecil.

“Jauh.”

Sarni ikut tersenyum.

Di mata perempuan itu, Arpan tetaplah anak yang dahulu sering pulang dengan pakaian penuh lumpur.

Anak yang meninggalkan sapi demi bermain.

Anak yang membuatnya berkali-kali menunggu di beranda.

Meski wajah Arpan telah dipenuhi garis usia, Sarni masih memandangnya sebagai putra yang harus ditanyakan apakah sudah makan.

Arpan semakin sering datang ke rumah ibunya.

Kadang membawa makanan.

Lihat selengkapnya