"Rahim yang Hampir Melepaskanku"

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #19

Mimpi yang Pulang Melalui Anak"Ada mimpi yang gagal dicapai oleh satu generasi, lalu kembali tumbuh dalam langkah generasi berikutnya."

BAB 19

Mimpi yang Pulang Melalui Anak“Ada mimpi yang gagal dicapai oleh satu generasi, lalu kembali tumbuh dalam langkah generasi berikutnya.”

Tahap akhir pendidikan magister menjadi masa paling melelahkan bagi Ryiani.

Hari-harinya dipenuhi catatan, revisi, dan tenggat waktu yang terasa semakin dekat. Ada bagian penelitian yang harus diperbaiki. Ada pendapat yang harus dipertahankan. Ada tulisan yang berulang kali dibaca hingga kata-katanya terasa kehilangan makna.

Kadang Ryiani merasa dirinya mampu menyelesaikan semuanya.

Namun pada malam-malam tertentu, keyakinannya runtuh begitu saja.

Ia duduk di depan layar dengan mata lelah.

Punggungnya terasa sakit.

Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak berhenti datang.

Apakah pekerjaannya sudah cukup baik?

Apakah ia mampu menyelesaikannya tepat waktu?

Apakah semua pengorbanan yang telah diberikan keluarganya akan berakhir dengan hasil yang layak?

Pada saat-saat seperti itu, Ryiani selalu teringat rumah.

Ia teringat Rida yang tidak pernah berhenti mendoakan.

Ia teringat Arpan yang berkali-kali mengatakan bahwa dirinya mampu.

Dan ia teringat satu pesan yang paling sering diulang ayahnya.

Jangan berhenti.

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi Ryiani, kalimat tersebut membawa seluruh riwayat hidup Arpan.

Kegagalan di Aceh.

Janji kepada Bapak Taol yang tidak terpenuhi.

Penyesalan karena pulang tanpa gelar.

Serta harapan agar putrinya tidak mengulangi jalan yang sama.

Karena itu, setiap kali ingin menyerah, Ryiani kembali membuka pekerjaannya.

Ia membaca lagi.

Memperbaiki lagi.

Dan bertahan satu hari lebih lama.

Di kampung, Arpan mengikuti perjalanan itu melalui kabar-kabar pendek.

Ia tidak memahami seluruh istilah yang disampaikan Ryiani.

Tidak memahami perbedaan antara seminar, revisi, ujian, dan tahapan akademik lainnya.

Namun ia memahami suara lelah putrinya.

Suatu malam, Ryiani menelepon.

Rida sedang berada di dapur, sehingga Arpan yang lebih dahulu mengangkat telepon.

“Halo.”

“Ayah.”

“Hm.”

“Ayah sedang apa?”

“Duduk.”

“Sendiri?”

“Mamakmu di dapur.”

Ryiani terdiam beberapa saat.

“Aku capek, Yah.”

Arpan tidak langsung menjawab.

Ia mulai mengenal kalimat itu.

Dahulu, ketika Ryiani hampir menyelesaikan S1, keluhan yang sama pernah keluar dari mulutnya.

“Ada apa?”

“Revisinya belum selesai.”

“Kerjakan.”

“Aku sudah kerjakan.”

“Kalau belum selesai, berarti lanjutkan.”

Ryiani menghela napas.

“Ayah selalu jawabnya begitu.”

“Mau dijawab bagaimana?”

“Sekali-sekali bilang tidak apa-apa kalau gagal.”

Arpan terdiam.

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi menyentuh sesuatu di dalam dirinya.

Ia mengetahui seperti apa rasanya gagal.

Mengetahui bagaimana kegagalan dapat menetap bertahun-tahun di dalam diri seseorang.

Namun ia juga tahu bahwa kegagalan tidak selalu berarti seseorang boleh berhenti sebelum benar-benar mencoba.

“Kalau kau sudah melakukan semuanya dan tetap gagal, itu lain,” kata Arpan.

Ryiani mendengarkan.

“Tapi kalau kau berhenti karena takut gagal, itu namanya menyerah.”

Suara Ryiani menjadi lebih pelan.

“Aku takut tidak bisa.”

Arpan menatap halaman rumah yang gelap.

“Ayah juga dulu takut.”

“Lalu?”

“Ayah lari.”

Ryiani terdiam.

Pengakuan seperti itu jarang sekali keluar dari mulut Arpan.

“Ayah tidak mau kau lakukan hal yang sama.”

Ryiani menutup matanya.

Air matanya mulai jatuh.

“Ayah menyesal?”

Arpan tidak segera menjawab.

“Setiap hari.”

Jawaban itu hanya dua kata.

Namun cukup membuat Ryiani memahami bahwa pendidikan yang sedang dijalaninya bukan sekadar miliknya.

Ada penyesalan seorang ayah yang berjalan bersamanya.

Ada harapan seorang kakek yang dahulu tidak sempat melihat anaknya lulus.

Ada kerja keras keluarga yang diwariskan tanpa pernah dituliskan.

“Aku akan selesai,” kata Ryiani.

Arpan mengangguk meski putrinya tidak dapat melihat.

“Harus.”

Beberapa minggu kemudian, Ryiani menghadapi ujian akhir.

Sejak pagi, tangannya terasa dingin.

Semua yang telah dipersiapkan seolah menghilang dari kepalanya.

Namun ketika duduk menunggu, ia teringat wajah Arpan.

Ayahnya tidak pernah menjadi orang yang pandai menyusun nasihat panjang.

Tetapi setiap perkataannya datang dari pengalaman yang nyata.

Ryiani menarik napas.

Ia telah berjalan terlalu jauh untuk berhenti di depan pintu terakhir.

Ujian berlangsung menegangkan.

Ada pertanyaan yang dapat dijawab dengan baik.

Ada pula pertanyaan yang membuatnya harus berpikir lebih lama.

Sesekali suaranya bergetar.

Namun ia terus bertahan.

Ia menjelaskan.

Mempertahankan.

Mengakui bagian yang masih harus diperbaiki.

Dan menerima setiap masukan dengan kepala tegak.

Ketika ujian selesai, Ryiani keluar dengan tubuh lelah.

Ia belum langsung mengetahui hasil akhirnya.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Kemudian keputusan itu disampaikan.

Ryiani dinyatakan lulus.

Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam.

Tidak tersenyum.

Tidak menangis.

Seolah seluruh tubuhnya membutuhkan waktu untuk memahami bahwa perjalanan panjang itu telah benar-benar mencapai ujung.

Setelah itu, air matanya jatuh.

Bukan hanya karena bahagia.

Melainkan karena ia teringat semua hal yang telah membawa dirinya sampai ke tempat tersebut.

Uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Hari-hari ketika Arpan bekerja meski tubuhnya lelah.

Permintaan agar ia tidak berhenti.

Beasiswa yang menyelamatkan pendidikannya.

Kepergian Sarni.

Dan keyakinan ayahnya yang tidak pernah berubah.

Orang pertama yang ingin dikabarinya adalah Arpan.

Telepon berdering di rumah.

Rida yang mendengarnya lebih dahulu segera memanggil suaminya.

“Pan, telepon dari Ryiani.”

Arpan berjalan mendekat.

“Mengapa tidak kau angkat?”

“Untukmu.”

Arpan menerima telepon itu.

“Halo.”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Yang terdengar hanya suara napas Ryiani.

“Kenapa diam?” tanya Arpan.

“Ayah.”

Suara Ryiani terdengar bergetar.

“Hm.”

“Aku lulus.”

Arpan tidak langsung menjawab.

Rida memperhatikan wajah suaminya.

Tangan Arpan yang memegang telepon terlihat menegang.

“Lulus bagaimana?” tanyanya, seolah membutuhkan kepastian.

“Ujian akhirnya sudah selesai.”

“Aku dinyatakan lulus.”

“Aku sudah selesai, Yah.”

Kata selesai membuat dada Arpan terasa sesak.

Selama bertahun-tahun, kata itu menjadi sesuatu yang tidak berhasil dicapainya.

Sesuatu yang terus hidup sebagai penyesalan.

Kini, kata yang sama datang melalui suara putrinya.

Arpan memejamkan mata.

“Benar?”

Ryiani tertawa sambil menangis.

“Benar.”

Arpan menundukkan kepala.

Rida melihat bahunya bergerak perlahan.

Lihat selengkapnya