BAB 20
Mimpi yang Tetap Hidup“Mimpi tidak selalu berakhir ketika berhasil dicapai. Kadang, setelah sampai, mimpi justru berubah menjadi jalan bagi kehidupan yang baru.”
Setelah menyelesaikan pendidikan magister, kehidupan Ryiani tidak langsung menjadi mudah.
Gelar yang kini mengikuti namanya memang membawa kebanggaan. Namun gelar itu juga menghadirkan pertanyaan baru.
Apa yang harus dilakukan setelah ini?
Ke mana ia akan melangkah?
Apakah ia akan bekerja jauh dari kampung?
Apakah ia akan melanjutkan perjalanan akademiknya?
Atau kembali menetap di rumah dan hidup lebih dekat dengan kedua orang tuanya?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikirannya dalam hari-hari setelah wisuda.
Untuk sementara, Ryiani memilih tinggal di rumah.
Ia ingin beristirahat.
Ingin menikmati kembali makanan buatan Rida.
Ingin tidur di kamar lamanya.
Dan ingin menghabiskan waktu bersama Arpan yang selama beberapa tahun hanya ditemuinya dalam jarak-jarak singkat.
Kepulangannya membuat rumah kembali dipenuhi suara.
Pagi hari, terdengar langkahnya menuju dapur.
Siang hari, buku-buku dan dokumen kembali memenuhi meja.
Malam hari, ia duduk bersama Rida sambil menceritakan rencana-rencana yang belum sepenuhnya tersusun.
Arpan tidak pernah ikut sejak awal percakapan.
Ia biasanya duduk di beranda.
Namun seperti biasa, ia tetap mendengar.
“Aku sedang mencari pekerjaan,” kata Ryiani suatu malam.
“Di mana?” tanya Rida.
“Belum tahu.”
“Jauh?”
“Bisa jadi.”
Arpan yang duduk di dekat pintu langsung menoleh.
Namun ia tidak mengatakan apa-apa.
Rida memperhatikan suaminya.
“Kalau jauh, bagaimana?” tanyanya sengaja.
Ryiani berpikir sejenak.
“Kalau pekerjaannya baik, mungkin aku ambil.”
Arpan mengembuskan napas perlahan.
Tangannya memainkan ujung kursi.
Ia pernah mengatakan bahwa putrinya harus mengejar masa depan.
Pernah meminta Ryiani pergi sejauh yang diperlukan.
Namun ketika kemungkinan itu kembali berdiri di hadapannya, hatinya tetap terasa berat.
Sejak Ryiani kembali, Arpan menjadi lebih sering berada di rumah.
Ia tidak lagi banyak duduk di warung.
Tidak lagi pulang ketika malam sudah terlalu larut.
Hari-harinya lebih banyak diisi dengan pekerjaan di kebun, membantu urusan rumah, dan duduk bersama Rida pada sore hari.
Perubahan itu tidak terjadi secara tiba-tiba.
Ia tumbuh dari tahun-tahun panjang.
Dari pertengkaran.
Dari perpisahan sementara.
Dari tangisan anaknya.
Dari kehilangan kedua orang tuanya.
Dan dari kesadaran bahwa waktu bersama keluarga tidak pernah benar-benar panjang.
Rida mulai melihat Arpan yang berbeda.
Lelaki itu masih pendiam.
Masih keras kepala dalam beberapa hal.
Masih sulit mengucapkan rasa terima kasih.
Namun ia tidak lagi mudah pergi saat ada masalah.
Jika dahulu setiap pertengkaran membuat Arpan memilih keluar rumah, kini ia lebih sering diam di tempat.
Menunggu.
Mendengarkan.
Dan meski tidak selalu langsung mengakui kesalahan, ia tidak lagi menghindar selama berhari-hari.
Suatu pagi, Rida sedang mengangkat hasil kebun ketika Arpan menghampirinya.
“Letakkan.”
Rida menoleh.
“Kenapa?”
“Berat.”
“Aku biasa.”
Arpan mengambil beban itu dari tangannya.
“Sekarang tidak perlu semua kau kerjakan sendiri.”
Rida memandang suaminya.
Kalimat itu sederhana.
Namun puluhan tahun sebelumnya, kalimat seperti itu hampir tidak pernah keluar dari mulut Arpan.
“Baru sekarang kau sadar?” tanya Rida.
Arpan tetap berjalan.
“Daripada tidak pernah.”
Rida tersenyum kecil.
Ia tidak menjawab lagi.
Ada banyak luka yang tidak pernah sepenuhnya hilang dari rumah tangga mereka.
Namun ada pula perubahan yang layak dihargai.
Rida tidak melupakan masa-masa ketika dirinya harus menunggu.
Tidak melupakan malam ketika Arpan pulang dengan bau tuak.
Tidak melupakan uang yang pernah habis dalam perjudian.
Tidak melupakan saat-saat ketika ia pulang ke rumah ibunya sambil membawa Ryiani.
Namun ia juga tidak dapat menolak kenyataan bahwa lelaki yang berjalan di depannya kini telah berbeda.
Tidak sempurna.
Tidak sepenuhnya bebas dari kesalahan.
Namun lebih sadar bahwa rumah tidak dapat terus-menerus ditinggalkan dan diharapkan tetap utuh.
Ryiani memperhatikan perubahan kedua orang tuanya.
Ketika masih kecil, ia sering melihat Rida bekerja sendiri.
Memasak.
Mengurus rumah.
Bertani.
Menunggu suami.
Menahan kecewa.
Kini, ia melihat Arpan mulai lebih banyak membantu.
Kadang hanya pekerjaan kecil.
Menimba air.
Mengangkat hasil kebun.
Memperbaiki atap yang rusak.
Menyiapkan kayu.
Atau menemani Rida pergi ke suatu tempat.
Arpan tetap tidak romantis.
Ia tidak pernah membawa bunga.
Tidak mengatakan bahwa Rida adalah perempuan paling penting dalam hidupnya.
Tidak pandai mengingat hari-hari khusus.
Namun ia mulai hadir.
Dan Ryiani memahami bahwa bagi Rida, kehadiran itu mungkin lebih berarti daripada kata-kata yang datang terlambat.
Suatu sore, Ryiani duduk bersama ibunya di dapur.
Arpan sedang berada di halaman.
“Mamak masih sering marah sama Ayah?” tanyanya.
Rida menoleh.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Dulu Mamak sering pergi.”
Rida tersenyum tipis.
“Itu dulu.”
“Sekarang?”
“Sekarang ayahmu sudah lebih banyak diam di rumah.”
Ryiani tertawa kecil.
“Dari dulu juga Ayah memang banyak diam.”
“Diamnya beda.”
Rida melanjutkan pekerjaannya.
“Dulu dia diam karena menghindar.”
“Sekarang dia diam karena sudah mulai belajar mendengar.”
Ryiani memandang ayahnya dari kejauhan.
Arpan sedang membetulkan pagar yang sedikit miring.
Gerakannya lebih lambat daripada dahulu.
Usia mulai terlihat dari cara ia berdiri.
Dari punggung yang tidak lagi setegak masa muda.
Dari rambut yang semakin memutih.
Untuk pertama kalinya, Ryiani menyadari bahwa ayahnya sedang menua.
Kesadaran itu menimbulkan rasa takut yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Selama ini, Arpan selalu terlihat kuat.
Selalu berada di rumah ketika ia pulang.
Selalu menjadi orang yang mengatakan bahwa dirinya mampu.
Namun waktu tidak akan membiarkan semua itu tetap sama.
Ryiani memahami bahwa suatu hari nanti, ia mungkin harus berjalan tanpa suara ayahnya.
Dan karena itu, ia tidak ingin menyia-nyiakan hari-hari yang masih tersedia.
Masa depan kembali dibicarakan dalam rumah itu.
Bukan hanya tentang pekerjaan.
Tetapi juga tentang pernikahan.
Laki-laki yang pernah datang dalam kehidupan Ryiani tidak benar-benar pergi.
Hubungan mereka tidak dibicarakan secara terburu-buru.
Tidak pula dipaksakan.
Ryiani tetap menjaga pendidikannya.
Tetap menyelesaikan S2.
Tetap memastikan bahwa keputusan mengenai pernikahan tidak menghentikan seluruh cita-citanya.
Arpan pada awalnya masih enggan membicarakan perkara itu.
Setiap kali Rida menyebut nama laki-laki tersebut, ia mengalihkan pembicaraan.
“Belum waktunya.”
“Anakmu sudah selesai S2,” kata Rida.
“Bisa kerja dulu.”
“Menikah bukan berarti tidak bisa bekerja.”
Arpan terdiam.
Ia tidak memiliki alasan kuat selain rasa takut yang belum pernah diakuinya.
Takut putrinya pergi.
Takut rumah kembali sunyi.
Takut dirinya tidak lagi menjadi orang pertama yang dicari Ryiani ketika menghadapi masalah.
Namun semakin lama, Arpan mulai memahami bahwa cinta seorang ayah tidak boleh berubah menjadi tali yang menahan anaknya.
Ia telah menyekolahkan Ryiani agar mampu memilih hidup.
Akan menjadi tidak adil jika setelah anak itu tumbuh kuat, ia justru tidak diberi ruang menentukan jalannya sendiri.
Suatu sore, Ryiani duduk bersama Arpan di beranda.
Langit mulai berubah warna.
Sawah di hadapan mereka terlihat keemasan terkena cahaya matahari yang hampir tenggelam.
“Ayah,” panggil Ryiani.
“Hm?”
“Aku ingin bicara.”
Arpan tidak menoleh.
“Bicaralah.”
“Masih tentang dia.”
Tangan Arpan yang memegang cangkir berhenti bergerak.
Beberapa detik ia hanya memandang ke depan.
“Dia masih menunggu?” tanyanya.
“Iya.”
“Sudah berapa lama?”
Ryiani menyebutkan lamanya.
Arpan mengangguk pelan.
“Dia tahu kau ingin bekerja?”
“Tahu.”
“Tahu kau mungkin harus pergi jauh?”
“Tahu.”