Blurb
Bab 1 - Rumah yang Tenggelam, Prasangka yang Surut
Bab pembuka memperkenalkan Farid (Jawa, Bangil) dan Anisa (Dayak, Kutai) yang menikah di tengah keraguan keluarga. Bayang-bayang konflik masa lalu membuat kedua keluarga takut. Ujian pertama datang lewat banjir yang merendam rumah kontrakan mereka. Namun justru di tengah musibah itu, akhlak, kesabaran, dan iman Anisa mulai meluluhkan hati keluarga Farid. Banjir tidak hanya menenggelamkan rumah, tapi juga perlahan menenggelamkan prasangka.
⸻
Bab 2 - Pelukan di Atas Genangan
Air belum surut, makanan terbatas, dan kelelahan fisik mulai terasa. Di tengah lapar dan dingin, cinta mereka justru tumbuh dalam bentuk saling menguatkan. Keluarga mulai melihat bahwa mereka tidak hidup dalam penderitaan, tapi dalam ketenangan iman. Bab ini menekankan bahwa kebahagiaan bukan tentang kondisi, tapi tentang kebersamaan karena Allah.
⸻
Bab 3 - Doa yang Mengapung di Atas Air
Banjir belum benar-benar selesai, tapi ibadah mereka justru makin hidup. Mereka shalat di atas papan kayu di tengah genangan. Keteguhan ini membuat keluarga benar-benar luluh. Bab ini menunjukkan bahwa dalam kondisi terendah, hubungan dengan Allah justru menjadi paling kuat.
⸻
Bab 4 - Saat Air Surut, Kekuatan Diuji
Air surut, tapi realita kehidupan mulai menekan: kerusakan rumah, keuangan menipis, dan masa depan yang belum jelas. Ujian bergeser dari bencana alam menjadi ujian mental dan tanggung jawab. Mereka belajar bahwa setelah musibah berlalu, perjuangan sebenarnya sering kali justru dimulai.
⸻
Bab 5 - Di Balik Senyum, Ada Pengorbanan
Farid bekerja lebih keras, Anisa diam-diam menjahit untuk membantu. Mereka saling berkorban tanpa ingin terlihat sebagai pahlawan. Bab ini menyoroti cinta dalam bentuk pengorbanan sunyi, yang hanya Allah benar-benar melihat.
⸻
Bab 6 - Saat Tubuh Melemah, Iman Menguat
Kelelahan membuat Farid jatuh sakit. Anisa diuji dengan rasa takut kehilangan. Dalam kondisi rapuh ini, mereka menyadari betapa berharganya pasangan sebagai amanah Allah. Bab ini memperdalam makna pernikahan sebagai tempat saling menjaga iman, bukan hanya berbagi kebahagiaan.
⸻
Bab 7 - Pertolongan yang Datang Tanpa Diduga
Saat mereka di titik terendah, bantuan datang dari tetangga dan tempat kerja. Mereka belajar bahwa pertolongan Allah sering hadir melalui manusia lain. Bab ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang bersabar.
⸻
Bab 8 - Langkah Kecil Menuju Cahaya
Farid mulai pulih dan kembali bekerja. Anisa membuka usaha jahit kecil. Kehidupan belum mudah, tapi mulai stabil. Mereka tidak lagi hanya bertahan, tapi mulai bangkit. Bab ini adalah fase harapan yang tumbuh perlahan.
⸻
Bab 9 - Saat Mereka Melihat dengan Mata Sendiri
Keluarga besar datang berkunjung dan menyaksikan langsung kehidupan mereka. Yang dulu menolak kini melihat ketenangan, bukan penderitaan. Prasangka benar-benar runtuh. Bab ini adalah momen rekonsiliasi hati antar keluarga dan suku.
⸻
Bab 10 - Rumah yang Dibangun dari Iman
Bab penutup merefleksikan perjalanan mereka. Rumah mereka masih kecil, hidup masih sederhana, tapi hati mereka lapang. Mereka menyadari rumah sejati bukan tempat tanpa ujian, melainkan tempat yang membuat penghuninya semakin dekat kepada Allah. Cahaya yang dulu dicari di luar kini tumbuh di dalam rumah mereka sendiri.