Ketahuilah, hidup ini acap kali seperti panggung sandiwara yang dikurung oleh dinding-dinding kaca. Kita sering kali sibuk memoles apa yang terlihat di luar, membiarkan orang-orang berdecak kagum memuji keindahan yang semu, tanpa pernah tahu bahwa di dalam ruangan yang paling sunyi, kita sedang menangis menggenggam puing-puing kerapuhan kita sendiri.
Namaku Nadira Aluna. Orang-orang di dunia maya mengenalku sebagai Aluna—seorang gadis dengan puluhan ribu pengikut yang hidupnya tampak bertabur kemewahan estetis.
Setiap pagi, sebelum jarum jam menyentuh angka tujuh, aku sudah berdiri di depan cermin meja rias kamar kosku. Rambut hitam legamku yang panjang hingga menyentuh pinggang kusisir dengan telaten, lalu kuikat membentuk sanggul rapi dan anggun khas standar pegawai perbankan atau korporasi modern. Penampilanku harus tanpa cela. Kaus rumahan kulepas, digantikan oleh blouse berwarna salem terang yang melekat pas di tubuh, dipadukan dengan celana kain berpotongan tegas yang menonjolkan proporsi tubuhku yang langsing dan seksi. Aku tahu persis kelebihan visual yang dianugerahkan Tuhan padaku, dan aku menggunakannya sebagai tameng terbaik untuk menghadapi dunia.
Pekerjaan harianku sebenarnya jauh dari kesan glamor. Aku adalah seorang staf analis data sistem di Cyber Tech Corporation, sebuah perusahaan teknologi siber terkemuka di pusat kota Aethelgard. Di balik kubikel kerja yang dingin oleh embusan AC, jemariku menari lincah di atas papan ketik, memeriksa barisan kode, log harian server, hingga memproses analitik data yang membosankan. Dua tahun sudah aku melakoni rutinitas ini dengan gaji pokok bulanan yang hanya sebesar Rp5.500.000. Sebuah angka yang sangat bersahaja, bahkan cenderung pas-pasangan untuk ukuran hidup di kota besar yang serbamahal ini.