Ketahuilah, hidup ini sering kali menghadapkan kita pada kontras yang amat tajam. Di satu sisi, kita melihat diri sendiri terseok-seok memikul beban yang kian hari kian berat. Namun di sisi lain, kita menyaksikan orang lain melangkah begitu ringan, menapakkan kaki di atas karpet beludru kemewahan yang seolah jatuh dari langit. Kita mulai bertanya-tanya, rumus matematika mana yang salah dalam hidup ini? Mengapa kerja keras puluhan jam di balik layar komputer kalah telak oleh jentikan jari dan senyuman manja?
Pukul dua belas siang tepat. Bunyi bel tanda istirahat menggema di seluruh koridor lantai tiga gedung Cyber Tech Corporation. Suara itu bagai embusan angin segar bagi para karyawan IT yang sejak pagi terkunci bersama tumpukan barisan kode siber. Satu per satu kubikel mulai kosong. Namun, aku masih bergeming di depan monitor, menatap nanar ponsel pintarku yang layarnya baru saja meredup setelah menampilkan satu lagi pesan teror penagih utang. Dada ini rasanya sesak, berkejaran dengan waktu jatuh tempo yang tinggal menghitung jam.
"Aluna, kamu enggak makan siang?" sebuah suara centil yang renyah tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
Aku mendongak. Di ambang pintu kubikelku, berdiri Sherly, rekan sesama staf di divisi entri data. Sherly sebenarnya memiliki paras yang biasa-biasa saja, tidak ada yang terlalu menonjol dari raut wajahnya. Kulitnya putih standar berkat rajin menyambangi klinik kecantikan, dan rambut bergelombangnya hari ini dicat warna cokelat madu. Namun, penampilannya siang ini benar-benar mencuri perhatian siapa pun yang memandangnya.
Ia menenteng sebuah tas tangan leather hitam berlogo logam emas berkilau—sebuah produk dari rumah mode Gucci yang kutahu harganya di butik resmi mencapai tiga puluh lima juta rupiah. Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah gelang berlian bersertifikat yang berkilau tajam di bawah sorotan lampu neon kantor. Sepatu hak tinggi yang ia kenakan berbunyi tuk... tuk... tuk... dengan anggun saat ia melangkah masuk, memancarkan aroma parfum Chanel yang sangat mahal dan wangi ke seluruh penjuru ruangan.
"Eh, Sherly... iya, ini baru mau beres-beres," jawabku agak gagap, dengan cepat mengunci layar ponselku agar ia tidak melihat isi pesan pinjolku. Aku memaksakan sebuah senyuman manis andalanku untuk menutupi rasa salah tingkah.
"Yuk, makan di luar. Bosan banget tahu, kalau cuma makan di kantin bawah. Aku mau ke restoran rooftop baru di seberang jalan itu, mumpung hari ini ada yang mau bayarin," bisik Sherly sambil mengedipkan sebelah matanya penuh arti, lalu menarik lenganku dengan manja.
Aku pun pasrah mengekor di belakangnya. Di sepanjang koridor menuju lift, mataku tidak tahan untuk tidak melirik ke arah tas mewah dan gelang berlian milik Sherly. Rasa penasaran—dan sebersit rasa iri yang tajam—mulai menggerogoti isi kepalaku. Setahu aku, gaji pokok Sherly di bagian entri data bahkan sedikit di bawah gajiku, hanya sekitar empat juta delapan ratus ribu rupiah per bulan. Dia juga bukan anak seorang konglomerat, melainkan gadis perantauan biasa dari pinggiran kota yang menyewa kamar kos standar. Logika IT-ku menolak keras hasil kalkulasi ini. Bagaimana mungkin seorang karyawan dengan gaji sekecil itu bisa memborong barang-barang mewah senilai puluhan juta setiap bulannya tanpa memiliki utang sepeser pun?