Ketahuilah, bagi seorang analis data, dunia ini tidak lebih dari sekadar barisan angka, variabel, dan probabilitas. Jika sebuah sistem keamanan siber yang paling rumit sekalipun memiliki celah yang bisa ditembus, maka logika yang sama juga berlaku pada manusia. Manusia, dengan segala ego dan emosinya, sebenarnya adalah algoritma yang sangat mudah ditebak. Mereka memiliki pola, pemicu, dan titik jenuh. Ketika gengsi sudah menjadi variabel tetap yang tidak bisa dikurangi, maka satu-satunya cara untuk menyeimbangkan persamaan hidup adalah dengan memperbesar variabel pendapatan. Dan jika gaji kantor tidak lagi logis untuk menutupi itu, rumusnya harus diganti.
Malam itu, di dalam kamar kos nomor 204 yang sunyi, layar laptop berspesifikasi tinggi miliknya memantulkan binar cahaya biru pada sepasang mata indah Nadira Aluna. Di atas meja kerja minimalisnya, jam digital merangkak perlahan melewati pukul sebelas malam. Kesunyian malam kota Aethelgard terasa mencekam, namun isi kepala Nadira justru sedang berputar dengan kecepatan penuh, bekerja layaknya prosesor komputer yang sedang melakukan kalkulasi tingkat tinggi.
Di atas kasur, ponsel pintarnya tergeletak pasrah. Layarnya sesekali masih menyala, menampilkan rentetan pesan singkat dari aplikasi pinjaman digital yang nadanya kian hari kian beringas. Namun, Nadira tidak lagi gemetar. Ketakutan yang membakar punggungnya kemarin kini telah mendingin, membeku menjadi sebuah ketetapan hati yang tak tergoyahkan. Ia telah menghapus air matanya. Air mata adalah eror dalam sistem, dan ia tidak membutuhkan eror untuk menyelesaikan misinya.
Jemari lentiknya bergerak lincah di atas mousepad, membuka sebuah lembar kerja terenkripsi rahasia yang ia beri nama sandi: Project-X. Sebagai seorang lulusan teknik komputer, Nadira tidak akan melangkah tanpa rencana yang matang. Jika Sherly mengandalkan intuisi perempuan dan keberuntungan emosional untuk memacari tiga pria, maka Nadira akan mengelola perburuannya menggunakan manajemen risiko dan analisis data yang presisi.
Di layar lembar kerja itu, Nadira mulai memetakan lima kolom kosong yang melambangkan lima target pria kaya yang harus ia taklukkan secara bertahap.
"Kolom pertama," gumam Nadira dengan suara lirih, memecah kesunyian kamar.