"SELEGRAM CANTIK SERIBU WAJAH"

brielle athalia
Chapter #5

Memoles Topeng Pertama

Ketahuilah, sebuah impresi pertama tidak pernah lahir dari ketidaksengajaan. Bagi mereka yang menguasai seni manipulasi, penampilan adalah bahasa visual yang paling jujur, sekaligus topeng yang paling dusta. Manusia sering kali merasa cerdas karena mampu membaca ekspresi orang lain, tanpa pernah menyadari bahwa ekspresi yang mereka baca hanyalah sebuah naskah yang telah dihafal dengan matang sejak malam sebelumnya. Untuk menjerat seorang pria seperti Adrian Pratama, riasan tebal dan pakaian minim adalah kesalahan fatal. Pria sekaku dia tidak mencari wanita yang menantang pandangan, melainkan wanita yang meneduhkan mata namun diam-diam mengusik debaran dada.

Senin pagi, tepat pukul enam, Nadira Aluna sudah berdiri tegak di depan cermin besar kamar kosnya. Kamar itu masih menyisakan keharuman sisa lulur mawar premium hasil endorse akhir pekan lalu. Namun pagi ini, fokus Nadira tidak tertuju pada tumpukan produk gratisan di atas meja rias, melainkan pada pantulan dirinya sendiri. Hari ini adalah peluncuran perdana dari Project-X.

Jemari lentiknya bergerak dengan ketelitian seorang analis data. Ia sengaja menjauhkan botol-botol foundation tebal atau palet pemerah pipi yang mencolok. Adrian adalah pria yang memuja kesederhanaan. Maka, Nadira memilih untuk memoles topeng yang paling sulit ditiru: kecantikan yang tampak sepenuhnya natural.

Ia mengaplikasikan beberapa tetes serum pelembab, membiarkannya meresap hingga kulit sawo matang eksotisnya memancarkan kilau sehat yang bersih. Taburan bedak transparan tipis disapukan hanya untuk mengunci minyak, disusul dengan polesan lip balm berwarna merah muda alami yang membuat bibirnya tampak segar tanpa kesan berlebihan. Rambut hitam lebatnya yang panjang sepinggang tidak dibiarkan terurai liar. Ia menariknya ke belakang, menyisirnya dengan telaten, lalu menyanggulnya dengan rapi dan kencang sesuai standar baku korporasi modern. Gaya ini sengaja dipilih untuk mengekspos garis leherku yang jenjang dan mempertegas bentuk rahangku yang menawan—sebuah kombinasi antara profesionalisme yang tegas dan sensualitas yang elegan.

Untuk pakaian, Nadira memilih blouse formal berwarna salem terang. Warna yang lembut, memancarkan aura kehangatan dan kejujuran. Pakaian itu dipadukan dengan celana kain berpotongan pas badan yang, meskipun sopan, tetap tidak bisa menyembunyikan proporsi tubuhku yang langsing dan seksi. Ditutup dengan sepatu flatshoes hitam yang senada, Nadira menatap pantulan dirinya di cermin. Sempurna. Di balik lensa cermin itu, ia tidak lagi melihat seorang gadis yang ketakutan karena teror pesan penagih utang. Ia melihat seorang predator cantik yang siap melepas umpan pertamanya.

Pukul setengah delapan pagi, Nadira sudah duduk rapi di kubikel divisinya di lantai tiga gedung Cyber Tech Corporation. Layar monitor komputer berspesifikasi tingginya sudah menyala, menampilkan barisan log data server yang rumit. Namun, fokus utama Nadira berada pada pantulan kaca pembatas ruangan. Ia sedang menghitung waktu.

Setiap pukul 07.45, Adrian Pratama selalu melangkah melewati koridor ini menuju ruang kerja manajernya di ujung lorong. Pria itu memiliki rutinitas yang seakurat jam atom. Dan benar saja, derap langkah kaki yang tegas terdengar mendekat. Adrian berjalan dengan postur tegap, mengenakan kemeja kerja yang disetrika rapi tanpa cela, memancarkan wibawa dingin seorang manajer senior yang disegani.

Lihat selengkapnya