Rahasia 3 Generasi

Novia SR
Chapter #1

Perempuan Pemintal Sabut

"Kalau berani, lempar saja!"

Batu kecil di tangan Roni sudah terangkat ketika sebuah golok menancap di tanah, hanya dua jengkal dari ujung sandalnya. Roni membeku. Bocah 10 tahun itu tertegun menatap orang yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Dua anak lain yang tadi ikut menantangnya langsung mundur.

Nadi berdiri beberapa langkah dari mereka. Napasnya tenang. Tangannya masih memegang sarung golok.

"Siapa yang suruh kalian bermain di sini?"

Roni menelan ludah. Melirik kedua temannya.

"Ka-kami cuma bercanda, Bang."

"Sana, bercanda di tempat lain."

Roni melirik golok yang masih tertancap di tanah.

"Jangan ganggu nenekku!"

Anak-anak itu segera berlari.

Nadi mencabut goloknya, mengibaskan tanah yang menempel di bilahnya, lalu menyarungkannya kembali.

Dari beranda rumah kayu yang catnya sudah mengelupas, Rabiah memperhatikan semua itu tanpa ekspresi.

Perempuan tua itu duduk dengan seikat sabut kelapa di pangkuannya. Tangannya terus bekerja. Memilin. Menarik. Memilin lagi. Seutas tali kasar perlahan terbentuk di antara jemarinya.

Nadi berjalan mendekat. "Sudah kuusir, Nek."

Rabiah tidak menjawab.

Nadi menaruh sebakul sabut kelapa di sampingnya. "Ini sabut baru. Nanti kalau habis, bilang sama aku."

Rabiah tetap memilin. Tak menyahut, seolah tak ada siapa pun di sampingnya.

Nadi memperhatikan wajah neneknya beberapa saat. Masih tersisa kecantikan masa muda di sana. Usianya sudah 75 tahun, tetapi wajah itu kadang tampak jauh lebih tua. Rambutnya hampir seluruhnya memutih. Kulit di sekitar matanya berkerut dalam. Tubuhnya kurus, tetapi tangannya masih kuat mengolah sabut menjadi tali.

Rabiah selalu seperti itu. Duduk di beranda, memilin sabut. Namun ia bisa tiba-tiba menangis. Kadang marah. Kadang berbicara kepada seseorang yang tidak pernah dilihat siapa pun. Bagi Nadi, semua itu bukan lagi sesuatu yang aneh. Ia bahkan tidak punya ingatan tentang Rabiah sebelum sakit. Sejak ia kecil, neneknya memang sudah seperti itu.

Orang-orang di Desa Renjana punya banyak cerita tentangnya. Ada yang bilang Rabiah dulu mencuri cengkeh. Ada yang bilang ia pernah menggoda suami orang. Dan akhirnya kena karma. Namun ada juga yang bilang ia terkena santet. Yang pasti, ia mulai hilang kewarasan sejak suaminya meninggal. Cerita terakhir adalah yang paling masuk akal bagi sebagian orang. Tidak ada yang benar-benar tahu. Tetapi masyarakat tidak pernah kekurangan alasan untuk menjelaskan kehidupan orang lain.

Nadi tidak peduli. Baginya, Rabiah adalah neneknya. Itu saja. Pemuda 28 tahun sudah terlalu sering mendengar orang menyebut perempuan tua itu dengan kata-kata yang tidak pantas. Dan ia sudah terlalu sering melihat anak-anak hingga orang dewasa menganggap kegilaan seseorang sebagai hiburan. Nadi tidak suka. Sama sekali tidak.

Ia berjalan ke ujung beranda dan memandang jalan tanah di depan rumah. Menyisir rambutnya dengan jari. Tatapannya tajam. Banyak yang mengakui Nadi sebenarnya lelaki menawan. Tubuhnya tegap gagah. Kalau tersenyum ada lesung pipinya, manis sekali.

Sayangnya sebanyak itu pula yang enggan berdekatan dengannya. Pemuda itu gampang marah jika terusik dan wajahnya seringkali tampak galak terutama di mata anak-anak. Ia jarang tersenyum dan membaur dengan warga kampung lain jika hanya untuk duduk ngopi dan ngobrol di warung.

Namun yang dipuji warga kampung, Nadi pemuda yang rajin. Ia selalu datang jika ada himbauan gotong royong. Sering paling duluan datang jika ada yang meninggal. Bukan untuk makan-makan tapi ikut menggali kuburan. Tak banyak bicara tapi banyak berbuat. Itulah pribadinya yang unik di kata orang-orang.

"Awas kalau mereka macam-macam lagi," bisiknya menatap jalan tanah yang membelah kampung. Anak-anak tadi sudah menghilang di tikungan.

Rabiah tiba-tiba berhenti memilin. Matanya menatap lurus ke jalan. "Nanti dia datang."

Nadi menoleh. "Siapa?"

Rabiah tidak menjawab. Tangannya kembali bergerak. Memilin. Menarik. Memilin lagi.

Nadi menghela napas. Ia sudah terbiasa. Tidak semua perkataan neneknya bisa dipahami. Kadang perempuan itu berbicara tentang sesuatu yang terjadi puluhan tahun lalu. Kadang tentang seseorang yang tidak dikenalnya. Kadang tentang suaminya yang sudah meninggal. Kadang tentang anaknya. Dan kadang tentang orang yang bahkan Nadi tidak tahu siapa.

Nadi berbalik hendak masuk ke rumah. "Nek."

Rabiah tidak menoleh.

Lihat selengkapnya