"Kalau Bang Nadi nggak mau menikah denganku, berarti dia belum tahu cara memilih perempuan."
Sari yang sedang menghitung jumlah minyak goreng mendongak. "Atau kamu yang belum tahu cara membaca penolakan."
Malini yang duduk di meja kasir mengetukkan jemari di atas kalkulator. "Bang Nadi nggak pernah bilang tidak."
"Dia bilang apa?"
"Jangan ganggu aku."
"Nah, itu."
Malini memandang Sari dengan wajah serius. Sari, teman sekaligus karyawan yang bekerja di warung sembako milik keluarga Malini ini, memang sering jadi tempat curhat Malini terkait perasaannya pada Nadi.
"Itu nasihat." Sari menatapnya beberapa detik, lalu tertawa geli. "Nasihat supaya kamu pergi dan menjauhi dia!"
"Kalau dia benar-benar nggak suka, mestinya dia bilang agar aku jangan datang lagi menemuinya." Gadis 25 tahun yang sering menguncir rambut sepunggungnya itu merotasi bola matanya. Wajah manisnya memasang ekspresi tanpa dosa.
"Memangnya kamu akan menurut?"
Malini berpikir sebentar. "Kalau dia bilang begitu dengan sungguh-sungguh, aku akan menurut."
Sari tampak tak percaya.
"Aku nggak akan datang lagi esok harinya. Tapi aku baru datang lagi lusa."
Sari memukul kardus minyak goreng. "Kamu ini!"
Malini tertawa.
Warung keluarga mereka memang menjadi tempat paling nyaman untuk membicarakan apa saja. Apalagi kalau pelanggan sedang sepi. Warung itu cukup besar untuk ukuran Desa Renjana. Rak-raknya penuh barang kebutuhan sehari-hari. Beras, minyak, gula, kopi, mi instan, sabun, makanan ringan, sampai beberapa barang pecah belah rumah tangga tersedia di sana.
Ibu Malini, Warni, mengurus bagian keuangan dan belanja barang. Malini membantu menjaga warung, terutama kalau ibunya sedang sibuk. Pekerjaan itu membuatnya mengenal hampir semua orang di desa. Termasuk semua gosip. Dan salah satu gosip yang paling sering didengarnya adalah tentang dirinya sendiri.
Malini naksir Nadi. Semua orang tahu. Bukan sekadar naksir tapi cinta berat. Dan dia tidak merasa perlu menyembunyikannya.
"Kenapa kamu nggak cari laki-laki lain aja?" tanya Sari.
"Untuk apa?"
"Kan banyak yang lebih layak dan yang penting suka sama kamu."
"Aku sudah punya, buat apa cari yang lain."
"Dia belum punya kamu."
"Belum. Tapi akan."
Sari menghela napas. "Antara pede dan bebal itu kadang beda tipis."
Malini tersenyum. "Keyakinan itu setengah dari keberhasilan."
Ia mengambil buku catatan belanja di depannya lalu mencoret-coret secara acak. "Aku nggak memaksa Bang Nadi. Kalau dia nggak mau, ya nggak apa-apa."
Sari mengikuti. "Serius?"
"Serius."
"Terus kamu akan berhenti mengejarnya?"
Malini menatapnya. "Enggak."
"Nah!"
"Berusaha itu wajib, Sar, yang penting bukan memaksa."
Sari menarik napas panjang. "Kalau begitu, semoga usahamu berhasil ya, Nona manis."
"Harus."
"Kenapa harus?"
"Karena aku sudah terlanjur belajar masak makanan kesukaannya. Dan itu nggak boleh sia-sia."
Sari langsung tertawa lagi sambil melipat kardus yang sudah kosong
@@@
Menjelang siang, ibu Malini menyuruhnya mengantar beberapa barang ke rumah Bu Rina. Malini membawa dua kantong belanja. Begitu keluar dari warung, Sari langsung berteriak dari belakang.
"Jangan mutar!"
Malini menoleh. "Kenapa?"
"Yang paling dekat itu lurus." Sari mengarahkan tangannya mengikuti arah jalan raya.
"Aku tahu."
"Jangan mutar lewat kebun kopi!"