"Jangan terlalu sering pergi ke rumah Nadi." Suara Sumi terdengar dari dapur.
Malini yang sedang mengambil piring dari meja makan langsung berhenti. Ia menoleh pada neneknya.
"Kenapa?"
Sumi tidak langsung menjawab. Perempuan tua itu datang dari dapur membawa teko berisi teh. Ia lalu menuangkan teh ke cangkir Mudin yang duduk di ujung meja makan.
"Karena keluarga itu nggak baik. Kamu sudah diomongin banyak orang, mengejar-ngejar si Nadi begal itu."
Malini menahan napas. Jawaban seperti itu selalu membuatnya ingin bertanya lebih banyak.
"Kalau Lini cuma berteman?"
"Jangan."
"Kalau cuma mengantar makanan?"
"Tetap jangan!"
"Kalau cuma lewat?"
Sumi menatapnya. "Jangan cari alasan!"
Malini mengisi piringnya dengan nasi. "Tapi Lini nggak melakukan apa-apa kok."
"Justru itu. Jangan sampai nanti melakukan hal-hal yang memalukan keluarga."
Mudin yang sejak tadi diam menyeruput tehnya.
Malini memandang kakeknya. "Kakek juga berpikir begitu?"
Mudin mengangkat wajah. Tatapan lelaki tua itu sebentar bertemu dengan mata cucunya. "Keluarga itu membawa banyak masalah."
Hanya itu. Tidak ada penjelasan.
Malini mengerutkan kening. "Karena Mak Biah?"
Sumi langsung menjawab. "Ya. Orang sekampung juga sudah tahu.”
Malini duduk. Ia sudah mendengar cerita tentang Rabiah sejak kecil. Semua orang di Desa Renjana tahu perempuan tua itu pernah dituduh mencuri cengkeh milik kakeknya. Cerita tentang apa yang terjadi setelahnya juga tidak pernah berubah. Rabiah tertangkap. Lalu mencoba mengelak. Kemudian, karena takut dilaporkan, ia menggoda kakek Malini.
Setelah itu nama Rabiah menjadi bahan pergunjingan orang-orang. Beberapa waktu kemudian pikirannya mulai terganggu. Sampai akhirnya masyarakat menganggapnya terkena santet. Cerita itu sudah begitu lama beredar hingga tidak seorang pun merasa perlu bertanya apakah semuanya benar.
Malini pun selama ini tidak pernah terlalu memikirkannya. Rabiah memang sakit. Itu yang dilihatnya setiap hari. Tetapi Nadi bukan Rabiah. Nadi pribadi yang berbeda. Meskipun suka menakut-nakuti orang dengan goloknya, tapi itu pasti ada sebabnya. Nadi tidak akan melakukan itu jika tak diusik harga diri keluarganya. Dan faktanya, tidak seorang pun pernah dilukai oleh goloknya. Namun neneknya suka sekali menyebut Nadi dengan julukan tukang begal.
"Kalau Mak Biah yang punya masalah, kenapa Bang Nadi ikut dihukum?" Malini duduk di kursi, menambahkan ikan goreng dan sayur ke dalam piringnya.
Sumi meletakkan teko lebih keras dari biasanya, sekeras kalimatnya. "Karena Nadi itu dibesarkan dalam keluarga pencuri. Makan dari barang curian! Jadi darah dagingnya ikut haram. Paham?"
Malini menghela napas. "Tapi Bang Nadi juga banyak dipuji orang karena rajin membantu warga. Bahkan dia kadang membersihkan jalan menuju bukit yang sudah bersemak tanpa disuruh, tanpa minta imbalan.”
“Begal ya tetap saja begal. Mainannya golok. Mau kamu nanti dibegal sama dia?” Sumi tampak gemas.
Malini menahan senyum mendengar ucapan neneknya. “Kalau dibegal hatinya mah mau.”
"Malini!" Suara Sumi meninggi. “Memang nggak tahu malu ya anak ini!”
Mudin mengangkat tangan. "Sudah!"
Sumi diam dengan wajah kesal.
Mudin menatap cucunya. "Lini, semua orang sudah tahu kalau keluarga kita sejak dulu nggak akur sama keluarga Nadi. Coba kamu pahami itu. Jangan membantah nenekmu lagi."
Nada suaranya tidak keras. Justru karena itulah Malini tidak bisa membantah. Kakeknya jarang bicara banyak. Kalau sudah mengatakan sesuatu, biasanya keputusan itu sulit diubah.
Malini bangkit sambil membawa piring. "Lini tetap nggak paham sama pikiran orang tua-tua."
Sumi menyahut, "Kamu nggak perlu paham semuanya. Cukup ikuti saja nasehat orang tua."