Hari pertama Risna mengajar di SD Desa Renjana, seorang murid menangis karena pensilnya patah.
"Bu Guru, pensil saya patah."
Risna memandang pensil yang ujungnya memang patah.
"Dia pasti kesakitan."
Tangis anak itu berhenti. "Pensil bisa sakit?"
"Kalau terlalu sering dipakai, bisa."
Anak itu menatap pensilnya, lalu tersenyum. "Berarti harus diobati?"
Risna mengangguk serius. "Betul. Caranya dengan diraut."
Anak itu langsung membuka tas dan mengambil rautan.
Risna tersenyum. Ia memang menyukai anak-anak. Itulah alasan ia memilih menjadi guru sekolah dasar setelah menyelesaikan kuliahnya di jurusan psikologi. Banyak orang heran ketika mengetahui pilihan itu. Dengan pendidikan yang ia miliki, Risna sebenarnya bisa mencari pekerjaan lain. Tetapi ia teringat pesan kakeknya, Bahri.
"Kamu ingin memperbaiki jiwa manusia? Jangan tunggu mereka dewasa."
Waktu itu Risna hanya tertawa. Justru yang banyak masalah kejiwaan itu adalah orang dewasa. Sekarang ia memahami maksud kakeknya. Anak-anak masih bisa dibentuk. Mereka masih belajar membedakan mana yang benar dan salah. Mereka masih bisa diajari menghargai sesama. Bahkan mereka masih mudah diajari menghargai benda-benda layaknya manusia.
Kakeknya pernah mengatakan bahwa dunia akan jauh lebih baik jika orang dewasa berhenti mewariskan hal-hal buruk kepada anak-anak. Risna mengingat kalimat itu setiap kali masuk kelas.
Hari-hari pertamanya di mengajar di SD Desa Renjana berjalan cukup lancar. Risna cepat akrab dengan murid-murid. Ia juga tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenal warga sekitar. Namun ada satu nama yang hampir selalu muncul ketika orang-orang mengetahui ia tinggal di desa itu.
Rabiah.
"Kalau lewat rumahnya jangan kaget ya, Bu Guru." Begitu pesan salah seorang ibu. "Kadang dia diam. Kadang menangis."
"Kadang marah-marah sendiri," sambung yang lain. "Kasihan memang tapi itu karena kesalahan Mak Biah sendiri."
“Kesalahan?” Risma memicingkan mata.
Ibu itu lalu menceritakan kasus lama yang sudah jadi rahasia umum. Tentang pencurian cengkeh. Tentang tindakan asusila.
Risna mengerutkan alis. Menampung setiap informasi dengan teliti.
"Sudah lama sakitnya?"
"Tiga puluh tahun. Setelah kejadian memalukan itu."
Risna sedikit terkejut. "Tiga puluh tahun?"
"Iya." Perempuan itu menurunkan suara. "Tapi kata orang-orang sakitnya sebenarnya karena santet."
Risna terdiam, tidak langsung menjawab. Di kampung ini cerita tentang santet memang masih dianggap biasa. Tapi Risna meragukan itu. Santet selama tiga puluh tahun tidak masuk di logikanya.
"Memangnya nggak pernah dibawa berobat?"
"Sudah, Bu Guru."
"Ke dokter?"
"Entahlah."
Jawaban itu membuat Risna tersenyum tipis. Ia tidak melanjutkan pertanyaan. Bukan karena percaya. Bukan pula karena tidak percaya. Ia hanya merasa belum cukup tahu untuk mengambil kesimpulan.
Sore itu, sepulang mengajar, Risna sengaja melewati rumah Rabiah. Rumah kayu itu berada sedikit masuk dari jalan. Di beranda, Rabiah duduk seperti yang diceritakan orang-orang. Di pangkuannya ada seikat sabut kelapa. Tangannya bekerja perlahan. Memilin. Menarik. Memilin lagi.
Risna berhenti di pagar. "Permisi."
Rabiah tidak menjawab.
Risna tidak langsung masuk. Ia hanya berdiri beberapa saat.
"Nama saya Risna. Saya guru baru di sekolah."
Rabiah tetap diam.
Risna tersenyum. "Kalau saya duduk di sini boleh, Mak?"
Tidak ada jawaban.
Risna menganggap diam sebagai izin. Ia masuk ke beranda lalu duduk agak jauh. Tidak bertanya apa-apa lagi. Beberapa menit kemudian, ia memperhatikan cara Rabiah memilin sabut. Gerakannya teratur. Risna mengambil sepotong sabut dari keranjang.
"Kalau yang ini bagaimana?"
Rabiah tidak menjawab.
Risna mencoba menirunya. Sabut itu malah terlepas dari tangannya. Risna tertawa kecil. "Sepertinya saya harus belajar."
Rabiah tetap diam.