Sejak Risna mulai sering datang ke rumah Rabiah, Malini merasa ada satu masalah baru dalam hidupnya. Bukan karena Risna pernah berbuat buruk padanya. Justru sebaliknya. Guru baru itu ramah, sopan, dan tidak pernah menunjukkan sikap tidak menyenangkan. Itulah yang membuat Malini semakin waspada.
Kalau orangnya menyebalkan, mudah sekali untuk tidak menyukainya. Kalau orangnya baik, cantik, pintar, dan disukai banyak orang, Malini tidak punya alasan untuk membencinya. Jadi ia memilih cara yang lebih aman. Mengawasi.
Sore itu ia duduk di ujung warung bersama Sari.
"Menurutmu Risna cantik?"
Sari sedang makan kerupuk. "Kenapa?"
"Jawab saja."
"Ya."
"Lebih cantik dari aku?"
Sari berhenti mengunyah. "Kamu mau aku jujur atau selamat?"
Malini tertawa. "Jujur."
"Kalau soal cantik, kalian beda."
"Bedanya?"
"Dia cantik, kulitnya putih, otaknya sarjana, berhijab kemana-mana."
Malini menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau kamu... aku bilang beda."
Malini menyipitkan mata. “Bedanya bagaimana?”
"Kulitmu kuning langsat, manis, punya mata bulat berbinar, lucu, mental kuat cenderung nekat." Sari menutup kalimatnya sambil menimbang beras pesanan pelanggan.
"Lebih menarik mana? Aku atau Bu Risna?"
Sari spontan tertawa. "Kamu ini kenapa sih?"
"Cuma bertanya."
"Kamu cemburu."
"Enggak."
"Jelas."
Malini menyandarkan punggung. "Aku cuma ingin tahu."
"Tahu apa?"
"Apakah dia suka sama Bang Nadi atau enggak."
Sari tertawa. "Kalau dia suka?"
Malini diam sebentar. Kemudian mengangkat bahu. "Berarti persaingan di depan mata."
Sari menggeleng. "Dia bahkan belum tentu tertarik sama Bang Nadi."
Malini langsung tersenyum. "Itu yang mau aku pastikan."
“Belum tentu juga Bang Nadi suka sama dia meskipun banyak kelebihannya.”
“Nah!” Mata Malini membulat senang. “Aku suka kalimat kamu.”
“Tapi belum tentu juga kamu berjodoh dengan dia mengingat keluargamu sangat memusuhi keluarga Bang Nadi.” Sari menghabiskan sisa kerupuknya.
Malini terdiam. Wajahnya tidak puas.