"Cukup sudah drama air mata itu, Anindita! Kau pikir kembali ke sini akan menyelesaikan masalahmu?" Suara Nyonya Ratih menggelegar, memecah kesunyian rumah makan yang remang. Bibinya itu membanting pintu dapur usang, mengacuhkan Anindita yang masih berdiri canggung di ambang pintu, dengan koper usang di tangan. Aroma masakan basi menusuk hidung, berpadu dengan debu tebal yang menari di udara.
Anindita menelan ludah, menatap pintu yang kini tertutup rapat itu. "Ini... bukan drama, Bi," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. Ia menggeser kopernya, melangkah lebih dalam ke ruangan utama yang gelap. Pandangannya menyapu sekeliling. Meja-meja kayu berkarat, kursi-kursi reyot, lantai kotor berkerak. Jaring laba-laba menggantung malas di sudut-sudut langit-langit yang dulunya selalu bersih mengilap. Tirai-tirai jendela yang dulu cerah, kini lusuh dan koyak. Dapur Leluhur. Apa yang terjadi pada tempat ini? batinnya, muak melihat kondisi yang jauh dari kenangan masa kecilnya. Dulu, tempat ini selalu dipenuhi gelak tawa dan aroma masakan segar. Sekarang, hanya ada kesunyian yang mencekam.
Sebuah bayangan bergerak di salah satu sudut, dekat panci-panci besar yang kosong. Seorang wanita tua dengan kerudung kusam mendongak, matanya yang redup membelalak kaget. Itu Mbak Sumi, koki senior yang sudah bekerja di Dapur Leluhur sejak Anindita masih balita.
"Mbak Sumi?" Anindita tersenyum getir, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. "Ini aku, Anin."
Mbak Sumi, yang biasanya ceria, hanya mengangguk pelan. "Neng Anin ... akhirnya pulang juga." Suaranya serak.
Anindita melangkah mendekat, mengamati noda minyak kering di seragam kerja Mbak Sumi. "Mbak, kok bisa begini sih rumah makan kita? Ini parah banget." Ia menunjuk sekeliling, tangannya gemetar. "Waktu aku pergi dulu kan rame banget. Kenapa sekarang kayak habis perang?"
Mbak Sumi menghela napas panjang, menunduk lesu. "Aduh, Neng. Gimana ya ... cerita sih panjang. Sejak Almarhum Nenek nggak ada, terus Nyonya Ida ... Ibu Neng Anin ... pergi, ya sudah, lama-lama begini ini."