Rahasia Dapur Leluhur

freza nur fauzi
Chapter #2

Bab 2: Kuali Berkarat dan Kata-Kata Dingin

... rumah makan kita yang sekarat!" Anindita tidak membiarkan Danu menyelesaikan kalimatnya. Ia menghela napas panjang, menatap tajam ke sepupunya itu. Paginya, Anindita sudah memutuskan. Cukup sudah drama dan keluhan. Ia harus bertindak.

"Bersihkan saja semuanya, Bi! Kita harus mulai dari nol!" Anindita meraih sikat kawat yang sudah usang di pojok dapur. Nyonya Ratih, yang sejak tadi hanya melipat tangan di dada, menatapnya dengan tatapan meremehkan, seolah tindakan Anindita adalah sandiwara murahan. Anindita mengabaikannya, lalu mulai menyikat kuali berkarat yang menumpuk di dekat bak cuci.

"Duh, Neng Anin. Ngapain sih capek-capek begitu?" Nyonya Ratih akhirnya bersuara, nadanya datar. "Percuma tahu. Ini semua udah nggak bisa diselamatin. Lebih baik kamu istirahat aja. Pulang ke Jakarta lagi sana, cari kerjaan lain."

Anindita berhenti menyikat sejenak, menatap kuali yang sudah sedikit terlihat permukaannya. "Nggak, Bi! Justru karena udah kayak gini, kita harus berani kotor! Ini kan dapur, tempatnya makanan enak. Gimana orang mau makan kalau liatnya aja udah begini?" Ia melanjutkan menyikat, gerakan tangannya cepat dan bertenaga. "Lihat deh, Bi! Ini noda minyak udah kayak fosil. Bakteri apa aja coba yang hidup di sini? Aduh, parah banget ini!"

"Ya emang mau gimana lagi?" Bibi Ratih mengangkat bahu acuh tak acuh. "Memang udah dari dulu begini. Kuali-kuali ini juga warisan. Nanti kalau kamu sikat terus, malah rusak. Jangan sok tahu deh, Neng."

"Sok tahu gimana, Bi? Ini namanya kebersihan dasar! Standar dapur profesional itu harus steril, Bi, bukan cuma bersih asal-asalan!" Anindita mendengus, keringat mulai membasahi pelipisnya. "Aduh, ini dinding-dinding juga harus dicat ulang, Bi. Terus, meja-meja ini juga diganti aja. Atau paling nggak, di-laminating biar nggak cepet kotor."

"Ganti? Cat ulang?" Nyonya Ratih tergelak sinis. "Kamu kira duitnya dari mana? Itu duit dapur aja udah tiris banget. Jangan mimpi deh, Neng. Lagipula, dari dulu ya begini aja. Pelanggan juga tahu ini 'Dapur Leluhur', tempatnya ya kuali-kuali lama, meja kayu warisan. Itu ciri khas!"

"Ciri khas apanya, Bi? Ciri khas tempat yang kotor dan nggak terawat?" Anindita meletakkan sikatnya, menatap bibinya dengan frustrasi. "Dengar ya, Bi. Dunia ini udah berubah. Orang-orang itu cari makanan yang enak, iya, tapi juga yang bersih, tempatnya nyaman, fotogenik. Kalau Dapur Leluhur begini terus, ya pasti bangkrut lah!"

"Halah, banyak omong kamu," balas Nyonya Ratih, menyipitkan mata. "Paling juga kamu mau ngubah semua resep kan? Pakai resep-resep aneh kamu yang di TV itu. Nanti jadi masakan apa? Nggak usah macem-macem deh. Kita ini punya resep leluhur, nggak bisa diubah-ubah."

"Siapa bilang mau ngubah semua resep? Gue cuma mau kasih sentuhan modern, Bi, biar nggak kaku banget," Anindita mencoba menjelaskan, tapi ia tahu itu percuma. "Contohnya, kita bisa bikin menu yang lebih ringan, porsi yang lebih kecil, atau mungkin plating yang lebih cantik. Terus, kita bisa pakai bahan-bahan yang lebih segar, dan jangan cuma yang itu-itu aja. Coba deh, Bi. Misalnya, sate rempah kita itu enak banget, tapi tampilannya bisa dibikin lebih menarik."

Lihat selengkapnya