...dipenuhi debu dan... misteri.
"Aduh, apa ini? Penuh debu begini." Anindita terbatuk hebat, udara pekat di gudang tua itu terasa menusuk paru-paru. Tangannya menyentuh sebuah kotak kayu lapuk di sudut, tersembunyi di balik tumpukan karung goni bekas. Matanya menyipit, menerobos kegelapan. Ia menarik kotak itu keluar dengan susah payah. Kayu berderit, debu beterbangan. Berat banget ini, gumamnya dalam hati.
Ia mendudukkan diri di lantai yang dingin, membuka penutup kotak dengan kedua tangan. Di dalamnya, tersimpan sebuah buku resep kulit tua yang berbau apek, bersanding dengan beberapa kain kusam yang tidak jelas fungsinya. "Buku apaan nih?" Anindita bergumam, jari-jarinya menyentuh sampul kulit yang sudah retak. Halaman-halamannya menguning, rapuh seperti daun kering.
Anindita membawa buku itu ke area yang sedikit lebih terang, dekat jendela gudang yang jendelanya pecah. Dengan hati-hati, ia mulai membersihkannya dari lapisan debu tebal. Setiap usapan kain seolah membangunkan aroma rempah kering dan sesuatu yang lebih tua, lebih mendalam. Wanginya kok kayak familiar ya ... tapi apa?
Anindita membuka halaman pertama. Tulisan tangan yang rapi, meski agak samar, menyambutnya. "Wah, tulisan tangan Ibu!" bisiknya, senyum tipis terukir di bibirnya. Ia mengenali goresan pena ibunya, Ida, yang sudah lama tiada. Rasa rindu menyeruak, bercampur dengan rasa penasaran yang memuncak.
"Ini resep ... Nenek?" Anindita membaca judul-judul resep dengan cepat. Ada 'Gulai Kakap Asam Pedas', 'Sop Buntut Legenda', 'Sambal Petai Ijo Nampol'. Semua resep klasik Dapur Leluhur. Tapi beberapa halaman di tengah terlihat berbeda. Tulisan tangan ibunya lebih dominan di sana, dengan beberapa coretan dan anotasi.
"Masa cuma ini doang?" Anindita membalik-balik halaman, mencari sesuatu yang lain. Tiba-tiba, sebuah halaman khusus menarik perhatiannya. Sebuah resep yang sangat spesifik dan rumit, berjudul 'Gulai Rempah Pengampunan'. Di samping resep itu, dengan tinta yang lebih gelap dan goresan yang terlihat terburu-buru, ada catatan kecil yang berbunyi: "Untukmu, Nak, jika kau ingin tahu kebenarannya."