...sebuah rahasia keluarga yang mengancam untuk terungkap. Anindita menatap resep 'Gulai Rempah Pengampunan' di buku usang itu, pikirannya berputar cepat. Kebenaran apa yang Ibu maksud? Kenapa Bibi Ratih begitu takut? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mendesaknya. Ia harus membuktikan sesuatu, bukan hanya kepada dirinya sendiri, tapi juga kepada keluarga yang keras kepala ini. Dan satu-satunya cara adalah melalui makanan.
Dapur yang tadi sunyi kini ramai dengan deru wajan dan aroma rempah. Anindita berdiri di depan kompor, wajahnya serius, fokus pada panci besar berisi gulai yang mengepul. Ia mengaduk perlahan, lalu mencium aromanya. Bumbu dasarnya udah pas, tapi perlu sentuhan lagi, pikirnya. Tangan Anindita terulur mengambil sebutir lemon. Ia mulai memarut kulitnya pelan, mengikis lemon zest halus, dan menaburkannya ke dalam gulai yang panas.
"Tidak! Itu tidak sesuai dengan cara leluhur kita!"
Suara Nyonya Ratih menggelegar, membuat Anindita tersentak. Bibi Ratih berdiri di ambang pintu dapur, matanya melotot, menatap lemon di tangan Anindita seolah itu adalah racun.
"Astaga, Bi! Ngagetin aja!" Anindita mengelus dada, jantungnya masih berdebar. "Ini cuma lemon zest, Bi. Sedikit aja, biar aromanya lebih segar, lebih nendang."
"Segar apanya! Nendang apanya! Ini 'Gulai Rempah Pengampunan', Nindita! Resepnya udah pakem dari jaman Nenek moyang kita! Nggak boleh diotak-atik! Nanti kualat!" Nyonya Ratih melangkah mendekat, menggebrak meja dapur. "Kamu ini kenapa sih? Kemarin dibilangin jangan macem-macem sama resep! Sekarang malah seenaknya sendiri!"
"Bibi, dengerin aku dulu deh," Anindita mencoba menenangkan, tetapi nada suara bibinya sudah membuat kesabarannya menipis. "Justru ini namanya inovasi, Bi. Orang-orang sekarang itu suka yang klasik tapi ada sentuhan barunya. Biar nggak bosen. Biar Dapur Leluhur ini bisa bersaing lagi!"
"Bersaing gimana? Mau bersaing sama restoran mahal di Jakarta sana?" Nyonya Ratih mendengus sinis. "Kita ini rumah makan kampung, Nindita. Orang ke sini itu nyarinya yang asli, yang bener-bener resep leluhur! Bukan masakan aneh-aneh kamu itu!"
"Justru itu, Bi! Yang asli, tapi dikemas ulang biar lebih menarik!" Anindita membalas, meletakkan parutan lemon. "Kalau rasanya sama persis kayak dulu, orang ya bosen. Lagian, resep itu kan buat dihidangkan, Bi. Kalau nggak ada yang beli, buat apa resepnya sebagus apapun?"
"Halah, alasan aja kamu!" Bibi Ratih menyilangkan tangan di dada, kepalanya menggeleng keras. "Dari dulu Dapur Leluhur ini rame karena rasanya otentik. Bukan karena pakai bumbu aneh-aneh kayak begini! Kamu jangan rusak tradisi, Nindita! Jangan rusak nama baik keluarga!"