... dan rempah langka yang tertulis di salah satu halaman. Sebuah nama yang asing di telinga seorang chef sekelas Anindita.
"Rempah bunga seruni liar? Aku belum pernah denger ini," Anindita mengerutkan kening, membaca daftar bahan di buku resep kuno itu berulang kali. Tangannya mengelus tulisan tinta yang sudah pudar. Seruni? Itu kan bunga, bukan rempah. Gimana sih ini? Ia membolak-balik halaman, mencari catatan tambahan, tapi nihil. "Aduh, ini nggak ada di pasaran, deh. Googling juga nggak ketemu."
Anindita berjalan mondar-mandir di dapur, rasa penasaran sekaligus frustrasinya memuncak. Aroma lemon zest dari gulai tadi masih samar tercium, tapi pikirannya sudah jauh melayang pada petunjuk baru ini. Kebenaran apa yang Ibu maksud? Jangan-jangan kuncinya ada di rempah ini?
Ia mencoba bertanya pada Mbak Sumi yang sedang membersihkan meja. "Mbak, pernah denger rempah namanya bunga seruni liar?"
Mbak Sumi menggeleng. "Aduh, Neng Anin. Kalau bunga seruni sih saya tahu. Ada di halaman rumah Nenek kamu dulu. Tapi kalau rempah ... saya belum pernah denger, Neng. Emangnya itu buat masakan apa?"
"Ini di resep 'Gulai Rempah Pengampunan', Mbak," Anindita menunjuk buku di tangannya. "Katanya penting banget."
Mbak Sumi memiringkan kepala, berpikir keras. "Hmm ... kalau yang aneh-aneh begitu, paling cuma Pak Kusno yang tahu, Neng. Tukang rempah tua di ujung desa sana. Dia jualannya suka yang langka-langka. Bapaknya Nenek kamu juga dulu sering ke sana buat nyari rempah aneh."
"Pak Kusno? Oke, siap! Makasih ya, Mbak!" Anindita langsung meraih tasnya. Ia tidak buang-buang waktu. Jika ini adalah petunjuk, ia harus segera menelusurinya.
Anindita menyusuri jalanan desa yang berdebu. Beberapa penduduk desa tua yang duduk-duduk di teras rumah masing-masing, tersenyum dan menyapanya. Anindita membalas sapaan mereka, sembari sesekali bertanya.
"Permisi, Bu. Maaf ganggu. Saya mau tanya, kalau toko rempah Pak Kusno itu di mana, ya?" Anindita bertanya pada seorang nenek yang sedang menyirami bunga di depan rumahnya.
Nenek itu tersenyum ramah. "Oh, Pak Kusno. Itu lurus aja, Neng, sampai ketemu pertigaan. Nanti belok kiri, terus mentok. Tokonya kecil, agak di pojok, banyak tanaman herbal di depannya. Tapi kayaknya udah mau tutup, Neng. Udah sore ini."