Rahasia Dapur Leluhur

freza nur fauzi
Chapter #6

Bab 6: Sebuah Bisikan Masa Lalu

... sebuah simbol yang ia yakini pernah dilihatnya di suatu tempat yang lebih gelap dan tersembunyi. Liontin itu terasa hangat di genggaman Anindita. Ia membalik buku resep kuno itu lagi, mencari-cari. Matanya menelusuri setiap coretan samar, setiap noda tinta. Tiba-tiba, di halaman terakhir, di balik resep 'Sayur Asem Pengusir Mendung', ada coretan kecil, hampir tak terlihat, tersamar di antara noda air dan usia. Sebuah simbol.

"Simbol ini... sama persis!" Anindita terkesiap, napasnya tertahan. Jantungnya berdebar kencang, memompakan darah ke seluruh tubuhnya. Rasanya dingin, lalu panas. Ia membandingkan ukiran di liontin yang kini terbuka dengan coretan samar di halaman terakhir buku resep. Garis-garisnya identik. Lingkaran yang tidak sempurna, dengan tiga titik di dalamnya, seolah bintang kecil. "Ini... nggak mungkin kebetulan!"

Anindita menelan ludah, tangannya gemetar. "Ini dari Ibu, ini simbol yang sama. Apa maksudnya?" gumamnya, matanya terpaku pada simbol itu. Ia mencoba mengingat. Di mana lagi ya gue pernah lihat simbol ini? Di mana? Di mana? Otaknya berputar cepat, memutar kembali memorinya tentang rumah ini, tentang kamar ibunya yang dulu, yang selalu terkunci sejak ibunya pergi.

"Kamar Ibu... Iya! Gue inget! Ada di ukiran kecil di laci meja rias Ibu!" Anindita langsung bangkit, berlari keluar dari gudang dengan terburu-buru. Debu dan bau apek gudang tidak lagi ia pedulikan. Kakinya melangkah cepat menaiki tangga reyot, menuju kamar ibunya yang sudah lama tak dihuni.

Pintu kamar itu sedikit terbuka, Nyonya Ratih mungkin lupa menguncinya. Aroma melati kering dan sedikit debu menyambut Anindita. Kamar itu masih sama seperti dulu, seolah waktu berhenti di sini. Ranjang kayu dengan kelambu yang usang, lemari pakaian jati yang menjulang tinggi, dan sebuah meja rias kecil di sudut ruangan.

Lihat selengkapnya