... bayangkan. Anindita berdiri terpaku di kamar ibunya, foto Baskara dan Ibu Ida masih tergenggam erat. Pikirannya kalut. Hubungan gelap, rahasia, dan kini sebuah nama asing yang tiba-tiba muncul di tengah upaya penyelamatan Dapur Leluhur. Namun, lamunan itu terhempas oleh suara langkah kaki terburu-buru yang mendekat.
"Nona! Nona Anindita!"
Seorang pelayan muda bernama Marni, yang baru beberapa bulan bekerja di Dapur Leluhur, muncul di ambang pintu kamar. Napasnya terengah-engah, wajahnya merah padam karena panik.
"Ada apa, Marni? Kok panik begitu?" Anindita buru-buru menyembunyikan foto itu ke dalam kotak kayu, lalu menatap Marni.
"Rumah makan sebelah, Nona! 'Rasa Nenek'! Mereka ... mereka nyebarin kabar buruk tentang masakan kita!" Marni tergagap, hampir menangis.
Anindita merasakan darahnya mendidih. "Kabar buruk apa? Jangan ngaco lo!"
"Bukan ngaco, Nona! Barusan saya dengar dari Bu Titin, tukang sayur, katanya masakan kita dibilang pakai bahan kedaluwarsa! Terus dibilang dapur kita kotor, banyak tikus!" Marni melapor dengan suara bergetar. "Terus ada juga yang bilang, masakan Dapur Leluhur udah nggak seenak dulu, hambar, gara-gara Nona Anindita ngubah-ngubah resep!"
"Apa?!" Anindita mengepalkan tangannya. Desas-desus tentang resep yang ia modifikasi sedikit memang sudah ia duga akan menimbulkan protes dari keluarga, tapi ini... ini serangan terang-terangan! "Sialan! Berani-beraninya mereka!"
"Iya, Nona! Beberapa pelanggan yang datang tadi siang juga pada nanya-nanya begitu. Sampai ada yang batal pesan gara-gara denger gosip itu!" Marni menambahkan, membuat Anindita semakin naik pitam.
Anindita menatap keluar jendela, ke arah jalanan desa yang berdebu. Jelas sekali ini ulah keluarga Hardi, pemilik 'Rasa Nenek', yang sudah lama menjadi rival Dapur Leluhur. Mereka nggak cuma mau bersaing sehat, tapi mau main kotor, batin Anindita. "Oke, Marni. Tenang dulu. Gue ke bawah sekarang. Jangan panik. Urus aja pelanggan kalau ada yang datang."
Anindita bergegas turun. Ia menyambar kunci motor yang tergeletak di meja kasir. "Bibi Ratih di mana?" tanyanya pada Mbak Sumi yang sedang menyapu.
"Ada di belakang, Neng. Lagi bersihin udang," jawab Mbak Sumi.