Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit.
Sinta berdiri di balik tirai jendela. Benar saja, Pak Arman kembali keluar rumah. Ia mengenakan kemeja hitam dan tampak terburu-buru.
Tak lama kemudian, mobil putih yang sama berhenti di ujung jalan.
"Dia lagi..." bisik Sinta.
Dengan rasa penasaran yang besar, Sinta mengambil jaket dan kunci motornya. Ia mengikuti mobil itu dari kejauhan.
Mobil putih tersebut berhenti di sebuah kafe kecil di pinggir kota.
Dari balik pohon, Sinta melihat Arman turun dan duduk bersama wanita muda itu.
Namun, sesuatu membuatnya bingung.
Mereka tidak terlihat seperti pasangan yang sedang bermesraan.
Wanita itu justru tampak menangis.
Arman memberikan sapu tangan dan mencoba menenangkannya.
"Ada apa sebenarnya?" gumam Sinta.
Karena penasaran, Sinta mendekat sedikit demi sedikit.
Tiba-tiba ia mendengar suara wanita itu.
"Aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi, Kak..."
Kak?
Sinta terkejut.
Arman lalu berkata pelan.
"Kamu tenang saja. Kakak akan membantu menyelesaikan masalahmu."
Sinta mengernyitkan dahi.
Belum sempat ia mendengar lebih banyak, teleponnya berbunyi keras.
Arman dan wanita itu langsung menoleh.