Mobil hitam itu berhenti tepat di depan rumah Arman.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang pria bertubuh besar turun, mengenakan jaket kulit hitam. Tatapannya tajam dan membuat semua orang yang berada di halaman rumah bergidik.
Dina langsung bersembunyi di belakang Arman.
"Kak... itu mereka..." bisiknya dengan suara gemetar.
Arman mengepalkan tangannya.
"Maya, masuklah ke dalam rumah bersama Ibu dan Sinta. Cepat!"
Namun Maya menggeleng.
"Tidak! Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi!"
Pria itu melangkah mendekat.
"Sudah lama kita mencari kalian," katanya dingin.
"Pergi dari sini, Rendi!" bentak Arman.
Mendengar nama itu, Dina semakin ketakutan.
Sinta dan Maya saling berpandangan. Mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Rendi tertawa kecil.
"Adikmu membawa sesuatu yang bukan miliknya. Kalau tidak diserahkan, kalian semua akan mendapat masalah."
"Aku tidak mencuri apa pun!" teriak Dina sambil menangis.
Arman berdiri di depan adiknya.
"Kau tidak akan menyentuhnya."
Rendi tersenyum sinis.
"Masih seperti dulu. Selalu melindungi adikmu."
Suasana menjadi tegang.
Akhirnya Arman menarik napas panjang.
"Maya... Sinta... maaf karena aku selama ini berbohong."
Maya menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Berbohong tentang apa?"
Arman menundukkan kepala.
"Dina memang adikku. Kami terpisah sejak kecil setelah kedua orang tua kami bercerai. Tiga bulan lalu, aku menemukannya kembali."
"Kalau begitu, kenapa kau menyembunyikannya?" tanya Maya.