Suasana di ruang tamu mendadak mencekam.
Arman berdiri di depan ibunya, seolah ingin melindunginya.
"Ayah...?" ucapnya pelan.
Pria tua itu mengangguk. Wajahnya terlihat lelah, jauh berbeda dari sosok tegas yang selama ini diingat Arman.
"Aku tahu kalian marah padaku," katanya.
Dina tidak bisa menahan air matanya.
"Kenapa, Yah? Kenapa Ayah memisahkan kami dari Ibu?"
Pria itu menundukkan kepala. Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain isak tangis Dina.
Kemudian ia mengangkat map merah di tangannya.
"Semua jawabannya ada di sini."
Dengan tangan gemetar, ia meletakkan map itu di atas meja.
Arman membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen, foto-foto lama, dan sebuah surat.
Arman mengambil surat itu.
Tulisan di sana membuat matanya membesar.
Surat perjanjian hak asuh anak.
Ternyata, bertahun-tahun lalu, ayah dan ibu mereka terlibat perselisihan besar. Saat itu, ibu mereka mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatannya.
Karena takut kedua anaknya terlantar, ayah mereka membawa Arman dan Dina pergi ke luar kota.
Namun keadaan menjadi semakin rumit.
Ketika ibu mereka pulih dan mencari anak-anaknya, ayah telah berpindah-pindah tempat tinggal.
"Aku tidak pernah berniat memisahkan kalian selamanya," kata sang ayah dengan suara bergetar.
"Lalu kenapa Ayah mengatakan Ibu sudah meninggal?" tanya Arman dengan nada kecewa.
Pria itu memejamkan mata.
"Aku takut... kalau kalian memilih tinggal bersama Ibu dan membenciku."