Rumah tua itu mendadak sunyi.
Kata-kata Surya masih terngiang di telinga Arman.
"Pria yang selama ini kau panggil Ayah bukanlah ayah kandungmu."
Arman mundur beberapa langkah.
"Tidak... itu tidak mungkin."
Maya segera memegang tangannya.
"Mas, tenanglah."
Namun Arman menggeleng.
"Bagaimana aku bisa tenang? Selama ini aku hidup dengan kebohongan."
Dina menatap Surya dengan mata berkaca-kaca.
"Paman, katakan yang sebenarnya."
Surya menghela napas panjang.
"Aku tidak ingin membuka rahasia ini, tetapi keadaan memaksaku."
Ia lalu mengambil sebuah kotak kayu dari lemari tua di sudut ruangan.
Kotak itu penuh debu dan tampak sudah lama tidak dibuka.
Dengan perlahan Surya menyerahkannya kepada Arman.
"Bukalah."
Arman membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat beberapa foto lama, sebuah kalung perak, dan sebuah surat yang sudah menguning.
Tangannya gemetar saat membuka surat itu.
Tulisan di bagian atas membuat jantungnya berdetak kencang.
Untuk anakku, Arman...
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia melanjutkan membaca.
"Jika suatu hari kau membaca surat ini, berarti aku tidak lagi berada di sisimu. Aku adalah ayah kandungmu, Prasetyo. Aku menitipkanmu kepada sahabatku karena aku memiliki banyak musuh dan khawatir keselamatanmu terancam."
Arman terdiam.
Tangannya semakin gemetar.