Hujan turun dengan deras di luar rumah tua itu.
Arman masih berdiri mematung.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya.
"Aku... ayahmu, Arman," ucap pria itu sekali lagi.
Arman menggeleng pelan.
"Tidak... ini tidak mungkin. Selama ini aku sudah punya ayah."
Pria itu mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu. Dan aku berterima kasih kepada orang yang telah membesarkanmu."
Dina memandang pria itu dengan penuh tanda tanya.
"Kalau Anda benar ayah kandung Kak Arman, mengapa baru sekarang datang?"
Pria itu menarik napas panjang.
"Karena selama dua puluh lima tahun aku bersembunyi."
"Bersembunyi dari siapa?" tanya Maya.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan sebuah dompet tua dan menunjukkan sebuah foto.
Di foto itu terlihat dirinya bersama seorang pria lain.
Wajah pria itu membuat Surya terkejut.
"Dia...!" seru Surya.
"Siapa dia?" tanya Arman.
Prasetyo menatap anaknya dengan serius.
"Dia adalah orang yang mencoba membunuhku dua puluh lima tahun lalu."
"Apakah dia masih hidup?"
Prasetyo mengangguk.
"Dan dia masih mencari kita sampai sekarang."
Belum sempat Arman bertanya lagi, tiba-tiba suara teleponnya berdering.
Nomor tidak dikenal.
Dengan ragu, Arman mengangkatnya.
"Halo?"
Suara di seberang terdengar berat dan dingin.
"Jangan percaya pada pria yang mengaku sebagai ayahmu."
Arman terkejut.
"Siapa Anda?"