(Kebal Gombalan)
Malam harinya, para santri putri kelas tujuh berusaha untuk tidur, tetapi banyak yang tidak bisa memejamkan mata karena merindukan suasana rumah.
Mereka pun hanya diam berbaring sambil melihat ke langit-langit asrama. Kemudian, seorang santri bernama Zahra tiba-tiba mengeluh sakit perut.
"Aduh, kayaknya gue pengen setor ke WC, nih. Anter, yuk!" ajak santri putri tersebut kepada Amira yang berada di sampingnya.
"Ya elah ... WC-nya deket tuh, ada di depan sono, pake diantar segala," balas Amira datar.
"Iya, tapi gue takut." Zahra merengek, "Kalau gue diculik Wewe Gombel gimana?"
"Wewe Gombelnya berarti kurang kerjaan. Ngapain dia nyulik elu?" ketus Maya sambil mendelik.
"Aduh, ayok dong anterin, gue enggak tahan, nih!" Zahra memegangi perutnya sambil menggigit bibirnya sendiri.
"Ya udah ayok, sama gue aja, gue juga mau ke WC!" kata Salmah. Ia langsung berdiri.
Kedua santri putri itu pun bergegas pergi ke toilet, sedangkan santri lain berguling-guling di atas tempat tidur dan sesekali mengeluh ingin pulang.
Sementara itu, Zahra yang sedang buang air besar di toilet tiba-tiba teringat kepada keluarganya di rumah. Ia pun akhirnya menangis sambil mengejan.
"Zahra, elu kenapa? Elu enggak apa-apa, 'kan?" Salmah menggedor-gedor pintu toilet.
"Enggak, kok, gue enggak kenapa-napa," jawab Zahra sambil berjalan keluar dari toilet dengan mata yang sembab. "Udah, yuk, kita kembali ke kobong. Gue udah selesai, kok!"
"Ya udah, ayok cepet!" Salmah berjalan lebih dulu, sedangkan Zahra mengekor di belakangnya.
Ketika masuk ke kobong, mereka berdua melihat Naura dan Shihah sedang berbincang santai dengan teman-teman santri yang lain.
"Kalau ada apa-apa, kalian bilang aja ya sama kita, jangan sungkan," ucap Naura sembari tersenyum hangat.
"Iya, Kak, terima kasih sebelumnya." Para santri putri serentak menjawab.
"Sama-sama. Oh, iya, kalau boleh tahu, kalian mondok itu karena keinginan sendiri atau karena disuruh oleh orang tua?" Naura bertanya dengan raut wajah yang serius.
"Aku sih atas kemauan sendiri, Kak, biar pintar mengaji dan membuat orang tua bangga, terus biar bisa masuk surga juga," jawab santri putri bernama Sarah dengan antusias.