(Hari Pertama MPLS)
"Oh, keselek, ya? Ngomong dong dari tadi," kata Shihah lurus.
"Kan susah ngomongnya. Lagian kamu ngapain, sih? Baru datang bukannya ngucap salam, ini malah banting pintu kayak gitu!" Naura membuang napas kasar.
"Ya maaf, aku lagi kesel sama si Hakim. Dia tuh ganggu banget. Aku sampai muak denger kata-katanya yang selalu lebay!" Shihah berbicara dengan bulu alis yang hampir beradu.
"Dia kayaknya bener-bener suka deh sama kamu, buktinya dari awal kenal sampai detik ini, dia masih gigih ngejar-ngejar kamu, padahal udah dijutekin sama kamu." Naura berbicara seraya membuka hijabnya karena akan bersiap untuk tidur.
"Aku enggak peduli. Aku ke sini mau mencari ilmu, bukan mau mencari pacar. Lagi pula aku itu enggak ada niat nikah muda kayak kamu," jelas Shihah dengan tegas.
"Iya, iya, aku paham. Ya udah, aku tidur duluan, ya, ngantuk banget, nih." Naura langsung menguap, setelah berkata demikian.
Ia pun akhirnya tertidur dengan nyenyak karena kelelahan, setelah seharian melakukan tugas yang diembannya sebagai santri senior. Begitu pula dengan Shihah.
Sebelum Adzan Subuh, Naura sudah terbangun. Ia perlahan membuka mata dan menguceknya. Kemudian, gadis tersebut spontan mengerutkan dahi saat melihat ke arah Shihah yang sedang senyam-senyum sendiri di depan cermin.
Shihah teringat dengan ucapan Hakim semalam yang berkata bahwa senyumannya sangat manis. Ia menjadi penasaran ingin melihat senyumannya sendiri di depan cermin.
Sementara itu, Naura langsung berdiri dan menghampiri teman satu kobongnya tersebut. Kemudian, ia malah menyentuh kening sang teman.
"Shihah, kamu enggak kesurupan siluman kuda, 'kan?" cetus Naura datar.
"Maksudnya apa nanya kayak gitu, hah? Denger ya, imanku tuh kuat, jadi enggak mungkin kesurupan!" Shihah mendengkus kesal.
"Terus kamu ngapain senyam-senyum sendiri di depan cermin?" Naura penasaran.
"Aku cuma lagi latihan senyum aja, biar enggak dibilang jutek terus sama santri lain." Shihah langsung menjawab. "Ya udah yuk, kita bangunin anak-anak buat siap-siap Sholat Subuh berjamaah!"
Ketika Naura akan menjawab, mereka malah mendengar keributan di kobong santri putri kelas tujuh. Kedua gadis itu pun kemudian bergegas masuk ke sana.
"Ini teh sandal punya saya, tuh lihat atuh ada tulisan nama saya—Syakira!" kata Syakira 1 nyeroscos.
"Nama gue juga Syakira, dan gue tahu kalau ini tuh sandal gue! Lagian ngapain sih nama lu pake sama kayak nama gue segala? Ganti nama lu sono, jadi Lilis, kek!" Syakira 2 nyolot.
"Ih, males ... kamu weh yang ganti nama!" ketus gadis berdarah Sunda itu.
"Enak aja! Nama gue itu hasil semedi Enyak sama Babeh gue selama tujuh hari tujuh malam, jadi enggak mungkin gue ganti!" Kedua gadis itu sama-sama tidak mau mengalah.
"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar? Kalian itu teman, jadi jangan ribut kayak gitu!" Shihah berkacak pinggang. "Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik."