Arya duduk di hadapan Panut, pakliknya, adik ibunya satu-satunya, di rumahnya yang sederhana. Panut tidak banyak berubah perawakannya, masih sama seperti dulu saat Arya pergi dari rumah. Hanya kerut di wajah dan uban di rambutnya yang membiak hampir merata. Badannya masih kurus dan kulitnya agak gelap. Panut sudah berkeluarga. Istrinya perempuan sederhana dan pendiam. Mereka punya dua anak perempuan yang masih kecil.
“Kurang lebih sudah lima tahun mbakyu Maryati seperti itu. Sudah diobatkan ke mana-mana. Dokter, tabib, orang pintar, bahkan ke dukun, tapi tidak ada hasil. Dokter bilang ibumu mengalami demensia. Sebagian besar memorinya sudah hilang,” kata Panut menjelaskan.
Penjelasan itu menjawab keheranan Arya atas sikap ibunya saat dia datang tadi. Arya kaget karena ibunya menyambut kepulangannya dengan pertanyaan, “Siapa kamu?”
Arya pun kaget dan mengira ibunya pangling dengan penampilannya. Sepuluh tahun dipisahkan jarak dan waktu. Dirinya yang dulu kurus dan berkulit gelap, kini lebih berisi dan kulit lebih bersih.
“Aku Arya, Bu. Ibu lupa?” Arya melepas kaca mata hitamnya yang mungkin jadi penyebab.
Tapi ibunya malah menggelengkan kepala tegas. “Kamu penipu. Aku tidak punya anak. Pergi kamu!”
Maryati langsung menutup pintu dan menguncinya. Arya mencoba menggedor pintu dan memanggil ibunya berkali-kali. Tapi tak dibukakan.
Seorang ibu-ibu tetangga yang tidak dikenal Arya mendekat.
“Mas siapa?” Tanyanya.
“Saya putranya bu Maryati. Saya baru pulang dari merantau,” jawab Arya.
“Oh ini anak Bu Mar yang diceritakan orang-orang itu ya?”
“Maaf, ibu saya kenapa ya?”
“Mas ini belum tahu dengan kondisi ibu mas? Kata Pak Panut sih, ibu mas sakit pikun. Tapi lebih jelasnya tanya aja sama pak Panut.”