Arya menempati kamarnya sendiri. Maryati bilang itu kamar khusus tamu. Tak banyak perubahan kamar masa kecil dan remajanya ini. Yang berubah hanya tidak ada foto dirinya dan barang-barang miliknya. Semua disingkirkan oleh ayahnya setelah dirinya pergi. Ayahnya sangat marah sekali ketika ia melawannya. Arya tak bisa menahan diri melihat laki-laki bengis itu memukuli ibunya. Dengan gagah berani Arya menghantamkan kursi ke punggung ayahnya. Bukannya tersungkur, orang tua itu justru makin kalap.
“Pergi sejauhnya dari rumah ini dan jangan pernah kembali! Aku tidak sudi punya anak seperti kamu!” Ujarnya mengusir Arya pergi.
Arya masuk kamar dan mengemasi pakaiannya ke dalam tas ransel. Dengan mata merebak Arya bergegas keluar. Tapi langkahnya sempat tertahan oleh tangis dan panggilan ibunya.
“Jangan, Nak. Kamu jangan pergi. Pak, maafin Arya. Dia nggak bermaksud melawan bapak,” Maryati memohon kepada suaminya.
Dirgo bergeming pada sikapnya. “Aku ndak sudi maafin anak durhaka seperti dia. Biar dia hidup menggelandang di jalan. Dia pikir bisa hidup tanpa orang tua. Aku tidak peduli dia mati kelaparan!”
Maryati makin keras menangis. Arya makin menebal tekad dan keinginan pergi dari rumah. Meski berat melihat ibunya menangis. Arya berjanji dalam hati akan membawa ibunya pergi dari neraka ini jika hidupnya sudah berhasil.
“Nak Arya.” Panggilan lembut itu membuyarkan lamunannya.
Arya menoleh ke Maryati yang sudah berdiri di hadapannya. Sejujurnya, ada perasaan lega saat pertama melihat keadaan ibunya baik-baik saja. Sepanjang kepergiannya Arya cemas dan gelisah memikirkan ibunya. Tak sanggup ia membayangkan ayahnya memukul dan menyiksa ibunya selama dia pergi. Dan ketika akhirnya tahu kondisi ibunya baik saja, Arya senang. Meskipun ada kesedihan lain merobek hatinya saat tahu ibunya mengidap demensia.
“Ada apa, Bu?”
“Ibu sudah siapkan makan siang untuk Nak Arya.”
“Ibu nggak usah repot-repot.”
“Nggak repot kok. Saya senang menjamu tamu.”
Arya tak bisa menolak. Keramahan Ibu tak berubah. Justru ini kesempatan bisa makan bersama Ibu. Sudah lama Arya merindukan masakan Ibu.
Mereka makan bersama. Entah kebetulan atau disengaja, Maryati masak sayur lodeh, sambel teri, dan lele goreng. Makanan kesukaan Arya dulu. Aroma sambel terinya terasa menusuk hidung Arya, mengingatkannya pada masa kecil dulu. Sepuang sekolah, Arya tidak ganti baju langsung menuju meja makan. Dengan lahap dia makan. Keningnya sampai keringatan, karena kepedasan. Maryati yang duduk menemaninya tersenyum geli.
“Pelan-pelan makannya. Nanti tersedak,” kata Maryati menegur halus.
“Masakan ibu enak. Besok masak gini lagi ya, Bu.”
“Nggak bosan?”
“Nggaklah. Ini kan kesukaanku.”
Maryati tersenyum senang.