Arya berdiri di teras depan rumah Panut. Tangannya bertumpu pada pagar teras. Memandang area pesawahan di hadapannya. Tampak pegunungan hijau di kejauhan. Rumah peninggalan kakeknya ini berada di ujung desa. Jalan depan rumah yang dulu bertanah kini sudah beraspal. Kendaraan hilir mudik melintas. Desa yang dulu sepi, kini ramai. Hampir semua penduduk memiliki kendaraan bermotor roda dua. Beberapa memiliki mobil.
Dulu, Arya sering datang ke sini, bahkan menginap beberapa hari. Kakek neneknya pun hapal alasan Arya menginap. Biasanya habis dimarahi ayahnya. Dia baru pulang jika ibunya datang menjemput. Jarak rumah kakeknya dengan rumah orang tuanya sekira dua kilometer. Arya betah tinggal di rumah kakeknya. Selain tenang dan damai, kakek neneknya sangat perhatian dan menyayanginya.
Sayang, dua tahun setelah Arya pergi dari rumah, mereka dipanggil Tuhan. Neneknya lebih dulu meninggal, karena sakit asma. Lima bulan kemudian kakeknya menyusul. Konon kena serangan jantung. Arya sangat sedih dan menyesal. Arya tahu, bukan sekadar sakit dan usia tua yang menyebabkan mereka meninggal. Tekanan batin melihat kehidupan putrinya yang penuh derita, ditambah kepergian sang cucu meninggalkan rumah.
Sebelum pergi, Arya sempat berpamitan pada kakek neneknya. Mereka menangis sedih. Berat berpisah dengan cucu satu-satunya. Tapi mereka juga tak bisa menahan Arya pergi. Mereka tahu beratnya hidup ditanggung Arya jika masih tinggal di rumah. Mereka memberi Arya uang untuk bekal. Arya pun berjanji jika sudah berhasil hidup di rantau akan pulang menjenguk kakek neneknya. Sayang, mereka sudah lebih dulu pergi sebelum Arya pulang.
Arya mengusap air matanya sebelum jatuh. Banyak kenangan indah dan berkesan dengan kakek neneknya. Mereka memiliki hati seluas samudera yang teduh dan damai. Orang baik seperti mereka kenapa harus mengalami nasib buruk. Memiliki menantu jahat dan bengis. Arya ingat, sepanjang menikah dengan ibunya, ayahnya jarang mengunjungi kakek nenek. Mungkin bisa dihitung dengan jari tangan. Setiap lebaran hanya Arya dan ibunya yang datang. Ayahnya sibuk berpesta dengan teman-temannya.
“Paklik bisa ceritakan bagaimana bapak meninggal?” tanya Arya kepada Panut yang masih duduk di kursi.
“Seperti kamu tahu, bapakmu hobi minum miras. Hampir tiap hari minum alkohol. Merokok pun bisa habis dua bungkus sehari. Maunya makan yang enak-enak. Akhirnya ginjalnya rusak. Paru-parunya kena flek. Bolak balik masuk rumah sakit. Dokter menyarankan operasi, tapi bapakmu nggak mau. Akhirnya... begitulah. Sekuat kuatnya manusia, mati juga to,” tutur Panut.
Arya menarik napas dalam. Satu hal yang tak dimengertinya, kenapa ada manusia bebal seperti ayahnya. Sudah egois, kejam, dan nir moral, tak punya sedikit pun nurani dan kesadaran untuk berubah. Begitu hitam dan gelap hidupnya. Jika dicari penyebabnya, mungkin latar belakang hidupnya dan lingkungan yang membentuk kepribadiannya seperti itu.
Terlahir di tengah keluarga berada sebagai anak tunggal. Orang tuanya pedagang kaya. Dirgo kecil dimanja dan terpenuhi semua keinginannya. Orang tuanya sibuk di toko dan jarang di rumah. Dirgo tumbuh dalam asuhan pembantu dan hidup liar di luar rumah. Sekolah sering bolos dan bergaul dengan kaum berandalan. Suka merokok dan mabok di usia SMP. Jika bukan karena uang orang tuanya mungkin dia tak akan pernah lulus sekolah hingga bisa jadi sarjana. Konon, ijazah S1-nya hasil beli.
Cerita tentang kenakalan Dirgo memang sudah bukan rahasia lagi. Kedua orang tuanya yang jatuh sakit dan kemudian meninggal konon juga akibat perbuatannya yang tak bisa dinasihati. Arya kadang tak habis pikir, kenapa ibunya dulu mau menikah dengan Dirgo yang sudah jelas buruk reputasinya.
Bak kisah sinetron, Maryati yang polos dan terlalu baik, tak bisa menolak lagi karena didekati Dirgo yang tiap hari memberinya hadiah. Satu lagi, Dirgo melunasi hutang orang tua Maryati pada rentenir. Maryati mencintai Dirgo dan berkeinginan bisa mengubah tabiatnya. Namun, itu hanya sebuah utopia dan usaha yang sia-sia. Mungkin sudah jalan takdir mereka berdua. Arya pun tak bisa mengelak jadi bagian dari hidup mereka.
“Apa yang terjadi saat bapak sakit, Paklik?”