Maryati dulu hanyalah seorang anak yang polos dan sederhana. Pendiam dan tidak suka neko-neko. Dia sangat penurut dan suka membantu orang tua. Panut ingat betul segala hal yang dilakukan kakaknya. Mereka sangat dekat sebagai saudara. Maryati yang momong dan menjaga Panut sejak kecil, karena kedua orang tua mereka sibuk di sawah.
Dari pagi hingga sore Mardani dan Rusmi, orang tua mereka, bahu membahu mengolah sawah yang cuma sepetak. Mereka juga kadang membantu menggarap sawah tetangga. Tidak dibayar. Sebagai gantinya, mereka juga ikut membantu di sawah Mardani. Istilahnya ijol bahu atau tukar tenaga. Begitulah galibnya kerukunan masih terjaga di lingkungan desa.
Maryati remaja yang hanya lulus SMP banyak berdiam di rumah menggantikan tugas ibunya melakukan pekerjaan rumah dan mengasuh Panut yang masih kecil. Tidak seperti teman sebayanya yang suka bersolek, jalan-jalan, dan pacaran, Maryati sibuk dengan asap pawon. Keluarga mereka masih memasak dengan kayu bakar. Maryati tidak banyak tuntutan dan nrimo pada nasib. Baginya, berkumpul dengan keluarga dan makan seadanya sudah membuatnya bahagia.
Suatu hari Panut kecil bermain di pinggir sungai. Maryati mencuci baju di batu besar di sisi lain. Panut kecil mengejar kupu-kupu yang berterbangan. Langkahnya terhenti di pinggiran sungai yang airnya dalam. Orang desa menyebutnya kedung. Mata Panut kecil terbeliak menyaksikan sekumpulan ikan muncul di permukaan air. Tangan Panut mengulur ingin menangkapnya. Tapi... byur. Panut jatuh dan tenggelam.
Itulah peristiwa mengerikan yang diingat Panut sampai sekarang. Saat itu usianya masih tujuh tahun. Beruntung kakaknya sigap menolongnya. Maryati yang sebenarnya tidak bisa berenang nekat terjun dan menarik Panut ke atas. Dalam keadaan terdesak manusia kadang bisa melakukan hal yang mustahil. Maryati menekan nekan dada Panut yang pingsan hingga berhasil keluar air dari mulutnya.
Begitu siuman Panut langsung memeluk kakaknya dan menangis sesenggukan. Maryati menenangkan. Maryati tidak menyalahkan Panut. Dia malah menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga adiknya. Sejak kejadian itu Panut tak pernah lepas dari kakaknya dan menurut apa pun katanya. Setelah cukup besar Panut berjanji akan menjaga dan melakukan apa pun untuk kakaknya.
Ketika Dirgo datang dalam kehidupan Maryati dan ikut campur dalam masalah keluarganya, Panut sebenarnya tidak suka. Saat itu usia Maryati 22 tahun dan Panut 13 tahun. Panut yang sudah duduk di bangku SMP tidak tergiur oleh kekayaan Dirgo. Dia mendengar cerita tentang Dirgo dan itu bukan sekedar gosip. Beberapa kali Dirgo menyuapnya dengan uang dan barang mainan, tapi Panut menolak. Panut tidak ingin Dirgo menikahi kakaknya.
Tapi Maryati mau menerima Dirgo. Dia memikirkan nasib orang tuanya yang terjerat hutang pada rentenir gara-gara gagal panen. Dirgo berbaik hati melunasinya. Waktu itu Dirgo memang memperlihatkan sikap yang baik, sehingga berhasil membuat Maryati jadi suka. Maryati yang kurang bergaul, lugu, dan baik hati memandang dunia tanpa prasangka. Dia percaya semua manusia itu baik. Dia yakin Dirgo bisa berubah baik. Sebuah keyakinan yang akhirnya justru menenggelamkan dirinya dalam kehidupan yang kelam dan sarat derita.
Di awal pernikahan Maryati sempat merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Namun setelah dia hamil, neraka itu perlahan menunjukkan ujudnya. Perilaku Dirgo yang suka mabok tak berubah. Dia suka main perempuan dan sering pulang malam. Tangannya ringan bertindak dan mulutnya kerap melontarkan kata-kata kotor. Jika dinasihati baik-baik malah marah. Egonya terlalu besar. Maryati baru sadar dia telah menikahi setan.
Namun dia berusaha bertahan demi anak. Kehadiran Arya menjadi pelipur lara. Maryati memikirkan masa depan anaknya. Dia ingin Arya terpenuhi kebutuhan hidupnya dan terjamin pendidikannya. Maryati sadar, banyak kesulitan membesarkan anak sendirian. Dirgo mengancam tidak akan memberikan anaknya jika mereka bercerai. Maryati tak mau berpisah dengan buah hati satu-satunya. Dia mengalah menjadi boneka suaminya.