Hari menjelang senja saat Arya balik ke rumah ibunya. Semburat lembayung tampak di cakrawala barat. Beberapa orang pulang dari sawah lewat jalan depan rumah. Wajah mereka letih, tapi menampakkan kepuasan. Menggeluti tanah sawah seharian, seperti laki habis menggauli bini. Nikmat mana yang kau dustakan?
Kaki Arya baru saja menginjak lantai teras, suara Maryati yang muncul dari dalam rumah menegurnya. “Dari mana saja kok baru pulang?”
Arya tertegun. Kalimat sama yang kerap didengarnya dulu saat masih kecil. Ketika pulang dari bermain bola di lapangan, ibunya sudah menunggu di depan rumah. Arya jadi berpikiran jangan-jangan ibunya tidak lupa ingatan.
“Dari jalan-jalan sekitar kampung ini,” jawab Arya.
“Oh, saya kira Nak Arya tidak balik ke sini. Saya sudah siapkan masakan istimewa untuk Nak Arya,” kata Maryati.
“Ibu tidak usah repot-repot.”
“Ibu tidak repot kok. Ibu senang bisa masakin Nak Arya. Ya sudah, Nak Arya mandi dulu. Saya siapkan makanannya.”
Arya hanya mengangguk.
Arya makan malam ditemani ibunya. Perempuan itu memandanginya saat makan sambil senyum-senyum senang. Arya jadi jengah. Apalagi ibunya tidak ikut makan.
“Ibu kok nggak makan?”
“Saya sudah kenyang. Sebelum Nak Arya pulang saya sudah makan.”
“Ibu kenapa senyum-senyum?”
“Senang saja lihat Nak Arya makan. Ibu kamu pasti juga suka melihati kamu makan. Coba kalau saya punya anak...”