Rahasia Ibu

Eko Hartono
Chapter #7

Bab 6: Panut

Panut duduk sendirian di teras depan rumahnya. Sebatang rokok di jemari tangannya masih menyala. Bahkan dibiarkan batang rokok itu perlahan dimakan bara hingga ujungnya menjadi abu. Panut larut dalam pikirannya sendiri. Pandangannya menerawang menembus kegelapan malam.

Kepulangan Arya menjadi pusat pikirannya. Keponakan yang dicari bertahun-tahun lamanya akhirnya pulang sendiri. Ada perasaan senang dan lega, tapi juga terselip rasa gundah dan galau. Panut tak pernah menginginkan situasi seperti ini. Arya pulang mendapati keadaan ibunya yang berbeda. Bahkan tidak mengenalinya lagi. Panut bisa merasakan bagaimana perasaan Arya.

Panut kembali mengenang masa-masa yang telah berlalu. Dia sebenarnya juga tidak pernah menginginkan semua ini terjadi. Tapi situasi dan keadaan yang membuatnya tak bisa menghindarinya. Mau tak mau dia harus terlibat dengan masalah rumah tangga kakaknya. Maryati satu-satunya saudara kandungnya. Lebih dari itu Maryati penyelamat hidupnya.

Panut tak bisa membiarkan kakaknya menanggung penderitaan ini sendirian. Sumber masalah yang dihadapi kakaknya adalah kehadiran Dirgo. Dari awal Panut sudah tidak suka pada Dirgo. Laki-laki itu penghancur hidup kakaknya. Maryati yang polos dan suci dijadikan samsak hidup yang dicederai lahir dan batinnya sepanjang kehidupan rumah tangga.

Masih terngiang di ingatannya ucapan Dirgo yang sangat menusuk perasaan dan membangkitkan kebencian luar biasa.

“Mbakyumu itu perempuan goblok dan kotor. Dia itu seperti binatang. Nyesel aku kawini dia!” 

“Kalau sampeyan nyesel, ceraikan saja atau kembalikan pada kami keluarganya,” kata Panut.

“Enak saja dikembalikan. Aku sudah keluar uang banyak dan berkorban buat keluarga kalian, semuanya belum impas. Maryati harus bayar itu seumur hidupnya dengan mengabdi kepadaku. Dan kamu yang juga sudah aku bantu selama ini jangan coba melawan aku. Ngerti!” 

Panut terdiam. Tak bisa berbuat apa-apa. Hanya buku tangannya yang terkepal menunjukkan gejolak perasaannya yang membara. Panut memang tak melawan Dirgo, tapi bukan berarti takut. Dia bisa saja nekat membunuh kakak iparnya itu, tapi dia memikirkan konsekuensinya. Memikirkan kakaknya. 

Panut pernah membujuk kakaknya agar bercerai dari suaminya. Tapi Maryati menolak. Panut kadang tak habis mengerti, kenapa kakaknya tetap bertahan. Berteman dengan derita. Bahkan ketika anak semata wayangnya terusir dari rumah, Maryati tetap bertahan. Dulu dia bertahan demi anak, tapi setelah anaknya pergi, dia iba pada suaminya yang diganjar sakit. 

Tiba-tiba lamunan Panut dibuyarkan oleh istrinya yang muncul dari dalam rumah.

“Mas, sudah malam. Sampeyan belum makan to? Nanti sakit lho,” kata Marni.

“Iya, sebentar. Aku habiskan rokokku,” sahut Panut.

Marni masuk lagi ke dalam rumah. Panut menghela napas. Setiap melihat Marni ada perasaan haru sekaligus pedih. Teringat bagaimana dia bisa menikahi Marni. Perempuan sederhana dan ayu itu harus terlibat dalam kemelut rumah tangga kakaknya. 

Lihat selengkapnya