Rahasia Ibu

Eko Hartono
Chapter #8

Bab 7: Tamu Tak Diundang

Selama tinggal bersama ibunya, Arya tak merasakan banyak hal berubah pada diri ibunya. Hanya ketuaannya yang membedakan. Tapi sikap, perilaku, dan tutur katanya masih sama. Bahkan beberapa kebiasaannya di masa lalu yang diingat Arya tak ada yang berubah. 

Ibu punya kebiasaan menampi beras di belakang rumah dan mengumpulkan menir atau butiran beras kecil untuk makan ayam peliharaan. Saat akan memulai pekerjaan rumah, dia menggelung rambutnya yang panjang. Ketika akan memasuki rumah, dia berhenti sebentar di depan pintu sambil mulutnya komat kamit seakan membaca doa atau mantra.

Arya pernah bertanya kepada ibunya, kenapa melakukan itu dan apa yang diucapkannya. Ibunya menjawab dengan kalimat hiperbolis.

“Pintu rumah adalah batas antara kehidupan di luar dan di dalam. Kedua kehidupan itu memiliki pengaruh baik dan buruk. Jadi jangan sampai kita membawa keburukan di luar ke dalam rumah, begitu pun sebaliknya. Yang ibu ucapkan bukan apa-apa. Hanya sebuah permohonan.” 

Arya masih tidak paham hal itu. Ibunya mungkin terpengaruh oleh suatu keyakinan tertentu. Karena kenyataannya apa yang diyakini ibu itu tidak membawa dampak apa-apa pada kehidupannya. Ia tetap hidup menderita dalam perkawinannya. Mungkin itu hanya penguat kebatinannya yang membuatnya tetap bertahan.

Sepengetahuan Arya dari beberapa literatur yang dibacanya bahwa demensia bisa memengaruhi kebiasaan penderitanya. Seperti lupa pada aktivitas sehari-hari. Lupa makan. Lupa meletakkan barang. Sering mengulang perkataan. Pola tidur berubah. Juga mudah tersesat. Pola sikap dan perilaku tidak sama lagi.

Tapi yang dilihat Arya pada ibunya tidak menunjukkan ada gejala demensia. Arya jadi berpikiran, jangan-jangan ibunya tidak mengidap demensia. Mungkin Ibu berpura-pura atau bersandiwara. Kalau benar demikian, kenapa dia melakukan hal itu? Arya jadi penasaran. Arya lalu menemui Panut dan mengutarakan kecurigaannya ini. 

“Paklik, saya merasa Ibu sepertinya tidak mengalami demensia. Karena saya tidak melihat gejala itu pada diri ibu. Apa ibu sengaja pikun karena ada sesuatu yang disembunyikannya? Atau dia sedang berpura-pura saja,” kata Arya dengan nada serius.

Panut tercekat mendengar pernyataan Arya. Tapi sejurus kemudian dia tertawa kecil. “Kalau dia berpura-pura buat apa? Apalagi berpura-pura tidak kenal kamu. Nggak mungkinlah itu!” ujarnya menepis pendapat keponakannya.

“Tapi saya merasakan ada kejanggalan dari sikap ibu. Kalau dia tidak ingat saya, pasti dia tidak ingat lagi dengan kebiasaannya yang dulu.”

“Kebiasaan yang mana?”

“Kebiasaannya dulu saat saya masih di rumah. Saya tidak melihat dia berubah.”

“Yang namanya kebiasaan orang tentu terus terbawa meski sudah pikun.”

“Saya ingin periksakan ibu ke rumah sakit yang lengkap peralatannya. Mungkin ibu perlu diperiksa dengan MRI untuk mengetahui apa dia benar-benar demensia atau tidak!” 

“Jangan, Arya.”

“Kenapa, Paklik?”

“Aku pernah mengajak ibumu periksa ke rumah sakit. Tapi ibumu malah marah ketika diberitahu dirinya mengalami pikun. Dia tidak mau disebut pikun. Dia pasti akan menolak jika disuruh periksa lagi.”

“Kita bujuk ibu bagaimana pun caranya. Ini demi kebaikan ibu juga. Saya malah khawatir kalau... “ Arya tak meneruskan kalimatnya karena ragu.

“Kalau kenapa, Arya?” cecar Panut.

“Kalau ada hal lain yang terjadi pada ibu. Mungkin ibu mengidap penyakit lain atau... ah, pokoknya kita harus periksakan ibu.” 

Panut tak berkomentar lagi. Dia tak bisa menghalangi kemauan keponakannya. 

Arya lalu mengajak bicara ibunya dan membujuknya untuk mau periksa ke rumah sakit besar di kota. Arya pun beralasan dapat rekomendasi dari dokter di rumah sakit. Tapi Maryati menolak tegas. 

Lihat selengkapnya