Arya sebenarnya sudah tahu, ayahnya sosok kepala desa bermasalah. Dia bukan pemimpin yang baik. Dulu, Arya sering mendengar keluhan warga desa yang diperlakukan semena-mena oleh Dirgo. Namun mereka tidak ada yang berani protes atau melawan. Dirgo orangnya keras dan tidak suka mengalah. Dirgo berkawan dekat dengan polisi, tentara, dan pejabat di atasnya. Dirgo pandai menyenangkan hati mereka.
Arya tahu, beberapa hal buruk dilakukan ayahnya selama menjabat sebagai kepala desa. Melakukan korupsi sudah menjadi makanannya. Masyarakat tahu itu, tapi tak ada yang berani menghentikannya. Tak ada yang berani melaporkannya, karena hal itu juga percuma. Kasusnya akan menguap atau hilang begitu saja. Karena Dirgo bukan pemain tunggal. Ada orang-orang di atasnya yang ikut menikmati. Bahkan mereka seperti jaringan dan geng yang saling melindungi.
Arya sebenarnya juga malu dengan perbuatan ayahnya. Banyak orang yang ikut mencemooh dan mencibir. Tapi ada beberapa teman yang mengerti posisi Arya. Karena Arya tidak sama dengan ayahnya. Arya bahkan benci pada perbuatan ayahnya. Salah satu bentuk perlawanan Arya pada ayahnya dengan menolak meneruskan kuliah karena tak ingin bergantung pada ayahnya. Arya menolak pemberian ayahnya karena tahu hal itu dari hasil korupsi.
Arya tadinya berpikir setelah ayahnya meninggal, semua masalah dan urusannya di masa lalu ikut terkubur. Tapi ternyata tidak. Apa yang diceritakan Harjito tadi mengejutkan Arya. Jika urusan utang piutang itu hanya bernilai jutaan saja, Arya masih sanggup mengatasi. Tapi ini mencapai ratusan juta, bahkan lebih dari setengah milyar.
Arya tak bisa berharap ibunya menjawab tentang persoalan ini, karena seperti yang dikatakan Harjito, selain sudah pikun, Maryati tidak mau ikut bertanggung jawab dengan semua yang pernah dilakukan suaminya di masa lalu. Meskipun menjabat orang nomer satu di desa, tapi sebagai istri Maryati tidak pernah mendapatkan peran apa-apa. Dia hanya sekadar simbol ibu ketua PKK. Itu pun masih disetir suaminya.
Arya kembali menemui Panut untuk menanyakan soal ini. Ternyata Panut sama sekali tidak mengetahui masalah ini.
“Dulu aku memang pernah mendengar masalah ini, tapi sepengetahuanku perkara tukar guling tanah itu sudah selesai. Dari para pihak pemilik tanah, tidak ada yang mengajukan gugatan ke pengadilan. Tapi kenapa sekarang muncul lagi,” kata Panut heran.
“Seperti kata pak Harjito, para pemilik tanah akan kalah jika ke pengadilan. Karena semua proses sudah dilakukan dengan legal, meskipun pihak pemilik tanah merasa dirugikan. Mereka ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Mereka menuntut tanah mereka dikembalikan atau diganti uang senilai yang saya sebutkan tadi, Paklik.”
“Tidak! Kamu jangan turuti apa maunya mereka. Aku curiga ini cuma permainannya Harjito. Dia memprovokasi yang lain. Aku tahu dia sedang bangkrut. Aku dengar dia dibelit hutang besar.”
“Tapi, Paklik...?”
“Aku tahu, bapakmu dulu orang nggak bener. Mungkin dia memang salah. Tapi tidak berarti kesalahannya harus ditimpakan pada keluarganya!” tandas Panut.
Arya tercenung. Apa yang dikatakan pakliknya benar. Tapi Arya merasa masih ada yang mengganjal dalam hatinya.
“Begini saja. Kamu ikut aku sekarang ke rumah Pak Sono. Dia yang paling tahu masalah ini. Kamu bisa mendapatkan informasi yang jelas dari beliau,” kata Panut kemudian.
Dengan mengendarai sepeda motor mereka pergi ke rumah Pak Sono yang berada di dusun lain. Panut membonceng motor Arya. Selama dalam perjalanan Panut bercerita tentang Pak Sono. Beliau dulu sekretaris desa yang mendampingi tugas Dirgo. Walau pun dia lebih tua dari Dirgo, namun dia tunduk pada Dirgo. Sepengetahuan Arya, Pak Sono orangnya baik. Dia sering datang ke rumah.