Perempuan muda bernama Irma itu duduk di hadapan Arya. Pengakuannya bahwa dirinya istri muda ayahnya sangat mengejutkan Arya. Selama ini Arya tidak pernah mendengar cerita ayahnya menikah lagi. Dirgo memang pria bajingan yang suka main perempuan, tapi itu sebatas kesenangan. Dirgo bahkan tak pernah mengajak para perempuan itu datang ke rumah.
Arya memperkirakan usia Irma tak beda jauh dengan umurnya, mungkin malah lebih muda. Irma bukan asli orang sini. Arya tidak mengenalinya, bahkan baru kali ini melihatnya. Saat dia datang tadi kebetulan Maryati tidak ada di rumah. Dia sedang pergi ke rumah kerabatnya di dusun sebelah. Arya tidak langsung percaya dengan pengakuan Irma.
“Apa buktinya kalau kamu pernah menikah dengan bapak saya?” tanya Arya.
Perempuan muda itu mengeluarkan buku nikah dari dalam tasnya. Dia sodorkan buku nikah itu ke Arya. Sejenak Arya memeriksanya. Arya tidak tahu, buku nikah ini asli atau palsu. Tapi dalam buku nikah tertera foto dan tanda tangan Dirgo. Juga kepala KUA yang menjadi wali hakimnya. Bagi Dirgo yang bukan pegawai negeri sah saja menikah dua kali tanpa persetujuan istri pertama.
Selama ini, baik ibunya maupun pakliknya, tidak pernah bercerita soal pernikahan kedua Dirgo. Mungkin saja pernikahan itu disembunyikan dari mereka. Karena Arya yakin, ibunya pasti tidak setuju suaminya menikah lagi. Meskipun selama ini hatinya selalu disakiti, tapi sebagai perempuan dia tentu tidak mau dimadu.
Arya mengembalikan buku nikah itu kepada Irma. Perempuan muda itu tersenyum puas.
“Sekarang kamu percaya kan?” ucapnya dengan nada penuh kemenangan.
“Oke, terus mau kamu apa datang ke sini?”
“Aku menuntut warisan almarhum Mas Dirgo.”
Arya kembali dibuat terkejut. Dari buku nikah tadi tertera tahun pernikahan mereka. Belum genap setahun dari kematian Dirgo. Jadi harta gono gini apa yang mau dituntut. Arya yakin, sepanjang umur pernikahan mereka justru ayahnya yang banyak mengeluarkan uang untuk istri keduanya itu.
“Pernikahan kalian tidak berlangsung lama. Jadi harta gono gini apa yang mau dituntut. Saya yakin selama menikahi kamu, bapak saya sudah mengeluarkan banyak uang untuk kamu,” kata Arya menekankan.
“Aku memang tidak lama berumahtangga dengan mas Dirgo. Tapi sebagai istri sah aku juga berhak atas harta peninggalan suamiku!”
“Ibu saya sebagai istri pertama yang paling berhak. Karena harta yang dimiliki suaminya lebih banyak didapat selama menikah dengan ibu saya!”
“Harta peninggalan mas Dirgo itu banyak. Ada rumah, tanah, sawah, dan juga simpanan uang maupun emas. Aku tidak menuntut banyak. Paling tidak sepertiga dari harta itu.”
Arya menggeleng keras. Tuntutan perempuan itu tidak masuk akal. Baru seumur jagung dia menikahi Dirgo, tapi permintaannya sangat berlebihan. Arya yakin perempuan ini sudah banyak makan uang Dirgo. Bahkan mungkin sebelum kematiannya, Dirgo memberikan sesuatu pada istri mudanya ini.
“Saya dan ibu saya tidak akan memberikan sepersenpun harta bapak saya kepada anda!” Tegas Arya.
“Baiklah, kalau cara kekeluargaan tidak menyelesaikan masalah ini, kita ketemu di pengadilan!”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Irma bangkit dari duduknya dan melenggang pergi. Arya terpekur bisu di tempatnya.
####