Arya berjalan menyusuri jalan desa yang mulai remang-remang. Dia sengaja tak membawa motor biar lebih leluasa mencari ibunya. Siapa tahu ibunya masuk ke areal kebun atau sawah. Belum ada dua puluh meter berjalan, dia melihat dari ujung jalan dua perempuan menuju ke arahnya. Salah satunya dia kenali seperti ibunya. Arya mempercepat langkah kakinya.
Setelah cukup dekat, tiba-tiba jantung Arya berdebar. Perempuan muda yang bersama ibunya itu mulai dikenalinya. Meskipun suasana rembang petang, tapi mata Arya masih mengingat sosok itu. Dengan rambut hitam panjang agak bergelombang, dahi datar, sepasang lengkung alis tebal menaungi matanya yang cerlang, hidung mancung, dan bibir tipis merah delima. Tak salah lagi, dialah Riyani. Kecantikannya tak berubah, walau tubuhnya lebih berisi.
“Mas Arya?” sapa Riyani lebih dulu begitu Arya tiba di hadapan mereka.
“Riyani. Bagaimana ibu bisa sama kamu?”
“Tadi kebetulan aku lewat jalan depan gudang KUD. Aku lihat Bu Maryati berdiri sendirian di pinggir jalan seperti orang kebingungan. Aku tanya mau ke mana, beliau bilang mau ke pasar tapi nggak tahu jalannya. Aku lalu ajak dia pulang.”
“Terima kasih, Yan. Ibu sekarang sudah pikun. Dia sering tersesat.”
“Ya, aku sudah tahu dengan kondisi ibumu.”
Maryati memandangi Arya seksama dan dengan ringan berceletuk, “Siapa kamu?”
Arya dan Riyani saling pandang. Arya tersenyum kecut. Mereka lalu bersama-sama membawa Maryati kembali ke rumah.
####
Setelah mengantar ibunya ke kamar untuk beristirahat, Arya kembali ke ruang depan menemui Riyani.
“Ibu langsung tidur. Mungkin dia kecapekan,” kata Arya sambil duduk di hadapan Riyani.
“Aku sebenarnya sering ke sini menengok bu Mar, tapi sudah beberapa hari ini aku nggak ke sini. Aku nggak tahu kalau kamu pulang,” ucap Riyani.
“Aku pulang memang tanpa kabar-kabar dulu. Aku nggak tahu dengan kondisi ibuku. Makanya, ketika sampai rumah aku kaget ibu tidak mengenaliku. Paklik Panut bilang kalau ibu mengidap demensia.”
“Sebenarnya sudah cukup lama bu Mar mengalami gejala demensia. Tapi baru belakangan kondisinya makin parah.”
Arya mengangguk. Arya terdiam sejenak. Dia ragu apa yang harus dikatakan selanjutnya. Pertemuan kembali dengan mantan kekasihnya ini sangat tidak terduga. Arya tadinya punya rencana ingin menemui Riyani setelah mendengar cerita dari Fajar, tapi dia mencari waktu yang tepat. Riyani yang sekarang berbeda dengan Riyani yang dikenalnya dulu.
Sementara Riyani juga tampak canggung. Dia menyadari keadaannya yang sudah banyak berubah. Dirinya bukan lagi wanita yang pernah dikenal dan dicintai Arya. Banyak hal yang terjadi sepeninggal Arya dan semuanya sudah tak sama lagi. Riyani tahu diri untuk tidak menyemai kembali harapan itu.